Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Survei: Orangtua Jadi Pihak Pertama yang Sadar Anaknya Neurodivergent

Survei: Orangtua Jadi Pihak Pertama yang Sadar Anaknya Neurodivergent
Pemaparan survei Atelier of Mind disampaikan pada Senin (10/9/2026) di Atelier of Mind, Jakarta Selatan. (IDN Times/Dina Salma)
  • Survei terhadap 173 orangtua menunjukkan 76 persen pertama kali menyadari perbedaan neurologis anak, sebelum dokter, guru, atau tenaga profesional.
  • Tantangan utama mencakup biaya terapi berkelanjutan bagi 71 persen responden, akses klinik, antrean panjang, serta pengalaman negatif di sekolah akibat guru kurang memahami kondisi anak.
  • Orangtua dianjurkan memercayai pengamatan perkembangan anak sebagai bahan konsultasi profesional, menjaga kesehatan mental, dan mencari lingkungan pendidikan yang menerapkan inklusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak dengan neurodivergent memiliki cara kerja otak yang berbeda dari anak-anak pada umumnya atau disebut neurotypical. Pada anak neurodivergent, cara kerja neurologis tersebut berkembang dengan pola yang berbeda sehingga pengalaman mereka dalam tumbuh dan belajar pun bisa terasa unik.

Menurut Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Lead Psychologist Atelier of Minds, istilah neurodivergent sendiri menjadi payung bagi beragam kondisi, seperti Autism Spectrum Disorders (ASDs), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), disleksia, dan variasi neurologis lainnya.

"Anak-anak yang tumbuh dengan neurodivergent merupakan anak-anak yang tumbuh dengan perbedaan fungsi neurologis. Apa sih neurodivergent itu? Bisa kita bilang itu adalah term payung terhadap kondisi-kondisi anak yang memiliki fungsi neurologis yang berbeda. Cakupannya bisa ASDs, ADHD, disleksia, dan lain-lain. Dikarenakan hal ini berkaitan dengan neurologis, jadi variasi-variasinya itu juga spesifik berbeda penyebabnya, tergantung dengan apa variasinya," ujar Erna.

Menariknya, orangtua sering kali menjadi sosok pertama yang menangkap adanya sesuatu yang berbeda dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Hal ini sesuai dengan riset yang dilakukan oleh Atelier of Mind, student care and enrichment center bagi anak-anak berusia 6–12 tahun, baik untuk anak neurotipikal maupun neurodivergen. Pemaparan tersebut disampaikan pada Senin (10/9/2026) di Atelier of Mind, Jakarta Selatan.

  1. 1. Orangtua adalah pihak pertama yang tahu bahwa anaknya mengalami kondisi neurodivergent

    IMG_3483.heic
    Pemaparan survei Atelier of Mind disampaikan pada Senin (10/9/2026) di Atelier of Mind, Jakarta Selatan. (IDN Times/Dina Salma)

    Atelier of Minds melakukan survei kepada 173 orangtua anak neurodivergent untuk mengungkap perjalanan tumbuh kembang anak dan peran aktif orangtua yang aktif mendampingi perjalanan tumbuh kembang. Survei tersebut turut mencakup orangtua dengan anak gangguan spektrum autisme ASDs, ADHD, disleksia, dan lain sebagainya.

    Ditemukan fakta bahwa orangtua menjadi pihak pertama yang menyadari bahwa anaknya memiliki kondisi neurologis berbeda. Sebanyak 76 persen orangtua mengaku bahwa mereka adalah pihak pertama yang tahu bahwa ada yang berbeda dari anak mereka, bahkan sebelum dokter, guru, ataupun tenaga profesional lainnya.

    Meski demikian, orangtua menilai masyarakat masih belum memiliki pemahaman yang baik terkait kondisi anak dengan neurodivergent. Oleh karenanya, orangtua kerap mendapat komentar negatif terkait pola pengasuhan, seperti kurang tegas dalam mendidik, tidak disiplin, dan sebagainya.

    "Semakin masyarakat itu aware dengan neurodiversitas, yang pertama itu bukan penyakit, yang kedua itu memang kondisi brain-nya itu berbeda. Kondisi otaknya itu berbeda, semakin banyak orang, hopefully, semakin menerima," ujar Chatrine Siswoyo, Founder Atelier of Minds di Jakarta, Senin (10/8/2026).

    "Social stigmanya itu masih lumayan tidak berpihak pada anak-anak neurodivergent. Yang kedua, masyarakatnya juga belum siap menerima, dalam arti tadi misalnya ada anak yang berbeda sedikit, maaf, dikeluarkan dari sekolah," lanjutnya.

  2. 2. Hambatan biaya hingga diskriminasi di sekolah masih jadi tantangan bagi anak neurodivergent

    IMG_3486.heic
    Pemaparan survei Atelier of Mind disampaikan pada Senin (10/9/2026) di Atelier of Mind, Jakarta Selatan. (IDN Times/Dina Salma)

    Selain kondisi psikologis yang kerap mengalami guncangan, orangtua juga dihadapkan pada tantangan finansial saat membersamai anak dengan neurodivergent. Sebanyak 71 persen reponden mengaku biaya menjadi hambatan terbesar untuk terapi berkelanjutan, disusul lokasi klinik atau tempat terapi yang jauh, dan antrean yang panjang. Pasalnya, sebagian besar mengaku mengeluarkan biaya di bawah 3 juta, tetapi ada juga keluarga yang menghabiskan lebih dari 10 juta hanya untuk proses screening awal.

    Masalah lain yang kerap dihadapi oleh orangtua adalah pendidikan formal yang belum sepenuhnya mendukung anak dengan neurodivergent. Hampir setengah responden juga melaporkan pernah mengalami pengalaman negatif di sekolahnya. Ternyata yang paling sering muncul bukan bullying, tapi guru yang belum memahami kondisi anak secara baik. Memahami realitas saat ini, penting untuk menemukan pendidikan formal atau nonformal bagi anak neurodivergent yang inklusif.

    "Inklusif itu adalah benar-benar menerima bahwa perbedaan itu ada. Yang kedua adalah bagaimana cara kita bisa mengakomodasi perbedaan tersebut," ujar Cathrine.

  3. 3. Orangtua harus memercayai insting dan pengamatan terhadap perkembangan anak

    IMG_3474.heic
    Pemaparan survei Atelier of Mind disampaikan pada Senin (10/9/2026) di Atelier of Mind, Jakarta Selatan. (IDN Times/Dina Salma)

    Intervensi yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah memercayai pengamatan mandiri terhadap perkembangan anak yang mungkin tidak sesuai dengan milestone tumbuh kembang. Observasi yang dilakukan oleh orangtua, dapat menjadi bahan diskusi sebelum mencari ahli atau profesional yang menangani kondisi anak.

    Akan tetapi, perlu dipahami bahwa kesehatan mental orangtua juga penting. Sebab, jika orangtua mengalami burnout, keputusan yang diambil dapat berpengaruh.

    Terakhir, bagi orangtua yang membutuhkan bantuan profesional untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak, carilah learning center atau sekolah formal yang benar-benar mempraktikkan nilai inklusi dalam kesehariannya. Hal ini ditekankan karena keterlibatan orangtua bukan hanya bagian dari proses, tapi orangtua adalah partner utama dalam perkembangan anak.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More