Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Sebab Orangtua Tidak Memaksa Anak untuk Menikah

7 Sebab Orangtua Tidak Memaksa Anak untuk Menikah
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/Ruly Nurul Ihsan)
Intinya Sih
  • Orangtua yang tidak memaksa anak menikah biasanya belajar dari pengalaman pribadi, memahami bahwa kebahagiaan hidup tak hanya datang dari pernikahan, dan menghargai pilihan anak untuk menentukan jalannya sendiri.
  • Mereka percaya jodoh akan datang pada waktu terbaik tanpa paksaan, serta menerima kemungkinan jika anaknya tidak menikah sebagai bagian dari takdir yang tetap layak dijalani dengan bahagia.
  • Fokus utama orangtua adalah memastikan anak tumbuh menjadi pribadi baik, berguna, dan sehat mental tanpa tekanan sosial untuk segera menikah demi memenuhi ekspektasi usia atau norma masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Privilese kerap hanya dikaitkan dengan kekayaan, jabatan, serta orang dalam. Namun, jika dirimu punya orangtua yang gak suka mengejar-ngejarmu untuk segera menikah, juga termasuk dalam privilese. Sikap mereka istimewa sebab kebanyakan orangtua di Indonesia masih berpegang pada usia ideal tertentu buat berumah tangga.

Kalau umur anak sudah mendekati batas itu, orangtua mulai membicarakan soal perkawinan hingga secara langsung menyuruhmu menikah saja. Bahkan orangtua dapat menjadi pihak yang paling bersemangat dalam mencarikan jodoh untuk anaknya. Lalu, kenapa orangtua tidak memaksa anak untuk menikah dan sikap ini sepertinya malah seperti anomali?

1. Berkaca pada pengalaman pernikahannya yang kurang baik

seorang perempuan
ilustrasi seorang perempuan (pexels.com/ahmad' s)

Penyebab pertama bukan sesuatu yang pasti. Namun, apabila hubungan antara ayah dan ibumu tidak harmonis, kecil kemungkinan mereka bakal mendorongmu terlalu keras untuk menikah. Mereka cuma gak mau menjadi orang munafik.

Pernikahan mereka saja tidak bahagia bahkan mungkin berantakan. Rasanya gak pas apabila di kemudian hari mereka mengejar-ngejar anak buat segera berumah tangga. Apalagi jika penyebab keretakan rumah tangga mereka ialah dulu terburu-buru menikah. Sekarang malah mereka menasihatimu buat gak usah tergesa-gesa mencari jodoh.

2. Sadar sumber kebahagiaan dalam hidup bukan cuma pernikahan

tertawa bahagia
ilustrasi tertawa bahagia (pexels.com/Rizky Motion)

Kalau kamu menikah dengan orang yang tepat, tentu kehidupanmu akan sangat bahagia. Akan tetapi, seandainya dirimu menikah dengan orang yang salah, dapat menjadi penderitaan seumur hidup. Bahkan anak kalian ikut menderita.

Sementara itu, sumber kebahagiaan bukan hanya berumah tangga. Ada orang yang merasa paling bahagia saat bekerja, ikut kegiatan sosial, bertualang di alam bebas, dan sebagainya. Bagi orangtua, kamu boleh-boleh saja memilih jalan kebahagiaanmu sendiri.

3. Sekarang hidup sendiri di masa tua tak terlalu menakutkan

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Jeff Vinluan)

Bayangan kelam masa tua juga kerap digunakan buat menakut-nakuti orang yang betah menjomlo. Seperti pertanyaan, siapa yang nanti akan merawatmu setelah kamu lanjut usia? Saudara sekandung belum tentu mau merawat. Apalagi hanya keponakan.

Akan tetapi, sekarang ada lebih banyak pilihan. Sudah terdapat beberapa yayasan yang mengelola wisma lansia. Siapa pun yang telah lanjut usia dan ingin tinggal di sana daripada sendirian di rumah bisa mendaftar. Bahkan ada fasilitas lengkap seperti pembimbing rohani, pemeriksaan kesehatan rutin oleh dokter, dan konsultasi dengan psikolog.

4. Terpenting anak tetap menjadi orang baik dan berguna

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/HUỲNH DŨNG)

Fokus orangtuamu pada output yang dihasilkan dari mendidikmu sejak kecil tak tergoyahkan. Mereka tidak mendidikmu supaya kamu menikah tepat waktu di usia tertentu. Tujuan mereka saat itu dan selama bertahun-tahun kemudian semata-mata supaya dirimu tumbuh menjadi anak berkarakter positif.

Selain itu, sebisa mungkin kamu menjadi pribadi yang berguna buat banyak orang. Soal pernikahan malah tak menjadi poin penting mereka. Maka bila sejauh ini dirimu telah berhasil mewujudkan cita-cita orangtua yang amat mendasar itu, mereka sudah lega.

5. Yakin jodoh akan datang pada saat yang tepat

bertemu jodoh
ilustrasi bertemu jodoh (pexels.com/kelvin agustinus)

Orangtuamu percaya bahwa semua hal di dunia ini ada waktunya. Kalau saat yang tepat belum tiba, maka apa pun yang diinginkan juga belum menjadi nyata. Apalagi tentang jodoh yang semisterius maut dan rezeki.

Bisa saja manusia mengusahakannya. Akan tetapi, jangan sampai usaha itu menjadi paksaan sehingga orang yang bukan jodohmu terlihat tepat untukmu. Nanti malah berbuntut penyesalan di kemudian hari. Orangtuamu lebih suka orang yang tepat datang ke hidupmu pada waktu terbaiknya.

6. Kalaupun gak bertemu jodoh seumur hidup, takdir ini harus diterima

menikmati senja
ilustrasi menikmati senja (pexels.com/Min An)

Orangtuamu paham bahwa tidak semua orang bakal menikah. Mereka tentu tetap berharap suatu saat baik cepat atau lambat kamu menemukan orang yang benar-benar tepat untukmu. Namun, andai pun itu tidak terjadi, mereka juga siap buat ikhlas.

Ada waktunya mengusahakan, menunggu hasil, lalu menerima takdir. Pun orangtua tidak menganggap takdir tak menikah bukan sesuatu yang buruk. Orang yang melajang selamanya tidak kurang suatu apa pun dibandingkan dengan orang yang berumah tangga. Mereka juga bakal terus berusaha mendampingimu menerima takdir itu seandainya terjadi.

7. Lebih takut kamu mengalami hal-hal buruk akibat tertekan

seorang pria
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Phong Vo)

Kasih sayang orangtua padamu tidak terbatas. Terpenting bagi mereka ialah dirimu selalu dalam keadaan baik, aman, dan sejahtera. Bila mereka menekanmu untuk segera menikah dan ini dilakukan terus-menerus, takutnya kamu malah stres.

Dirimu menjadi kehilangan kenyamanan berada di dekat orangtua. Takut lagi-lagi diminta secepatnya mencari jodoh. Jangan sampai kamu mengalami hal-hal buruk gara-gara beban pikiran itu. Kamu seperti tidak fokus bekerja, mengalami kecemasan, sampai menganggap dirimu jelek sehingga gak laku.

Beruntung apabila orangtua tidak memaksa anak untuk menikah, apalagi secepatnya. Kamu menjadi punya kesempatan yang lebih luas untuk mengejar hal-hal lain. Selalu peluk keduanya dengan penuh kasih sayang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More