Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Tantrum? Kenali 3 Jenis Luapan Emosi Ini, Jangan Langsung Dicegah

4 min read
Anak Tantrum? Kenali 3 Jenis Luapan Emosi Ini, Jangan Langsung Dicegah
ilustrasi anak tantrum (pexels.com/Keira Burton)
  • Tantrum protes muncul saat anak merasa kehilangan kendali atau aman; orangtua perlu tetap tenang, menunjukkan empati, dan menetapkan batasan terhadap perilaku berbahaya.
  • Tantrum pelepasan emosi dapat terjadi ketika anak meluapkan stres yang tertahan di lingkungan aman; pendampingan tenang dan kehadiran penuh lebih dianjurkan daripada pengalihan paksa.
  • Saat anak melempar atau membanting benda, orangtua perlu mengamankan lingkungan, menghentikan tindakan berisiko, tetap mendampingi, lalu membantu mengenali emosi setelah anak tenang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Terdengar suara nyaring yang membuat seorang perempuan dewasa bergegas menghampiri sumbernya. Suara tersebut ternyata berasal dari si kecil yang tengah menangis sambil berpegangan pada nakas kayu berisi berbagai mainan. Melihat anak kesulitan menjangkau mainan yang diinginkannya, sang ibu segera membantu mengambil benda tersebut.

Tidak butuh waktu lama, tangisan mulai mereda dan berganti dengan celotehan kecil yang terdengar samar. Beberapa saat kemudian, tangisan kembali terdengar, kali ini lebih keras meski mainan yang diinginkannya sudah berada dalam genggaman. Ibu mencoba meraih tubuh mungil itu dan memeluknya sambil memberikan usapan lembut.

Ia tidak buru-buru meminta anak berhenti menangis atau mengalihkan perhatiannya dengan cara lain. Sebaliknya, ibu berusaha tetap berada di dekatnya agar si kecil merasa aman saat menghadapi luapan emosinya. Sebab, di balik tangisan yang terdengar begitu keras, ada perasaan yang belum mampu diungkapkan anak melalui kata-kata.

  1. 1. Fase tantrum protes

    ilustrasi anak mengamuk
    ilustrasi anak mengamuk (pexels.com/mohamed abdelghaffar)

    Tangisannya mulai bercampur dengan penolakan. Kaki kecil itu menendang-nendang udara, sementara kedua lengannya bergerak berusaha melepaskan diri dari dekapan ibu. Teriakan pun terdengar semakin keras, seolah-olah si kecil sedang memprotes sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Melihat kondisi tersebut, ibu mencoba memberi ruang agar anak dapat mengekspresikan emosinya tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

    Alih-alih membalas teriakan dengan suara yang lebih keras, ibu berusaha menjaga sikap tetap tenang. Ia tidak memaksa anak untuk segera diam, tetapi juga tidak membiarkan perilaku yang membahayakan terjadi. Dengan suara lembut, ibu mencoba menunjukkan bahwa ia memahami kekecewaan anak sambil tetap memberikan batasan yang jelas. Alhasil, si kecil tetap merasa didampingi meski keinginannya tidak selalu dapat dipenuhi.

    “Tantrum protes merupakan respons perlawanan dari sistem saraf. Ketika anak merasa kehilangan kendali atau rasa aman, otak dapat meresponsnya sebagai ancaman dan memicu reaksi melawan. Dalam situasi ini, orangtua perlu berusaha tetap tenang karena ketenangan dapat membantu anak merasa lebih aman. Selain itu, tunjukkan empati sekaligus berikan batasan yang jelas agar anak memahami bahwa perasaannya diterima, tetapi perilaku yang membahayakan tetap tidak diperbolehkan,” ungkap Lauren Greeno, spesialis perkembangan anak dan remaja, dikutip dari The Parenting Collaborative.

