Kamu ingin melanjutkan studi ke jenjang pendidikan S2? Tentu semangatmu buat terus belajar patut diapresiasi. Kalau bisa, kelak dirimu juga lanjut program S3 agar tugas belajar secara formal benar-benar tuntas.
Fenomena Lulus S2 Susah Dapat Kerja, Apa yang Kudu Dilakukan?

- Melanjutkan S2 sebaiknya berfokus pada pendalaman ilmu, bukan semata-mata jalan cepat mendapat pekerjaan, karena lowongan yang mensyaratkan pendidikan di atas S1 masih terbatas.
- Jika S2 ditujukan untuk peluang kerja, program profesi yang relevan dapat lebih terarah; ijazah pascasarjana juga lebih dibutuhkan untuk karier akademisi atau peneliti.
- Pengalaman kerja sebelum S2 dapat membantu peluang karier dan penerapan studi; selama kuliah, tambah keterampilan seperti bahasa asing agar tetap kompetitif di dunia kerja.
Tingkat pendidikan yang tinggi akan sangat berpengaruh pada cara berpikir serta menyikapi berbagai hal dalam hidup. Namun, kamu barangkali juga masih bimbang. Pasalnya, ada fenomena lulusan S2 yang malah kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Akibatnya, ijazah terakhirnya tidak dipakai. Mereka tetap melamar pekerjaan dengan ijazah S1. Apakah ini artinya kamu perlu membatalkan niat untuk kembali berkuliah? Hindari terburu-buru memutuskan. Meneruskan pendidikan jelas baik. Hanya saja, fenomena lulus S2 susah dapat kerja ini perlu diperhatikan. Berikut beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan.
1. Jangan ambil S2 dengan tujuan utama mencari pekerjaan

ilustrasi wisuda (pexels.com/Pavel Danilyuk) Kamu sudah tahu bahwa tak sedikit lulusan S2 mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan menggunakan ijazah terakhir mereka. Artinya, dirimu jangan ikut-ikutan menempuh S2 sebagai pelarian saat belum juga diterima bekerja di mana pun. Bisa-bisa setelah kamu selesai kuliah, malah kecewa bahkan marah ketika berhadapan dengan realitas yang sama.
Memang sangat sedikit lowongan pekerjaan yang mensyaratkan pendidikan lebih dari strata satu. Malah masih banyak lowongan yang menempatkan lulusan D3 dan S1 dalam satu posisi. Jika dirimu ingin meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, fokus untuk menggali ilmunya lebih dalam.
Soal nantinya kamu memperoleh pekerjaan sesuai ijazah terakhir biar menjadi bonus. Pokoknya tugasmu belajar. Jangan pula terlalu mempermasalahkan bila sekarang atau kelak bidang kerja tetap mengacu pada pendidikan S1-mu.
2. Kalaupun bertujuan S2 buat kerja, ambil profesi bila ada

ilustrasi wisuda (pexels.com/olia danilevich) Sebetulnya, kamu berharap mengambil S2 biar dapat pekerjaan yang lebih baik juga gak salah. Biaya kuliah pascasarjana tidak sedikit. Apalagi jika seluruh biaya ditanggung sendiri dan bukan beasiswa.
Masuk akal kalau kamu sangat tidak ingin proses yang gak gampang itu berujung sia-sia. Pekerjaanmu nantinya mesti mencerminkan pendidikan terakhir. Namun, supaya cita-cita ini tercapai, sebaiknya dirimu lebih spesifik dalam mengambil program profesi.
Seperti profesi psikolog, akuntan, advokat, kenotariatan, dan sebagainya. Namun, ini tentu tergantung pada bidang S1-mu apakah memiliki pendidikan profesi atau tidak. Apabila ada dan dirimu mengambilnya, target pencarian kerja menjadi lebih mudah. Bidang tersebut juga membutuhkan orang-orang dengan latar belakang pendidikan khusus.
3. Kerja dulu baru lanjut studi

ilustrasi hari wisuda (pexels.com/Ben Bouh) Sekarang S2 tidak lagi terasa seistimewa dulu. Makin banyak lulusan S1 yang segera meneruskan studi bahkan sebelum mereka pernah bekerja. Di satu sisi, semangat ini baik.
Selain menambah ilmu, juga memanfaatkan energi masa muda yang masih penuh. Bila usia makin bertambah, sering kali konsentrasi dalam belajar makin menurun. Distraksinya banyak, terutama soal pekerjaan.
Masalahnya, kuliah dua jenjang berturut-turut baru mencari pekerjaan bisa memperkecil peluangmu untuk diterima. Masih banyak lowongan pekerjaan yang menetapkan syarat usia maksimal 26, bahkan 25 tahun. Makin mepet waktu dirimu lulus S2 dengan batas usia loker, apalagi melampauinya, jelas kesempatan diterima mengecil.
Tantangan kerja dulu baru kuliah lagi ialah bernegosiasi dengan atasan agar memperoleh izin. Kamu pun perlu menyesuaikan jadwal sampai jurusan kuliah agar pekerjaan tidak terbengkalai. Juga supaya hasil belajar di jenjang S2 lebih terpakai di kantor. Keuntungannya, kalau kantor ACC, kemungkinan kelak kariermu naik pesat setelah S2 selesai.
4. Ijazah S2 juga lebih berarti kalau kamu jadi akademisi atau peneliti

ilustrasi wisuda (pexels.com/mohd hasan) Bukannya terus belajar tidak penting. Akan tetapi, ijazah S2 cenderung lebih diperlukan apabila kamu ingin menekuni bidang akademik. Seperti dirimu menjadi dosen atau peneliti.
Untuk dua bidang tersebut, pendidikan formal setinggi-tingginya mutlak diperlukan. Sementara bidang kerja lainnya nonprofesi lebih mengacu pada diploma atau S1. Untuk mencegah kamu punya pengalaman serupa, yaitu susah cari kerja pasca-S2, tentukan dulu akan berkiprah di bidang apa.
5. Sambil kuliah S2 tingkatkan skill di berbagai bidang

ilustrasi belajar (pexels.com/RDNE Stock project) Jangan terlalu kaku dalam belajar di jenjang S2. Pastinya kamu butuh mendalami bidang keilmuanmu. Akan tetapi, dirimu juga masih harus menambahnya dengan berbagai skill. Contohnya, sebenarnya bidangmu adalah teknik sipil atau arsitektur.
Kelihatannya prospeknya memang sudah bagus. Namun, kalau dirimu jago bahasa asing, akan lebih baik lagi. Siapa tahu kamu dapat ikut dalam megaproyek yang melibatkan banyak investor dan pekerja asing.
Jangan merasa cepat puas, bangga, dan terlalu percaya diri karena dirimu sedang atau akan mengambil S2. Punya keterampilan lebih banyak seperti tambahan amunisi untuk menghadapi situasi dunia kerja yang mudah berubah. Bila skill-mu kurang, bisa kalah oleh kandidat lain yang keterampilannya lebih banyak walau lulusan S1.
Artikel tentang fenomena lulus S2 susah dapat kerja sama sekali tidak untuk melemahkan keinginanmu untuk melanjutkan studi. Kamu hanya perlu mempertimbangkan lebih banyak hal dan bersikap realistis. Sebab memang tidak ada jaminan lulusan S2 bahkan S3 akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tetap semangat, ya.






















