- tidak memiliki rencana belanja yang jelas;
- belanja karena keinginan, bukan kebutuhan;
- terlalu banyak pengeluaran kecil yang tidak terasa.
5 Tanda Keuangan Rumah Tangga Tidak Sehat yang Sering Diabaikan

- Keuangan rumah tangga yang tidak sehat sering ditandai uang cepat habis, utang untuk kebutuhan pokok, dan ketiadaan dana darurat.
- Konflik soal uang dan gaya hidup yang ikut naik saat gaji bertambah menunjukkan pengelolaan finansial yang rapuh.
- Pengeluaran kecil yang dibiarkan bisa menumpuk jadi masalah besar, tetapi masih bisa diperbaiki dengan komunikasi dan perencanaan.
Keuangan rumah tangga bisa jadi topik yang sensitif untuk dibahas. Banyak pasangan yang merasa aman-aman saja, padahal sebenarnya kondisi finansial mereka sedang tidak sehat. Masalahnya, tanda-tanda ini sering muncul pelan-pelan dan dianggap sepele. Tahu-tahu, tabungan habis, utang menumpuk, dan tanggal gajian terasa lama.
Keuangan rumah tangga yang sehat itu bukan soal gaji besar atau kecil. Namun, ini soal bagaimana uang dikelola, dibagi, dan dipakai dengan sadar. Nah, agar kamu bisa lebih waspada, yuk, lihat apa saja tanda-tanda keuangan rumah tangga yang mulai tidak sehat.
1. Uang selalu habis pas tengah bulan

Kalau tanggal masih belasan, tapi saldo sudah tinggal recehan, itu alarm pertama. Itu berarti pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Biasanya, beberapa penyebabnya:
Awalnya, bentuk pengeluaran mungkin hanya untuk jajan kopi, ongkir, atau checkout lucu-lucuan. Namun, kalau dibiarkan, lama-lama itu bisa bikin dompet megap-megap. Solusinya, mulai catat semua jenis pengeluaran agar kamu lebih sadar sebelum belanja apa pun.
2. Utang untuk kebutuhan sehari-hari

Utang itu wajar asal untuk hal produktif atau darurat. Namun, kalau utang dipakai untuk beli makan, bayar listrik, atau sekadar bertahan hidup sampai gajian, itu tandanya kondisi finansial sedang tidak stabil. Beberapa contoh kebiasaan utang yang tidak sehat:
- pakai paylater untuk makan,
- gesek kartu kredit untuk kebutuhan pokok,
- pinjam sana sini untuk bayar utang yang lain.
3. Tidak punya dana darurat sama sekali

Dana darurat itu ibarat payung. Ia dipakai bukan waktu hujan deras saja, tapi juga waktu gerimis dadakan. Kalau rumah tangga tidak punya dana darurat sama sekali atau selalu panik tiap ada kejadian tak terduga, itu artinya kondisi finansial masih belum aman.
Idealnya, dana darurat berjumlah 3–6 kali pengeluaran bulanan. Namun, kalau jumlahnya belum segitu, tidak apa-apa. Yang penting, selalu ada uang sisa untuk dipakai saat kejadian darurat.
4. Sering bertengkar soal uang

Uang kerap jadi sumber konflik terbesar dalam rumah tangga. Kalau tiap bulan kamu dan pasangan ribut karena uang, berarti kondisi keuangan kalian sedang tidak sehat. Selain itu, komunikasi finansial juga masih belum baik. Ingat, uang itu harusnya jadi alat bantu, bukan sumber stres.
5. Gaji naik, tapi tetap sulit menabung

Ini disebut lifestyle inflation. Begitu penghasilan naik, gaya hidup juga ikut naik. Contoh lifestyle inflation yang sering tidak disadari:
- dulu ngopi saset, sekarang tiap hari minum di kedai kopi;
- dulu masak, sekarang hampir tiap hari beli;
- dulu puas nonton di rumah, sekarang tiap akhir pekan harus tamasya ke luar.
Masalahnya, kalau pengeluaran naik seiring penghasilan tanpa kontrol, kondisi keuangan tetap rapuh. Idealnya, meski gaji naik, gaya hidup tidak naik atau naik sedikit saja. Hanya dengan cara inilah, kamu bisa menyisihkan uang untuk tabungan.
Keuangan rumah tangga yang tidak sehat itu jarang datang tiba-tiba. Biasanya, itu muncul pelan-pelan lewat kebiasaan kecil yang dianggap sepele. Dari malas mencatat pengeluaran, boros sedikit-sedikit, sampai utang jadi solusi utama.
Kabar baiknya, semua tanda ini bisa diperbaiki, mulai dari diskusi terbuka dengan pasangan, membuat anggaran sederhana, sampai mulai menyisihkan uang walau sedikit demi sedikit. Karena rumah tangga yang kuat itu bukan cuma soal cinta, tapi juga soal kerja sama, termasuk kerja sama mengatur uang. Kamu siap berbenah?


















