“Dekati anak dengan tenang di momen yang tepat. Bersikaplah ingin tahu tanpa menghakimi, dan beri tahu bahwa kamu memperhatikan beberapa hal (seperti luka atau tisu berdarah) yang ingin kamu tanyakan,” ujar Helene D’Jay, MS, LPC, seorang direktur klinis di Newport Academy, dikutip dari Parents.
Cara Mendampingi Anak yang Mengalami Self Harm, Jangan Salah Langkah

Melihat anak melukai dirinya sendiri tentu menjadi pengalaman yang sangat berat bagi orangtua. Rasa khawatir, bingung, bahkan takut sering muncul karena tidak tahu harus bersikap seperti apa. Namun, penting untuk dipahami bahwa self harm bukan sekadar mencari perhatian, melainkan cara anak mengekspresikan rasa sakit emosional yang sulit mereka ungkapkan.
Sebagian besar anak yang melakukan self harm sebenarnya tidak berniat mengakhiri hidupnya. Mereka justru sedang berjuang menghadapi emosi yang terasa terlalu berat untuk diproses sendiri. Di sinilah peran orangtua menjadi sangat penting, yaitu hadir sebagai pendamping yang aman, bukan sebagai penghakim. Berikut cara mendampingi anak yang mengalami self harm.
1. Bangun komunikasi yang tenang dan tidak menghakimi

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membuka komunikasi dengan cara yang tenang. Hindari langsung memarahi atau menginterogasi anak karena hal ini justru bisa membuat mereka semakin menutup diri. Pilih waktu yang tepat, lalu ajak anak berbicara secara perlahan dan penuh empati.
Cobalah untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Biarkan anak mengungkapkan perasaannya tanpa takut dihakimi atau disalahkan. Sikap terbuka ini akan membantu anak merasa lebih aman untuk jujur tentang apa yang mereka alami.
2. Bantu anak mengenali emosi dan pemicunya

Banyak anak yang melakukan self harm sebenarnya kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosinya. Mereka mungkin merasa sedih, marah, atau cemas, tetapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Akibatnya, emosi tersebut diluapkan melalui tindakan menyakiti diri sendiri.
“NSSI (Non-Suicidal Self-Injury) sering digunakan sebagai mekanisme koping saat seseorang mengalami tekanan emosional yang sangat berat dan tidak mampu menggunakan cara yang lebih sehat untuk mengatasinya,” Deepak Prabhakar, MD, MPH, seorang Direktur Medis Layanan Rawat Jalan untuk Sheppard Pratt, dikutip dari Parents.
Orangtua bisa membantu dengan mengajak anak mengenali apa yang mereka rasakan dan kapan perasaan itu muncul. Misalnya, saat menghadapi ujian, konflik dengan teman, atau tekanan di rumah. Dengan memahami pemicunya, anak akan lebih siap mengelola emosi sebelum dorongan self harm muncul.
3. Sediakan alternatif penyaluran emosi yang lebih aman

Self harm sering kali menjadi jalan keluar karena anak tidak memiliki alternatif lain. Oleh karena itu, penting untuk membantu mereka menemukan cara yang lebih sehat untuk menyalurkan emosi. Aktivitas sederhana seperti menulis jurnal, menggambar, atau mendengarkan musik bisa menjadi awal yang baik.
Selain itu, aktivitas fisik seperti berlari, menari, atau sekadar memukul bantal juga bisa membantu meredakan emosi. Beberapa teknik lain seperti memegang es batu atau merobek kertas juga dapat mengalihkan dorongan untuk melukai diri. Intinya, anak perlu tahu bahwa ada banyak cara lain untuk merasa lebih baik tanpa menyakiti diri sendiri.
“Ketika mereka menyadari bahwa hal itu membuat mereka merasa lebih baik, mereka cenderung mengulanginya saat merasa sedih atau kewalahan,” Benedicto Borja, MD, seorang psikiater, dikutip dari Parents.
4. Berikan dukungan, bukan tekanan

Menghentikan self harm bukanlah proses yang instan. Banyak anak mengalami naik turun dalam proses pemulihan, dan itu adalah hal yang wajar. Orangtua perlu memahami bahwa perubahan membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan.
Alih-alih memberi ultimatum atau tekanan, cobalah untuk tetap hadir dan mendukung. Tunjukkan bahwa orangtua ada untuk mereka, apa pun yang terjadi. Dukungan yang konsisten akan membantu anak merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.
5. Ciptakan lingkungan yang lebih aman

Selain dukungan emosional, orangtua juga perlu memastikan lingkungan sekitar anak lebih aman. Salah satunya dengan membatasi akses terhadap benda-benda yang bisa digunakan untuk melukai diri. Langkah ini bukan untuk mengontrol, tetapi untuk melindungi anak saat dorongan muncul.
Di sisi lain, ciptakan suasana rumah yang nyaman dan terbuka. Anak perlu merasa bahwa rumah adalah tempat aman untuk kembali, bukan tempat yang membuat mereka semakin tertekan. Lingkungan yang suportif dapat membantu mempercepat proses pemulihan.
6. Jangan ragu mencari bantuan profesional

Self harm sering kali berkaitan dengan masalah emosional yang lebih dalam, seperti depresi atau kecemasan. Karena itu, bantuan profesional sangat dibutuhkan untuk memahami akar permasalahannya. Terapis atau psikolog dapat membantu anak menemukan cara yang lebih sehat dalam mengelola emosi.
Orangtua juga bisa mendapatkan arahan yang lebih tepat dalam mendampingi anak. Dengan penanganan yang sesuai, peluang pemulihan akan jauh lebih besar. Yang terpenting, anak tidak harus menghadapi semua ini sendirian.
Mendampingi anak yang mengalami self harm memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dengan kesabaran, pemahaman, dan dukungan yang tepat, anak bisa belajar menghadapi emosinya dengan cara yang lebih sehat. Perjalanan ini mungkin panjang, tetapi setiap langkah kecil tetap berarti.


















