Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bangkit dari Trauma: Cara Orangtua Kuatkan Anak Korban Kekerasan

Bangkit dari Trauma: Cara Orangtua Kuatkan Anak Korban Kekerasan
ilustrasi anak dan orang tua (unsplash.com/Guillaume de Germain)

Trauma akibat kekerasan pada anak bukan sekadar luka yang terlihat, tetapi juga meninggalkan bekas mendalam pada emosi dan perkembangan mental. Banyak anak yang tampak baik-baik saja, padahal di dalam dirinya masih tersimpan rasa takut, cemas, bahkan kehilangan rasa aman. Jika tidak ditangani dengan tepat, trauma ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara anak melihat dunia.

Peran orangtua menjadi sangat penting dalam proses pemulihan ini. Anak yang mengalami kekerasan membutuhkan bukan hanya perlindungan, tetapi juga dukungan emosional yang konsisten.

1. Memahami dampak trauma pada anak

Ilustrasi pengasuhan anak dan orangtua (unsplash.com/Nienke Burgers)
Ilustrasi pengasuhan anak dan orang tua (unsplash.com/Nienke Burgers)

Trauma pada anak tidak selalu terlihat secara langsung. Banyak anak menunjukkan perubahan perilaku seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau bahkan kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Ini adalah tanda bahwa mereka sedang berjuang secara emosional.

Dalam jurnal National Library of Medicine berjudul Impact of trauma on children, dijelaskan trauma pada anak bisa menyebabkan perkembangan gangguan stres pascatrauma serta berbagai gangguan psikiatrik lainnya. Hal ini termasuk depresi, gangguan kecemasan umum, serangan panik, gangguan kepribadian ambang, dan penyalahgunaan zat pada penyintas trauma dewasa.

Hal ini menunjukkan bahwa trauma bukan hal sepele dan bisa berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, memahami dampak trauma adalah langkah pertama yang sangat penting bagi orangtua.

2. Menciptakan lingkungan aman dan penuh kasih

ilustrasi anak dan orang tua bermain layang-layang (pexels.com/PNW Production)
ilustrasi anak dan orang tua bermain layang-layang (pexels.com/PNW Production)

Anak yang mengalami trauma membutuhkan rasa aman sebagai fondasi utama pemulihan. Lingkungan yang tenang, stabil, dan penuh kasih dapat membantu anak perlahan membuka diri dan merasa terlindungi kembali.

"Menciptakan ruang aman bagi anak-anak yang mengalami trauma sangat penting untuk penyembuhan dan perkembangan mereka. Mulai dari membangun kepercayaan hingga mendorong ekspresi emosional," jelas psikolog Leona Kashersky, Psy.D. dikutip dari River City Therapy.

Jadi, suasana rumah harus menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk kembali pulih. Tidak hanya itu, hubungan antara orangtua dan anak juga harus diperkuat. Kedekatan emosional dan rasa percaya menjadi kunci utama dalam membantu anak melewati trauma.

"Kepercayaan adalah dasar dari setiap hubungan, sangat penting bagi anak-anak yang telah mengalami trauma. Membangun kepercayaan dimulai dengan konsistensi. Ketika anak-anak tahu bahwa mereka dapat mengandalkan orang dewasa untuk hadir dan dapat diprediksi, mereka merasa lebih aman dan terlindungi," jelas Leona.

3. Mendengarkan dan memvalidasi perasaan anak

ilustrasi anak dan orangtua (pexels.com/olia danilevich)
ilustrasi anak dan orangtua (pexels.com/olia danilevich)

Banyak orangtua tanpa sadar mengabaikan perasaan anak dengan mengatakan “jangan dipikirkan” atau “itu sudah lewat”. Padahal, anak justru membutuhkan ruang untuk bercerita dan didengar tanpa dihakimi. Pengalaman traumatis sering membuat anak kesulitan mengekspresikan emosinya. Ini berarti orangtua perlu lebih sabar dan tidak memaksa.

"Menciptakan lingkungan komunikasi terbuka sangat penting bagi anak-anak yang terkena trauma. Ketika anak-anak merasa aman untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka, hal itu dapat sangat membantu penyembuhan emosional mereka," kata Leona.

"Mendorong mereka untuk berbagi tanpa takut dihakimi dapat menumbuhkan hubungan yang lebih dalam antara pengasuh dan anak. Untuk memfasilitasi hal ini, cobalah menggunakan pertanyaan terbuka dan mendengarkan tanggapan mereka secara aktif," sarannya.

Mendengarkan dengan empati membantu anak merasa dihargai. Validasi sederhana seperti “kamu pasti merasa takut waktu itu” bisa membuat anak merasa dimengerti. Dari sinilah proses penyembuhan emosional mulai terbentuk.

4. Mendampingi dengan pendekatan profesional

Ilustrasi mengasuh anak (pexels.com/www.kaboompics.com)
Ilustrasi mengasuh anak (pexels.com/www.kaboompics.com)

Tidak semua trauma bisa diselesaikan hanya dengan dukungan keluarga. Dalam banyak kasus, anak membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog atau terapis untuk membantu memproses pengalaman traumatisnya.

"Ketika perilaku atau gejala tampak sulit dikendalikan atau mengganggu fungsi dasar anak (akademik, sosial, atau emosional), penting untuk mencari layanan kesehatan mental profesional dengan klinis yang memahami trauma," saran psikolog klinis Nicole Hisaka, Psy.D. dikutip dari Help Guide.

Selain itu, terapi juga membantu mencegah dampak jangka panjang. Tanpa penanganan yang tepat, trauma bisa berkembang menjadi kecemasan, depresi, atau gangguan perilaku di masa depan. Karena itu, mencari bantuan ahli bukan tanda kelemahan, tetapi langkah penting untuk pemulihan.

5. Menguatkan mental dan kepercayaan diri anak

ilustrasi anak dan orang tua (unsplash.com/Guillaume de Germain)
ilustrasi anak dan orang tua (unsplash.com/Guillaume de Germain)

Setelah melalui pengalaman kekerasan, banyak anak kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak berharga. Di sinilah peran orangtua untuk membangun kembali kepercayaan diri anak secara perlahan. Pasalnya, trauma tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menimbulkan traumatis mendalam yang memerlukan pemulihan emosional secara bertahap.

Artinya, proses ini tidak instan dan butuh waktu. Orangtua bisa mulai dengan memberikan apresiasi kecil, mendukung aktivitas positif, dan menunjukkan bahwa anak tetap berharga. Dengan dukungan yang konsisten, anak akan belajar kembali untuk percaya pada dirinya sendiri dan masa depannya.

"Konsistensi dalam rutinitas, respons, dan bahkan emosi membantu memperkuat rasa aman anak. Penting untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengekspresikan emosi mereka dengan cara yang sehat. Mendorong aktivitas seperti menulis jurnal, proyek seni, atau bahkan berbicara tentang hari mereka dapat bermanfaat," tips dari Leona.

Membantu anak bangkit dari trauma bukanlah proses yang mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Kunci utamanya adalah kesabaran, kasih sayang, dan kemauan untuk benar-benar hadir bagi anak. Orangtua tidak perlu menjadi sempurna, tetapi cukup menjadi tempat yang aman bagi anak untuk kembali merasa utuh.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

Kenapa Banyak Pengasuh Anak Tidak Siap Secara Mental?

26 Apr 2026, 13:00 WIBLife