  2. 2. Fase tantrum pelepasan emosi

    ilustrasi anak menangis
    ilustrasi anak menangis (pexels.com/Yan Krukau)

    Setelah beberapa saat, suara tangis kembali terdengar dengan isakan yang semakin kuat. Air mata membasahi pipinya, wajahnya memerah, dan tubuh mungilnya terlihat kesulitan menenangkan diri. Kali ini, ibu menyadari bahwa si kecil mungkin sedang meluapkan emosi yang selama ini belum mampu ia ungkapkan. Ia pun memilih tetap berada di dekat anak tanpa terburu-buru menyuruhnya berhenti menangis.

    Ibu tidak berusaha memperbaiki keadaan dengan memberikan banyak nasihat atau mengalihkan perhatian anak secara paksa. Ia tetap mendampingi si kecil dengan posisi yang nyaman, menawarkan pelukan apabila anak menginginkannya, dan memastikan lingkungan di sekitarnya aman. Ibu memahami bahwa anak mungkin belum mampu menjelaskan apa yang dirasakan, sehingga kehadiran orang dewasa yang tenang dapat membantunya melewati momen tersebut.

    “Tantrum pelepasan emosi dapat terjadi ketika anak menahan stres sepanjang hari hingga akhirnya berada bersama orang dewasa atau di lingkungan yang membuatnya merasa aman. Tubuhnya kemudian melepaskan emosi yang sebelumnya belum mampu ia ungkapkan. Dalam situasi ini, jangan buru-buru memperbaiki keadaan atau mengalihkan perhatiannya. Cobalah hadir sepenuhnya untuk mendampingi anak. Ia mempercayai kamu untuk mendukungnya, sehingga kamu bisa menjadi tempat aman baginya untuk melepaskan emosi yang dirasakan,” tambah Lauren.

  3. 3. Fase tantrum pengalihan emosi

    Ilustrasi belajar memahami perasaan anak
    Ilustrasi belajar memahami perasaan anak (pexels.com/Jep Gambardella)

    Tangisannya mulai mereda, tetapi tangan mungilnya justru meraih benda-benda yang berada di sekitarnya. Kali ini, ia tidak menggunakannya untuk bermain, melainkan melemparkannya ke berbagai arah. Sebuah mainan yang berada dalam genggamannya bahkan dibanting ke lantai. Ibu melihat bahwa meski tangisan sudah tidak sekeras sebelumnya, si kecil masih kesulitan mengelola perasaan yang sedang dialaminya.

    Anak mungkin sedang melampiaskan perasaan yang belum mampu ia pahami atau ungkapkan melalui kata-kata. Dalam kondisi seperti ini, ibu tidak perlu langsung memarahinya atau memaksakan penjelasan panjang. Namun, ia tetap perlu menghentikan tindakan yang dapat melukai anak maupun orang lain. Ibu bisa menjauhkan benda-benda berbahaya, tetap berada di dekat si kecil, dan memberinya waktu untuk kembali merasa tenang sebelum mengajaknya memahami apa yang terjadi.

    “Setelah tahap fisik berakhir, fase berikutnya adalah kesedihan. Anak mungkin merasa sedih atau takut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia ingin kembali terhubung dengan orangtua, dihibur, dan merasa nyaman. Tetaplah hadir secara fisik dan emosional. Anak mungkin menginginkan pelukan, ingin duduk di pangkuan, atau sekadar menangis sambil ditemani,” kata Ty Hatfield, instruktur parenting, dilansir Parenting from the Heart.

    Perlahan, tangisannya mereda saat ibu kembali menawarkan pelukan dan mengusap lembut kepalanya. Ibu juga menyingkirkan benda-benda yang berpotensi membahayakan, kemudian memberikan kata-kata yang menenangkan tanpa meninggalkan si kecil sendirian.

    Setelah anak lebih tenang, ibu dapat membantunya mengenali perasaan yang baru saja dialami dan menjelaskan batasan perilaku yang aman. Ibu memahami bahwa mendampingi tantrum bukan berarti membiarkan semua perilaku anak, melainkan menerima emosinya sambil membantunya belajar mengelola perasaan dengan cara yang lebih aman.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More