Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Pengabaian Emosional di Masa Kecil yang Membuatmu Sulit Merasa Dicintai

ilustrasi anak-anak bermain di rumah
ilustrasi anak-anak bermain di rumah (pexels.com/Jessica West)
Intinya sih...
  • Kamu gak merasakan cinta yang benar-benar personal sejak kecil
  • Kamu membangun tembok emosional terhadap cinta
  • Kamu sulit memercayai perasaan, termasuk perasaan dicintai
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa orang-orang di sekitarmu peduli, tapi di dalam hati tetap muncul rasa hampa? Kamu tahu ada cinta, perhatian, atau usaha dari orang lain, namun sulit benar-benar merasakannya. Kondisi ini sering bikin bingung karena secara logis semuanya terlihat baik-baik saja.

Banyak orang mengira masalahnya ada pada diri sendiri atau hubungan saat ini. Padahal, akar perasaan tersebut bisa terbentuk jauh di masa kecil, lho. Pengabaian emosional sejak kecil sering gak terasa saat itu, tapi pengaruhnya baru muncul dan terasa kuat ketika kamu sudah dewasa.

Yuk, lanjutkan membaca dan kenali lima cara pengabaian emosional masa kecil bisa membuatmu sulit merasa dicintai, sekaligus membantu kamu memahami dirimu dengan lebih jujur.

1. Kamu gak merasakan cinta yang benar-benar personal sejak kecil

ilustrasi menyendiri (pexels.com/Leah Newhouse)
ilustrasi menyendiri (pexels.com/Leah Newhouse)

Setiap anak punya kebutuhan dasar untuk merasa dilihat, dikenal, dan diterima apa adanya. Dalam keluarga yang mengabaikan emosi, perasaan sering dianggap berlebihan, gak penting, atau harus ditekan. Kondisi tersebut membuatmu belajar menyembunyikan bagian terdalam dari dirimu sejak usia dini. Cinta dari orangtua mungkin ada, tapi terasa datar dan gak menyentuh sisi emosionalmu.

Orang dewasa yang tumbuh dalam lingkungan dengan pengabaian emosional sering tahu secara logis bahwa mereka dicintai, tapi sulit benar-benar merasakannya. Pola cinta di masa kecil membentuk cara kamu memahami dan mengharapkan cinta di masa dewasa. Saat bentuk cinta yang kamu terima dulu terasa terbatas dan minim keterlibatan emosional, kemampuanmu menyerap cinta pun ikut terbatas. Akibatnya, cinta yang lebih dalam dan personal bisa terasa asing serta sulit diterima.

2. Kamu membangun tembok emosional terhadap cinta

ilustrasi pasangan menangis (pexels.com/Antoni Shkraba)
ilustrasi pasangan menangis (pexels.com/Antoni Shkraba)

Sejak kecil, kamu sebenarnya sangat membutuhkan validasi dan kehangatan emosional. Harapan tersebut berulang kali tak terpenuhi, sehingga muncul kekecewaan yang terus menumpuk. Lambat laun, kamu belajar berhenti berharap supaya gak terus terluka. Cara bertahan ini membuatmu menutup akses ke kebutuhan emosionalmu sendiri.

Tembok tersebut gak hilang saat kamu dewasa. Cara bertahan hidup yang kamu pelajari di masa kecil sering terbawa ke hubungan saat ini. Cinta yang tulus sebenarnya bisa datang, tapi terhambat oleh pertahanan emosional yang masih kamu pegang. Tanpa disadari, tembok itu justru menjauhkanmu dari koneksi yang sebenarnya kamu harapkan.

3. Kamu sulit memercayai perasaan, termasuk perasaan dicintai

ilustrasi menatap (pexels.com/Polina Chistyakova)
ilustrasi menatap (pexels.com/Polina Chistyakova)

Pengabaian emosional mengajarkan pesan keliru tentang emosi. Perasaan dianggap merepotkan, gak berguna, atau bahkan berbahaya. Pola pikir tersebut tertanam kuat dan memengaruhi cara kamu memandang emosi hingga dewasa. Rasa cinta pun ikut terkena dampaknya.

Orang dengan pengalaman ini cenderung meragukan emosi positif. Saat cinta datang, sebagian dirimu mungkin langsung menolaknya. Perasaan hangat terasa mencurigakan atau terlalu rapuh untuk dipercaya. Akhirnya, kamu menjauh dari cinta bukan karena gak membutuhkannya, melainkan karena gak yakin emosi tersebut aman.

4. Kamu terputus dari emosi sendiri sehingga sulit merasakan apa pun

ilustrasi sendirian (pexels.com/Polina Sirotina)
ilustrasi sendirian (pexels.com/Polina Sirotina)

Menekan emosi sejak kecil membuatmu ahli dalam mematikan perasaan. Strategi ini memang membantu bertahan saat kecil, tapi membawa konsekuensi jangka panjang. Banyak orang dewasa dari latar belakang ini menggambarkan dirinya merasa kosong atau mati rasa. Kehidupan emosional terasa tumpul, seolah ada jarak dengan diri sendiri.

Emosi sejatinya gak bisa dipilih untuk dimatikan satu per satu. Saat emosi negatif ditekan, emosi positif ikut terblokir. Rasa bahagia, antusias, dan cinta ikut tertahan di balik tembok yang sama. Cinta tetap ada, namun sulit dirasakan karena akses terhadap emosi belum sepenuhnya terbuka.

5. Kamu takut bersikap rentan dalam hubungan

ilustrasi pasangan gak bahagia (pexels.com/Andres Ayrton)
ilustrasi pasangan gak bahagia (pexels.com/Andres Ayrton)

Cinta selalu melibatkan kerentanan. Pengalaman masa kecil membuatmu terbiasa tidak terlihat secara emosional. Kedekatan pun terasa mengancam karena membuka peluang untuk ditolak atau ditinggalkan. Hubungan romantis bisa terasa seperti risiko besar, bukan hadiah.

Ketakutan ini muncul dalam bentuk menahan diri atau menjaga jarak. Kamu mungkin khawatir dianggap merepotkan atau gak cukup baik. Penolakan terasa seperti ancaman di setiap sudut hubungan. Rasa takut terhadap kerentanan akhirnya menghalangi koneksi mendalam yang sebenarnya kamu butuhkan.

Pengabaian emosional masa kecil bukanlah tanda bahwa ada sesuatu yang rusak dalam dirimu. Pengalaman tersebut membentuk strategi bertahan yang dulu dibutuhkan, namun sudah gak lagi relevan sekarang.

Kesulitan merasakan cinta bukan cerminan nilai dirimu, melainkan dampak dari kebutuhan emosional yang dulu tidak terpenuhi. Pemahaman ini bisa menjadi langkah awal untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.

Saat kamu mulai mengakui dan menghargai emosimu, tembok perlahan bisa runtuh. Prosesnya memang gak instan, tapi setiap langkah mendekatkanmu pada cinta yang layak kamu rasakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

10 Contoh Cerita Liburan Tahun Baru 2026, Mengasyikkan!

09 Jan 2026, 14:03 WIBLife