Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Parentification, Saat Anak Dipaksa Jadi Orangtua di Rumah

Parentification, Saat Anak Dipaksa Jadi Orangtua di Rumah
ilustrasi menuntut anak (pexels.com/august de richelieu)
Intinya Sih
Share Article

Masa kanak-kanak sejatinya adalah fase emas yang dipenuhi dengan keceriaan, kebebasan bermain, serta waktu untuk bertumbuh di bawah perlindungan penuh dari orangtua. Namun sayangnya, tidak semua anak beruntung bisa menikmati masa-masa indah tersebut secara wajar karena tuntutan keadaan keluarga. Kondisi di mana seorang anak dipaksa untuk bertukar peran menjadi orangtua bagi saudara kandung atau bahkan bagi orangtuanya sendiri dikenal dalam istilah psikologi sebagai parentification.

Fenomena ini sering kali terjadi dalam keluarga yang mengalami krisis, seperti perceraian, kesulitan finansial yang ekstrem, hingga orangtua yang mengalami sakit kronis. Di satu sisi, anak yang mengalami hal ini mungkin akan terlihat sangat mandiri, penurut, dan dewasa di mata lingkungan sekitarnya. Namun di balik pujian tersebut, ada luka psikologis mendalam akibat hilangnya hak untuk menjadi anak-anak yang utuh. Yuk, kenali 5 dampak nyata dari parentification saat anak beranjak dewasa berikut ini!

1. Terjebak dalam sikap hyper independence dan sangat sulit meminta bantuan

ilustrasi wanita mandiri
ilustrasi wanita mandiri (pexels.com/rdne stock project)

Sejak usia dini, anak yang mengalami parentification sudah terbiasa menyelesaikan segala masalah dan memikul beban keluarga sendirian tanpa sandaran. Pola asuh yang terbalik ini akhirnya membentuk mereka menjadi sosok dewasa yang mandiri secara ekstrem (hyper-independent). Kamu akan merasa sangat tabu, canggung, atau bahkan merasa bersalah ketika harus meminta bantuan kepada orang lain di masa-masa sulit.

Pikiran bawah sadarmu keliru memercayai bahwa mengandalkan orang lain hanya akan berujung pada kekecewaan atau dianggap merepotkan. Sikap menutup diri ini lambat laun akan membuatmu merasa terisolasi meskipun berada di tengah keramaian. Kamu lebih memilih kelelahan fisik dan mental demi mempertahankan kendali penuh atas segala urusan hidupmu sendiri.

2. Kehilangan identitas diri

ilustrasi meragukan diri sendiri (pexels/alex green)
ilustrasi meragukan diri sendiri (pexels/alex green)

Tumbuh besar dengan kewajiban konstan untuk merawat emosi dan kebutuhan fisik orangtua membuat anak lupa akan keinginannya sendiri. Ketika beranjak dewasa, kamu cenderung menjelma menjadi seorang people pleaser yang tidak memiliki batasan diri (boundaries) yang tegas. Kamu selalu menempatkan kebahagiaan, kenyamanan, dan urusan orang lain di atas kesehatan mentalmu sendiri sehari-hari.

Hal ini terjadi karena kelayakan dirimu sejak kecil selalu diukur dari seberapa besar kamu berguna bagi orang di sekitarmu. Akibatnya, kamu sering kali merasa kebingungan dan hampa saat ditanya mengenai apa yang sebenarnya menjadi hobi atau impian pribadimu. Kamu kehilangan kontak dengan identitas aslimu karena terlalu sibuk memakai topeng penyelamat bagi orang lain.

3. Mengalami kecemasan akut dan merasa bertanggung jawab atas segala hal

ilustrasi stres dan cemas
ilustrasi stres dan cemas (pexels.com/cottonbro studio)

Pemilik latar belakang parentification memiliki kecenderungan tinggi untuk mengalami overthinking dan gangguan kecemasan kronis saat dewasa. Sejak kecil, kamu sudah dikondisikan untuk selalu waspada terhadap potensi krisis keluarga yang bisa terjadi kapan saja tanpa prediksi. Pola pikir protektif yang melelahkan ini terbawa hingga dewasa, di mana kamu merasa harus mengontrol segala situasi agar tetap aman.

Kamu akan merasa sangat cemas dan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan jika ada hal di sekitarmu yang berjalan tidak sesuai rencana. Rasa tanggung jawab yang salah tempat ini membuat pundakmu selalu terasa berat oleh beban yang sebenarnya bukan milikmu. Kamu lupa bagaimana caranya menikmati momen masa kini karena pikiranmu terus-menerus mengantisipasi masalah di masa depan.

4. Kesulitan membangun hubungan asmara yang sehat dan setara

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/katerina holmes)
ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/katerina holmes)

Dampak parentification juga merembet secara signifikan pada bagaimana caramu memilih dan menjalani hubungan asmara dengan pasangan. Tanpa disadari, kamu sering kali tertarik pada sosok pasangan yang tidak dewasa, tidak bertanggung jawab, atau penuh masalah emosional. Kamu terjebak dalam dinamika hubungan di mana kamu kembali mengambil peran sebagai pengasuh atau penyelamat bagi pasanganmu.

Pola interaksi yang tidak seimbang ini lambat laun akan menumpuk rasa lelah, dongkol, dan dendam yang terpendam di dalam hati. Di sisi lain, kamu juga bisa merasa ketakutan untuk berkomitmen karena mengasosiasikan hubungan dekat dengan hilangnya kebebasan diri. Alhasil, kamu kesulitan merasakan indahnya dicintai secara tulus dan setara sebagai seorang pasangan yang utuh.

5. Munculnya rasa kebencian yang terpendam terhadap masa lalu

ilustrasi membantu keluarga pasangan (pexels.com/kampus production)
ilustrasi membantu keluarga pasangan (pexels.com/kampus production)

Setelah menginjak usia dewasa dan mulai memahami konsep psikologi, barulah kamu menyadari betapa banyaknya waktu masa kecilmu yang terampas. Kesadaran ini sering kali memicu munculnya rasa sedih yang mendalam sekaligus kemarahan terselubung (resentment) terhadap orangtua atau keadaan masa lalu. Kamu merasa iri saat melihat orang lain bisa tumbuh besar dengan kenangan masa kecil yang santai, penuh tawa, dan tanpa beban.

Rasa dongkol ini jika tidak diproses dengan baik dapat merusak hubunganmu dengan keluarga inti di masa kini. Kamu terjebak dalam dilema moral antara rasa bakti sebagai anak dan rasa kecewa atas pengabaian emosional yang pernah kamu terima. Memulihkan luka masa lalu ini membutuhkan keberanian besar untuk berdamai dengan kenyataan bahwa masa kecilmu memang tidak sempurna.

Menyadari bahwa kamu adalah produk dari parentification memang merupakan sebuah proses refleksi diri yang emosional dan menguras energi pikiran. Namun, memahami dampak-dampak di atas adalah kunci utama untuk mulai melangkah mundur dari peran pengasuh yang melelahkan dan mulai merawat anak kecil di dalam dirimu (inner child). Kini saatnya kamu belajar melepaskan beban yang bukan milikmu, berani menetapkan batasan, dan mengizinkan dirimu sendiri untuk hidup bahagia demi masa depanmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More