Buku bisa menjadi sesuatu yang sangat personal bagi pembacanya. Sebuah cerita mungkin pernah menemani masa sulit, memperkenalkan sudut pandang baru, atau sekadar menjadi bacaan favorit yang berkali-kali ingin dibaca ulang. Karena itu, ketika ada orang yang mengatakan bahwa buku tersebut buruk, kritik yang sebenarnya ditujukan kepada karya bisa terasa seperti ditujukan kepada orang yang menyukainya.
Mengapa Kritik pada Buku Dianggap Serangan untuk Pembacanya?

- Pilihan buku kerap dianggap mencerminkan identitas dan selera pembaca, sehingga kritik pada kualitas karya mudah terasa sebagai penilaian pribadi.
- Keterikatan emosional melalui kenangan atau pengalaman personal membuat komentar negatif lebih sensitif, meski buku tetap dapat dinilai dari alur, karakter, bahasa, dan tema.
- Menyukai buku tidak berarti wajib membelanya atau menganggapnya sempurna; kritik dan ketidaksepakatan perlu berfokus pada karya serta argumen, bukan pembacanya.
Padahal, menyukai sebuah buku dan menilai kualitasnya merupakan dua hal yang berbeda. Pembaca boleh memiliki pengalaman yang sangat positif terhadap sebuah karya, sementara orang lain tetap boleh menemukan kekurangan di dalamnya. Lantas, mengapa kritik pada buku dianggap serangan untuk pembacanya?
1. Pilihan buku sering dianggap sebagai cerminan diri

ilustrasi membaca (magnific.com/magnific) Buku yang dibaca seseorang sering kali dianggap merepresentasikan dirinya. Orang yang gemar membaca sastra, misalnya, bisa diasumsikan lebih kritis, sementara orang yang menyukai bacaan populer kadang dianggap memiliki selera yang lebih sederhana. Cara pandang seperti ini membuat kritik terhadap sebuah buku mudah bergeser menjadi penilaian terhadap orang yang membacanya.
Ketika seseorang sangat menyukai sebuah novel lalu mendengar bahwa novel tersebut dianggap memiliki penulisan yang buruk, ia mungkin merasa bahwa seleranya ikut dipertanyakan. Padahal, seseorang bisa menyukai sebuah karya karena ceritanya menghibur atau memiliki nilai emosional tertentu, meskipun secara teknis karya tersebut masih mempunyai banyak kekurangan.
2. Ada keterikatan emosional antara pembaca dan buku

ilustrasi membaca (magnific.com/magnific) Hubungan pembaca dengan buku tidak selalu bersifat objektif. Ada buku yang dibaca pada masa tertentu dan kemudian melekat pada kenangan, pengalaman, atau perasaan personal. Karena itulah, komentar negatif terhadap buku tersebut dapat terasa lebih menyakitkan daripada kritik biasa terhadap sebuah karya.
Masalahnya, pengalaman emosional pembaca memang valid, tetapi tidak otomatis membuat sebuah buku terbebas dari kritik. Buku tetap bisa dibahas dari sisi alur, karakter, gaya bahasa, struktur, tema, maupun gagasannya. Mengakui kekurangan sebuah buku juga tidak berarti menghapus pengalaman personal yang membuat seseorang menyukainya.
3. Kritik terhadap karya sering disalahartikan sebagai kritik terhadap selera

ilustrasi seorang perempuan membaca buku (pexels.com/Yaroslav Shuraev) Mengatakan bahwa sebuah buku memiliki alur yang lemah tidak sama dengan mengatakan bahwa orang yang menyukainya tidak memiliki selera. Begitu pula, ketika seseorang menilai pilihan kata, karakterisasi, atau penyelesaian konflik dalam sebuah novel terasa kurang kuat, kritik tersebut seharusnya diarahkan pada unsur yang memang terdapat dalam karya.
Perbedaan ini penting karena pembaca tidak harus memiliki penilaian yang sama dengan orang lain. Seseorang bisa mengakui bahwa sebuah buku mempunyai kelemahan secara teknis, tetapi tetap menikmatinya. Sebaliknya, seseorang juga boleh tidak menyukai buku yang secara kritis dianggap bagus. Menilai karya dan menikmati karya merupakan dua pengalaman yang tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang sama.
4. Budaya "kalau suka berarti harus membela" membuat diskusi sulit

ilustrasi seorang perempuan membaca buku (magnific.com/magnific) Ada kecenderungan dalam diskusi tentang buku untuk menganggap bahwa orang yang menyukai sebuah karya harus selalu membelanya. Kritik kemudian diperlakukan seperti ancaman terhadap sesuatu yang sudah menjadi bagian dari identitas atau komunitas pembacanya.
Padahal, menyukai buku tidak mengharuskan seseorang menganggapnya sempurna. Pembaca justru bisa menikmati sebuah karya sambil menyadari bahwa ada bagian yang kurang berhasil. Kemampuan untuk mengatakan "aku suka, tetapi bagian ini memang kurang bagus" menunjukkan bahwa apresiasi dan sikap kritis sebenarnya dapat berjalan bersamaan.
5. Pembaca tidak harus setuju dengan semua kritik

ilustrasi seorang perempuan membaca buku (magnific.com/magnific) Kritik terhadap sebuah buku juga bukan kebenaran mutlak yang harus diterima oleh semua orang. Pembaca boleh tidak setuju, memberikan argumen tandingan, atau menjelaskan mengapa kekurangan yang dipersoalkan justru tidak mengganggu pengalaman membacanya. Perbedaan penilaian merupakan bagian wajar dari pembicaraan tentang karya.
Yang perlu dijaga adalah arah perdebatan tersebut. Kritik terhadap buku seharusnya tidak otomatis berubah menjadi penghinaan terhadap orang yang menyukainya, begitu pula ketidaksepakatan pembaca seharusnya tidak berubah menjadi tuduhan bahwa kritik tersebut adalah serangan pribadi. Selama pembahasannya tetap berfokus pada karya dan argumennya jelas, perbedaan pendapat justru bisa membuat diskusi menjadi lebih menarik.
Fenomena kritik pada buku dianggap serangan untuk pembacanya tidak akan terjadi ketika kita bisa memisahkan selera pribadi dari penilaian terhadap kualitas karya. Menyukai sebuah buku tidak berarti harus menganggapnya sempurna, sementara mengkritik sebuah karya juga tidak otomatis berarti merendahkan orang yang membacanya. Justru, kemampuan memisahkan selera pribadi dari penilaian terhadap kualitas karya membuat diskusi tentang buku menjadi lebih sehat.



















![[QUIZ] Apakah Kamu Termasuk Orang yang Tone-Deaf?](https://image.idntimes.com/post/20240627/pexels-olly-3808012-0b6997c8ae2ba547b4f3e41dce3440bf.jpg)

