5 Nasihat Klasik dari Orangtua Ini Justru Bisa Bikin Kariermu Mandek

- Nasihat seperti terlalu rendah hati dapat membuat kontribusi tidak terlihat; pekerja perlu menyampaikan pencapaian dan menawarkan kemampuan secara profesional agar peluang berkembang terbuka.
- Rasa syukur dan menjaga kedamaian tidak berarti menerima semua kondisi; karyawan perlu menegosiasikan apresiasi yang layak, menyampaikan pendapat, serta menetapkan batasan pekerjaan.
- Kompetensi dan kemandirian saja belum cukup; membangun dukungan dengan rekan atau pengambil keputusan, serta meminta bantuan saat diperlukan, membantu perkembangan karier.
Nasihat dari orangtua biasanya diberikan karena mereka ingin kamu tumbuh menjadi pribadi yang baik dan sukses. Banyak nasihat tersebut memang masih relevan, seperti bersikap jujur, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas pekerjaanmu. Namun, beberapa nasihat yang terdengar bijak bisa jadi kurang cocok jika diterapkan mentah-mentah di dunia kerja sekarang.
Pasalnya, lingkungan kerja saat ini menuntut kamu bukan cuma punya kemampuan, tapi juga mampu menunjukkan kontribusi dan menyuarakan kepentinganmu. Kalau terlalu berpegang pada aturan lama, kamu justru bisa kehilangan kesempatan untuk berkembang. Nah, berikut beberapa nasihat klasik yang sebaiknya kamu pertimbangkan kembali agar gak malah menghambat karier.
1. Jangan terlalu membanggakan diri

ilustrasi sukses (magnific.com/magnific) Diajarkan untuk rendah hati tentu bukan hal yang buruk. Kamu memang gak perlu menjadi orang yang selalu mengambil kredit atas pekerjaan tim atau membicarakan pencapaian sendiri setiap saat. Masalahnya, kalau terlalu takut terlihat sombong, kamu bisa jadi jarang menunjukkan apa yang sudah berhasil kamu kerjakan, lho. Akhirnya, orang-orang yang punya wewenang untuk menentukan promosi justru gak mengetahui seberapa besar kontribusimu.
Menurut Melody Wilding, LMSW , executive coach, sekaligus penulis Managing Up: How to Get What You Need from the People in Charge, pemimpin bukanlah pembaca pikiran yang otomatis tahu siapa saja yang memberikan kontribusi besar. Karena itu, kamu tetap perlu menunjukkan pencapaian dengan cara yang profesional tanpa harus terdengar sedang menyombongkan diri. Misalnya, saat berdiskusi dengan atasan, kamu bisa menanyakan proyek yang akan datang dan menawarkan diri untuk membantu bagian yang sesuai dengan kemampuanmu. Cara ini membuatmu terlihat proaktif sekaligus memberi kesempatan kepada atasan untuk melihat kemampuanmu secara langsung.
2. Selalu bersyukur sudah punya pekerjaan

ilustrasi bersyukur (pexels.com/Micah Eleazar) Bersyukur atas pekerjaan yang kamu miliki memang penting, apalagi ketika banyak orang sedang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, rasa syukur bisa menjadi masalah kalau membuatmu menganggap bahwa apa pun yang diberikan perusahaan harus diterima tanpa pertimbangan. Kamu mungkin akhirnya menerima gaji yang gak sebanding dengan tanggung jawab, bertahan di posisi yang sudah gak berkembang, atau menghindari negosiasi karena takut dianggap gak tahu diri.
Padahal, bersyukur dan memperjuangkan hakmu bisa dilakukan secara bersamaan, lho. Kamu tetap bisa menghargai kesempatan yang diberikan perusahaan sambil menjelaskan nilai yang sudah kamu berikan. Daripada hanya mengatakan bahwa kamu mengerjakan banyak tugas, coba jelaskan hasil konkretnya, misalnya bagaimana pekerjaanmu membantu meningkatkan pendapatan, mempercepat proses, atau membuat pekerjaan tim menjadi lebih efisien. Dengan begitu, kamu gak sekadar meminta lebih banyak, tapi menunjukkan alasan mengapa kontribusimu memang layak mendapatkan apresiasi.
3. Jangan bikin masalah, selalu jaga kedamaian

