6 Kekurangan Beli Rumah Nunggu Anak Sudah Besar

- Harga properti semakin mahal, sulit dijangkau dengan pendapatan rata-rata
- Pindah sekolah anak menjadi masalah jika rumah dibeli setelah anak besar
- Kenyamanan saat ini bisa menghambat langkah maju, perlu mempertimbangkan prioritas
Saat kamu belum menikah mungkin ingin sekali beli rumah dulu. Biar setelah dirimu berumah tangga gak sempat merasakan tinggal di rumah mertua atau orangtuamu. Namun, jika target punya rumah sebelum menikah tidak tercapai, akhirnya mundur menjadi setelahnya saja.
Akan tetapi, ternyata rencana itu kembali tertunda karena pemikiran mending beli rumahnya ketika anak sudah besar. Mungkin saat mereka SMA bahkan kuliah. Dasar pemikirannya, tugasmu membiayai anak sebentar lagi selesai.
Kamu dan pasangan dapat fokus membayar cicilan rumah atau leluasa memakai tabungan buat beli cash. Namun, ada sejumlah kekurangan beli rumah nunggu anak sudah besar. Pikirkan baik-baik bersama pasanganmu untuk menyusun skala prioritas.
1. Jelas harga properti kian mahal

Sekarang saja kalau kamu mengikuti iklan perumahan atau rumah lama yang dijual pasti cukup kaget dengan harganya. Harga rumah gak sebanding dengan rata-rata pendapatan masyarakat. Cuma orang-orang tertentu yang bisa membelinya cash.
Membeli rumah dengan KPR saja banyak orang merasa berat di tengah jalan. Bayangkan beberapa tahun dari sekarang. Katakanlah anakmu baru lahir. Dirimu dan pasangan ingin membeli rumah setelah anak berusia 17 tahun.
Dalam rentang waktu itu, harga properti sudah berlipat-lipat. Apakah pendapatan kalian dapat mengimbanginya? Jangan-jangan akhirnya dirimu cuma bisa gigit jari. Tabungan yang selama ini digadang-gadang bakal beli rumah masih kurang banyak.
2. Mesti memindahkan sekolah anak

Jika anakmu belum bersekolah, ibaratnya dia bisa dibawa pindah ke mana pun. Kamu tak perlu repot-repot mencarikannya sekolah baru. Urusan pindah sekolah begini gak segampang bayangan. Misal, keluargamu biasa mengontrak di kawasan kota.
Sekolah-sekolah sangat modern. Namun, ketika kalian ingin membeli rumah ternyata harga rumah yang masuk bujet terletak di daerah pinggiran. Apakah anakmu mau bersekolah di sana?
Jangankan anak, dirimu serta pasangan pun gak menyukai opsi tersebut. Kalian bakal lebih mudah beradaptasi dengan pilihan sekolah yang ada di pinggiran jika membeli rumah lebih awal. Anak juga tak mengalami drama mesti berpisah dari kawan-kawan sekolahnya serta mencari teman baru.
3. Kamu, pasangan, dan anak sudah terlalu nyaman di tempat sekarang

Kenyamanan akan melenakan kalian. Nyaman tak selalu berarti tempat tinggal yang sekarang terbaik. Sering kali ini cuma soal kebiasaan. Kalian sudah sangat mengenal lingkungannya.
Pindah ke tempat lain walaupun ke rumah pribadi rasanya kurang menyenangkan. Kenyamanan semu seperti ini menahan langkah maju dalam hidup kalian sebagai sebuah keluarga. Setiap pilihan tempat tinggal lain terasa gak sebaik kontrakan atau rumah mertua.
Padahal, tarif kontrakan terus naik. Kalian juga gak leluasa menatanya sesuai keinginan. Demikian pula rumah orangtua sebenarnya terlalu banyak penghuninya. Seandainya kalian berani membeli rumah lebih cepat, rasa nyaman juga bakal terbangun seiring masa adaptasi terlewati dengan baik.
4. Biaya anak makin besar

Bayanganmu tentang biaya anak makin kecil setelah mereka besar sehingga membeli rumah lebih mudah bisa gak sesuai dengan realitas. Justru biaya anak tambah gede tambah banyak. Les yang perlu atau ingin diikutinya bertambah ketimbang saat ia kecil.
Belum kebutuhannya akan kendaraan pribadi seperti sepeda motor. Nanti biaya kuliah anak juga berlipat-lipat daripada ketika dia SMA. Kamu dan pasangan baru benar-benar bebas tanggungan setelah anak memperoleh pekerjaan yang bagus.
Sedang ketika anak masih kecil, biayanya relatif lebih sedikit. Namun, sering kali godaan di masa ini ialah keinginan orangtua menyenangkan anak secara berlebihan. Seperti kalian terus mengajak anak berlibur meski kelak dia juga tak mengingatnya. Uang yang sebenarnya dapat dikumpulkan untuk membeli rumah mumpung anak belum bersekolah mengalir ke luar begitu saja.
5. Dirimu dan pasangan punya tugas dobel, menyiapkan dana pensiun

Tempat tinggal memang kebutuhan primer manusia. Namun, kebutuhanmu bukan hanya rumah. Makin bertambah usiamu dan pasangan, masa pensiun makin dekat. Bahkan sekalipun kalian bukan karyawan kantor, tetap suatu saat nanti terlalu lemah buat terus mencari uang.
Kalian perlu membangun dana pensiun supaya bisa tetap hidup sejahtera tanpa membebani anak. Bila rumah sudah dibeli ketika kalian lebih muda, habis itu tinggal fokus dana pensiun. Penundaan pembelian rumah bikin dirimu gak punya cukup waktu buat menyiapkan dana pensiun.
Rumah barangkali tetap terbeli. Akan tetapi, sehabis itu kalian bingung mau menyambung hidup dengan uang dari mana. Biaya makan dan pengeluaran rutin masih jalan. Di lain sisi, biaya kesehatan mengalami lonjakan.
6. Tidak memiliki banyak waktu buat menikmati rumah yang dibeli

Rumah dibeli tidak hanya sebagai tempat berlindung dari panas serta hujan plus membesarkan anak-anak. Kamu dan pasangan juga semestinya dapat menikmati kenyamanan berada di rumah sendiri. Itu hasil jerih payah kalian.
Namun, kalau rumah baru dibeli ketika usia kalian sudah senja, kesempatan menikmatinya menjadi lebih singkat. Kerja keras kalian begitu panjang, tapi masa menikmati rumah sendiri cuma sesaat. Masa tua yang memayahkan keburu datang dan mungkin tak lama kemudian kalian tutup usia.
Pun anak-anak sudah keburu merantau sendiri-sendiri. Rumah sebagus apa pun yang dibeli terasa sepi. Bayangan ini memang menakutkan. Namun, pantas menjadi bahan pertimbanganmu bersama pasangan. Jika kalian membeli rumah di usia yang lebih muda, baik kalian maupun anak-anak dapat menikmatinya lebih lama.
Beli rumah memang tak perlu terburu-buru sampai kamu gak mempertimbangkan kesiapan finansial. Meski begitu, bila dalam waktu dekat dirimu mampu membelinya, sebaiknya disegerakan. Hal ini dikarenakan ada kekurangan beli rumah nunggu anak sudah besar.



















