Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dear Orangtua, Ketahui tentang Tonggak Perkembangan Anak!
ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/rdne)
  • Tonggak perkembangan menjadi panduan memantau kemampuan motorik, sosial, emosional, dan komunikasi, bukan ujian mutlak karena tiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda.
  • Orangtua dianjurkan fokus pada kebutuhan, minat, dan kemajuan anak dari waktu ke waktu, alih-alih membandingkan pencapaiannya dengan teman sebaya.
  • Dokter anak dapat melakukan skrining perkembangan dan menentukan dukungan yang diperlukan; orangtua juga bisa mendukung anak lewat bermain, berbicara, membaca, serta memberi kesempatan berlatih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suatu hari, orangtua mungkin melihat anak tetangga yang seusia dengan si kecil sudah lancar berjalan. Sementara itu, anaknya sendiri masih asyik merangkak dan belum menunjukkan tanda-tanda ingin melangkah. Belum selesai memikirkan hal itu, muncul lagi pertanyaan, “Kok, anak orang lain sudah bisa ngomong, ya?” atau “Perkembangan anakku normal gak, sih?”

Tanpa sadar, orangtua bisa merasa cemas karena membandingkan perkembangan anak dengan teman sebayanya. Padahal, setiap anak punya kecepatan perkembangan berbeda, sehingga tonggak perkembangan sebaiknya menjadi panduan, bukan patokan mutlak. Supaya gak terus-terusan overthinking,  kenali hal-hal penting tentang tonggak perkembangan anak berikut ini!

1. Tonggak perkembangan merupakan panduan, bukan ujian bagi anak

ilustrasi orangtua bermain bersama anak (pexels.com/gustavo-fring)

Tonggak perkembangan anak atau developmental milestones merupakan panduan untuk memantau kemampuan motorik, sosial, emosional, dan komunikasi si kecil. Dikutip dari Parents, pada 2022, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperbarui panduannya dengan menetapkan indikator berdasarkan kemampuan yang telah dicapai oleh setidaknya 75 persen anak pada usia tertentu.

Anak yang belum mencapai tonggak perkembangan sesuai jadwal gak selalu membutuhkan intervensi karena dokter perlu mengevaluasi kondisinya secara menyeluruh. Karena itu, daftar periksa sebaiknya digunakan untuk mengenali kebutuhan anak, bukan sebagai ujian untuk menentukan apakah perkembangannya lebih cepat atau lambat.

“Tonggak perkembangan adalah alat bantu, bukan ujian,” ujar Marlo Lenox McIlraith, MD, FAAP, dokter anak di Oregon Health & Science University, dikutip dari Parents.

2. Orangtua gak perlu terus-menerus membandingkan perkembangan anak

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Monstera Production)

Membandingkan perkembangan anak dengan teman sebaya bisa membuat orangtua cemas ketika si kecil belum menguasai keterampilan tertentu. Padahal, setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, sehingga orangtua gak perlu terpaku pada jadwal pencapaian atau menganggap anak yang lebih cepat berkembang pasti lebih unggul.

Alih-alih membandingkan, orangtua sebaiknya berfokus pada kebutuhan, minat, dan kemajuan si kecil. Dengan mengamati perkembangannya dari waktu ke waktu, orangtua dapat memahami kemampuan yang sudah dikuasai dan keterampilan yang masih perlu didukung tanpa memberi tekanan berlebihan.

“Tonggak perkembangan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa anak yang melakukan sesuatu lebih awal lebih baik daripada anak yang melakukannya lebih lambat,” ujar Megan Prior, MD, dokter anak bersertifikat dan anggota Dewan Pengasuhan Anak Usia Dini di American Academy of Pediatrics, dikutip dari Parents.

3. Dokter anak dapat membantu memantau tumbuh kembang si kecil

ilustrasi ibu dan anak-anak sedang memasak bersama (pexels.com/elly-fairytale)

Dokter anak dapat mengevaluasi perkembangan si kecil saat pemeriksaan rutin, sehingga orangtua gak perlu memantau setiap tonggak secara berlebihan. Salah satu alat skrining yang dapat digunakan adalah Ages and Stages Questionnaire (ASQ) untuk mengidentifikasi aspek perkembangan yang mungkin membutuhkan perhatian lebih.

Melalui penilaian tersebut, dokter dapat menentukan apakah anak memerlukan pemeriksaan tambahan atau dukungan untuk mengembangkan kemampuan motorik dan komunikasi. Jika diperlukan, intervensi dini dapat membantu anak memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya, sehingga orangtua gak harus menebak-nebak sendiri langkah yang perlu dilakukan.

4. Anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih keterampilan baru

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)

Anak mungkin membutuhkan waktu untuk menguasai keterampilan baru, seperti minum dari cangkir terbuka, berjalan, atau menggunakan kata-kata. Karena itu, berikan kesempatan kepada si kecil untuk mencoba dan berlatih melalui kegiatan sehari-hari tanpa menuntutnya langsung mahir.

Menurut Jennifer F. Cross, MD, dokter anak sekaligus pakar pediatri perkembangan dan perilaku, dikutip dari NewYork-Presbyterian, latihan membantu anak mempelajari keterampilan baru. Namun jika anak belum menguasainya setelah berlatih selama beberapa minggu, orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut.

“Anak-anak harus belajar dengan berlatih keterampilan, sama seperti orang lain. Namun, harapannya adalah bahwa setelah diberi kesempatan untuk berlatih, anak seharusnya dapat mempelajari keterampilan tersebut dalam beberapa minggu,” ujar Jennifer F. Cross.

5. Orangtua bisa mendukung perkembangan anak lewat aktivitas sehari-hari

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/gustavofring)

Mendukung tumbuh kembang anak gak harus melalui latihan khusus. Orangtua bisa mengajak si kecil bermain, berbicara, membaca buku, atau menjelajahi lingkungan sekitar untuk melatih keterampilannya sekaligus mengamati perkembangannya.

Kegiatan bersama juga membantu orangtua memahami cara anak berkomunikasi, merespons lingkungan, dan berinteraksi dengan orang lain. Ikuti minat si kecil dan kenalkan pengalaman baru tanpa menjadikan setiap aktivitas sebagai tes kemampuan agar proses belajar terasa lebih menyenangkan.

“Bermainlah bersama mereka, berbicaralah dengan mereka, dan jelajahi berbagai hal bersama mereka. Hal itu jauh lebih produktif daripada hanya mengamati dan mengkhawatirkan mereka,” ujar Jennifer.

Setiap anak punya proses tumbuh kembang yang berbeda, jadi orangtua gak perlu sibuk membandingkan pencapaiannya dengan anak lain. Yuk, nikmati setiap prosesnya, tetap pantau perkembangannya, dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika si kecil membutuhkannya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article