ilustrasi overworked (pexels.com/Ron Lach) Mungkin sejak kecil kamu sering diajarkan untuk gak mencari masalah dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Prinsip tersebut memang bisa membantumu menjadi rekan kerja yang menyenangkan, tapi bukan berarti kamu harus selalu mengiyakan semua hal, ya. Kalau terlalu berusaha menjaga suasana tetap nyaman, kamu bisa terbiasa menahan pendapat, menerima pekerjaan yang bukan tanggung jawabmu, atau membiarkan keputusan yang menurutmu keliru begitu saja.
Dalam jangka panjang, sikap terlalu mengalah justru bisa memengaruhi cara orang lain melihat kemampuanmu. Perlu diketahui, kemampuan menyampaikan pendapat dan menghadapi percakapan sulit merupakan bagian penting untuk membangun kredibilitas. Kamu gak harus menyampaikan ketidaksetujuan dengan cara yang kasar atau membuat suasana kantor menjadi panas. Misalnya, ketika ada pekerjaan yang terus-menerus dibebankan kepadamu padahal seharusnya menjadi tanggung jawab rekan kerja, kamu bisa menetapkan batasan sambil tetap menawarkan bantuan yang masuk akal.
4. Kerjakan pekerjaanmu dengan baik, nanti semuanya mengikuti

ilustrasi bekerja dengan laptop (pexels.com/Burst) Menjadi pekerja yang kompeten tentu penting. Kamu harus menguasai bidangmu, menyelesaikan tugas dengan baik, dan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Akan tetapi, kemampuan teknis saja belum tentu cukup untuk membuat kariermu berkembang lebih cepat. Kalau kamu hanya fokus mengerjakan tugas tanpa membangun hubungan dengan orang-orang yang berpengaruh terhadap keputusan, hasil kerjamu bisa saja kurang terlihat.
Menurut Harvard Business School, dukungan dan keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dapat membantu seseorang mendapatkan dukungan terhadap sebuah gagasan atau proyek. Artinya, kamu gak harus selalu bekerja sendirian lalu berharap hasilnya akan berbicara dengan sendirinya. Cobalah melibatkan rekan atau pengambil keputusan sejak awal dengan meminta pendapat, masukan, atau bantuan untuk menyempurnakan rencanamu. Selain membuat mereka merasa ikut memiliki hasil akhirnya, cara ini juga membantu membangun orang-orang yang percaya pada kemampuanmu.
5. Coba selesaikan semuanya sendiri

ilustrasi sibuk (freepik.com/cookie-studio) Nasihat untuk mandiri memang bisa membuatmu tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan gak gampang menyerah. Kamu terbiasa mencari informasi, mencoba berbagai solusi, dan menyelesaikan masalah tanpa selalu menunggu bantuan orang lain. Namun, kemandirian bisa berubah menjadi jebakan kalau kamu menganggap meminta bantuan sebagai tanda kelemahan. Kamu akhirnya menghabiskan terlalu banyak energi untuk menyelesaikan semuanya sendiri, bahkan ketika sebenarnya ada orang lain yang bisa membantumu.
Kebiasaan seperti ini juga bisa membuat perkembangan kariermu tersendat karena kamu menjadi terlalu dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu. Ketika gak ada orang yang bisa mengambil alih tugasmu, atasan mungkin justru kesulitan memindahkanmu ke tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, saat membutuhkan bantuan, tunjukkan dulu bahwa kamu sudah berusaha dan punya beberapa pilihan solusi sebelum meminta pendapat. Begitu pula ketika rekan kerja datang membawa masalah, jangan buru-buru mengambil alih pekerjaannya, ya, tapi tanyakan apa yang sudah mereka coba dan pilihan apa yang sedang mereka pertimbangkan agar mereka ikut berkembang.
Pada akhirnya, gak semua nasihat dari orangtua harus kamu buang hanya karena dunia kerja sudah berubah. Nilai seperti rendah hati, bersyukur, menjaga hubungan baik, bekerja keras, dan mandiri tetap punya tempat yang penting dalam karier. Hal yang perlu kamu ubah adalah cara menerapkannya supaya nilai-nilai tersebut gak membuatmu terlalu pasif atau takut memperjuangkan perkembangan diri. Jadi, tetaplah rendah hati tanpa menjadi tidak terlihat, bersyukur tanpa meremehkan nilai diri, serta mandiri tanpa takut meminta bantuan ketika memang diperlukan.





















