Belakangan, semakin banyak orangtua mulai memilih rumah yang terasa lebih tenang dibanding penuh suara televisi, gadget, atau mainan yang terus berbunyi. Bukan karena ingin membatasi anak bereksplorasi, tetapi karena mereka mulai menyadari bahwa terlalu banyak rangsangan justru bisa membuat anak lebih mudah lelah, sulit fokus, bahkan rewel tanpa sebab yang jelas.
Cara mengasuh seperti ini dikenal sebagai low stimulation parenting, yaitu pendekatan yang mengutamakan lingkungan yang lebih sederhana, minim distraksi, dan memberi anak ruang untuk tumbuh sesuai ritmenya. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh layar, pendekatan ini semakin banyak dibahas karena dinilai membantu anak lebih tenang sekaligus memperkuat kualitas interaksi dengan orangtua. Lantas, seperti apa sebenarnya low stimulation parenting?
