Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengatur Bujet Les Anak di Tahun Ajaran Baru, Apa yang Perlu Diikuti?

Mengatur Bujet Les Anak di Tahun Ajaran Baru, Apa yang Perlu Diikuti?
ilustrasi les (pexels.com/Gustavo Fring)
Share Article

Zaman sekarang menyekolahkan anak rasanya gak cukup bila tidak dibarengi dengan les. Kompetensi yang harus dicapai anak sekarang lebih tinggi dibandingkan zamanmu dulu bersekolah. Bahkan dari soal-soal di buku pelajarannya saja sudah terasa lebih sulit ketimbang dahulu.

Pun di samping soal akademik, kini mengejar prestasi non-akademik juga penting. Ini dapat mempermudah anak memperoleh kursi di jenjang pendidikan selanjutnya. Setiap skill yang dipelajari anak sejak dini bahkan dapat menentukan masa depannya setelah dewasa.

Akan tetapi, biaya les untuk berbagai pelajaran atau keterampilan memang tidak murah. Oleh sebab itu, orangtua mesti mengatur pendanaannya dengan sangat baik. Cara-cara di bawah dapat diterapkan supaya soal les anak gak terlalu membebanimu dan pasangan. Anak pun tetap enjoy menjalani rutinitasnya.

1. Tentukan prioritas les untuk saat ini

les vokal
ilustrasi les vokal (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kalau soal ingin, barangkali semua orangtua bermimpi bisa mengikutkan anaknya les ini itu. Semua dimaksudkan untuk kebaikan anak. Agar potensi-potensi terbaiknya keluar. Sayang kalau sampai bakat dan minatnya gak tersalurkan.

Namun, soal biaya kudu benar-benar dipertimbangkan. Pilih berdasarkan kebutuhan yang sangat mendesak untuk saat ini. Misalnya, orangtua sudah sekuat tenaga berusaha mengajari anak baca tulis.

Akan tetapi, kemajuannya terlalu lambat. Anak dikhawatirkan kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. Bila demikian, les terpenting untuk saat ini ialah membaca serta menulis. Les lain seperti berenang, musik, dan sebagainya dapat ditunda dulu.

2. Gak harus di tempat les ternama, terpenting sesuai kebutuhan

latihan bela diri
ilustrasi latihan bela diri (pexels.com/Ron Martinez)

Selain jenis les yang diikuti, pemilihan tempatnya juga menentukan biaya yang mesti dikeluarkan tiap bulan. Makin terkenal suatu tempat les biasanya biayanya juga gede. Orangtua sebaiknya tidak mudah tergoda oleh nama besar tempat les.

Seolah-olah tempat les lain yang gak seterkenal itu pasti tidak bagus. Padahal, persoalannya boleh jadi cuma soal modal. Sementara kualitas pengajar dan metode belajarnya hampir sama. Pilih tempat les yang biayanya sesuai kemampuanmu saja.

Terpenting jenis lesnya sesuai kebutuhan anak. Lagi pula, mood anak masih berubah-ubah. Sayang kalau anak diikutkan les yang mahal, tapi ternyata ia lebih sering malas berangkat atau ikut latihan.

3. Kalau orangtua bisa mengajari, tidak perlu les

belajar mengaji
ilustrasi belajar mengaji (pexels.com/Firman Marek_Brew)

Bila dana berlebih, mengundang banyak guru les buat membantu anak belajar pasti bukan masalah. Sebaliknya, dengan bujet terbatas terpenting ialah cukup. Dari sekian les yang perlu diikuti anak, beberapa barangkali dapat diambil alih orangtua sendiri.

Misalnya, les mata pelajaran SD. Orangtua hanya perlu membaca buku-buku anak guna mengingat kembali materi-materinya yang relatif masih umum dan cenderung mudah. Luangkan waktu bersama pasangan buat mengajari anak.

Anak baru ikut les di bidang yang sama sekali tidak dikuasai orangtua. Atau, ketika bakatnya terlihat lebih besar daripada kemampuan orangtua dalam mengajari. Banyak sekali uang yang bisa dihemat sekaligus meningkatkan bonding orangtua dengan anak.

4. Bujet pas-pasan jangan pilih les privat

les
ilustrasi les (pexels.com/Katerina Holmes)

Memang les privat lebih enak. Guru biasanya yang datang ke rumah. Orangtua tidak perlu mengantar dan menjemput anak sampai ke lokasi yang jauh. Pun satu guru mengajar satu murid.

Guru menjadi lebih optimal dalam memberikan perhatian pada anak. Anak pun bisa lebih fokus belajar atau berlatih tanpa gangguan. Seperti suasana berisik atau ia mesti menunggu teman yang lebih lambat dalam memahami materi. Atau justru sebaliknya, anak kewalahan karena teman-temannya lebih cepat menguasai pelajaran.

Hanya saja, mengingat biaya les privat lebih mahal maka orangtua mesti berhitung ulang. Kalau cuma satu les yang dibutuhkan anak, ambil privat mungkin masih aman secara keuangan. Jika anak butuh les lebih dari satu mending klasikal yang lebih terjangkau.

5. Tidak semua les perlu dilanjutkan

anak les
ilustrasi anak les (pexels.com/Gustavo Fring)

Les bukan sekolah yang mesti terus naik tingkat demi tingkat. Les hanya bersifat tambahan bagi anak yang membutuhkan. Oleh sebab itu, walaupun sekarang begitu banyak anak ikut les, orangtua perlu memantau kapan les mesti dilanjutkan atau distop pun tak masalah.

Contohnya, anak tahun kemarin ikut banyak les karena belum bisa belajar sendiri. Sementara orangtua sibuk atau anak terlalu banyak drama jika diajari olehmu dan pasangan. Bila tahun ini emosi anak sudah lebih matang dan mulai suka belajar sendiri di rumah, les dapat dikurangi.

6. Bayar sekolah ditunda demi les tanda salah prioritas

latihan berenang
ilustrasi latihan berenang (pexels.com/Anil Sharma)

Gak bisa bayar les tepat waktu memang bikin ketar-ketir. Tempat les tidak seperti sekolah yang bisa kasih toleransi lebih banyak untuk keterlambatan pembayaran. Bayaran les macet berarti anak tidak bisa lagi mengikutinya.

Namun, mengingat les sifatnya cuma tambahan maka biaya sekolah tetap harus diutamakan. Percuma anak les sana sini apabila nantinya statusnya sebagai siswa di sekolah malah terancam karena banyaknya tunggakan. Masalahnya keluargamu tidak tercatat sebagai penerima bantuan.

Kamu dan pasangan sebenarnya sangat mampu buat membayar biaya sekolah anak. Kalian cuma keliru menetapkan prioritas sehingga biaya les diutamakan daripada bayar sekolah. Kalau ini sampai terjadi, benahi kembali daftar prioritas terkait pendidikan anak.

Melakukan penyesuaian les yang perlu diikuti anak bukan cuma menghemat biaya. Dengan orangtua bersikap selektif, anak juga terhindar dari kelelahan yang berlebihan. Anak pun bisa menjaga fokus serta energinya baik ketika belajar di sekolah maupun mengikuti les.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More