Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Pentingnya Normalisasi Absen di Acara Keluarga, Tak Semua Harus Ikut

5 Pentingnya Normalisasi Absen di Acara Keluarga, Tak Semua Harus Ikut
ilustrasi keluarga (pexels.com/Ditta Alfianto)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya menormalisasi ketidakhadiran di acara keluarga karena kesibukan pribadi, benturan waktu, dan kebutuhan menjaga keseimbangan hidup.
  • Ditekankan bahwa tidak semua acara keluarga wajib dihadiri langsung; kehadiran bisa diwakilkan oleh anggota keluarga lain sesuai situasi dan prioritas.
  • Penulis mengingatkan bahwa tekanan sosial, biaya tinggi, serta suasana toksik dalam acara keluarga dapat menjadi alasan wajar untuk memilih absen demi kesehatan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setiap keluarga punya kebiasaan berbeda-beda. Ada keluarga yang cenderung sepi dari berbagai kegiatan bersama. Bukan berarti mereka tidak akur. Mereka cuma jarang bertemu ramai-ramai apalagi pergi bareng. Keluarga seperti ini biasanya tinggal berjauhan.

Sementara itu, ada pula keluarga dengan agenda bersama sangat padat. Tidak kalah dengan agenda kegiatan di kantormu. Acara kumpul keluarga tak hanya setahun sekali seperti tiap hari raya.

Sedikit-sedikit ada kabar di grup keluarga untuk kumpul tanggal sekian di tempat tertentu. Haruskah kamu hadir di semua acara tersebut? Yuk, mulai normalisasi buat gak selalu hadir di acara keluarga. Jangan ada rasa terlalu bersalah atau pihak lain mencibir ketidakhadiran beberapa orang. Berikut alasannya.

1. Kamu punya kesibukan dan kadang waktunya berbenturan

tertawa bersama
ilustrasi tertawa bersama (pexels.com/setengah lima sore)

Kamu mengurus pekerjaan sehari-hari saja sering sudah kewalahan. Sepanjang hari kerja, dirimu sudah gak bisa diganggu dengan urusan-urusan lainnya. Tidak ada lagi waktu dan energi untukmu menghadiri setiap acara keluarga.

Bila pun ada kegiatan keluarga yang diselenggarakan pada akhir pekan juga belum tentu kamu luang. Terkadang justru akhir pekan dimanfaatkan kantor buat perjalanan dinas. Biar Senin dirimu telah kembali masuk kerja.

Atau, kamu berangkat Minggu kemudian Senin pagi langsung mengikuti acara di luar kota. Bahkan dirimu yang bekerja dari rumah atau ibu rumah tangga juga tak lepas dari kesibukan. Ada pekerjaan yang tetap mesti dibereskan olehmu yang WFH. Sementara tugas domestik IRT tidak ada habisnya.

2. Peserta kumpulan sampai keluarga jauh, kamu gak kenal apalagi nyaman

termenung
ilustrasi termenung (pexels.com/Khánh Duy Trương)

Memang apabila silsisah keluarga terus dirunut, keluarga setiap orang pasti banyak sekali. Namun, acara keluarga dengan jumlah peserta terlalu banyak tidak efektif untuk membangun kedekatan. Sering kali acara malah menjadi sebatas hadir buat menjaga kesopanan.

Lalu sepanjang acara terbentuk kelompok-kelompok obrolan. Gak bisa sepenuhnya berbaur. Misalnya, acara trah di beberapa daerah. Pesertanya bisa sampai saudara-saudara dari kakek atau nenek buyutmu.

Ibaratnya, sewaktu-waktu kalian bertemu di jalan pun tak bakal saling mengingat wajah. Daripada memaksakan diri dalam situasi yang serba canggung lebih baik absen saja. Dari sekian banyak acara keluarga sebesar itu, mungkin kamu cuma perlu muncul beberapa kali saat benar-benar longgar.

3. Kadang cukup diwakili orangtua, pasangan, atau saudara kandung

bersama saudara
ilustrasi bersama saudara (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳)

Namanya memang acara keluarga. Dirimu juga bagian dari keluarga tersebut. Akan tetapi, tidak setiap acara membutuhkan kehadiran lengkap anggota keluarga. Saat orangtua masih ada dan sehat misalnya, mereka dapat menghadiri acara trah yang pesertanya amat banyak seperti dalam poin sebelumnya.

Ketika suatu saat orangtua berhalangan, baru dirimu yang datang seandainya memungkinkan. Begitu pun selepas dirimu berkeluarga. Tidak harus kamu selalu datang sepaket dengan pasangan dalam acara keluarga.

Jika dirimu lagi sibuk sekali, cukup pasangan yang mewakili. Nanti gantian kamu yang hadir saat pasanganmu sibuk atau tidak enak badan. Begitu pun adik atau kakak dapat mewakili nama keluarga inti kalian dalam acara keluarga. Asal dirimu adil serta siap gantian datang di lain kesempatan.

4. Biaya memberatkan

kumpul keluarga
ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳)

Acara keluarga terkadang juga menjadi penyebab pengeluaran membengkak bila selalu diikuti. Terlebih jika gaya acara dalam keluargamu selalu heboh. Seperti ada acara jalan-jalan bareng ke luar kota sampai menyewa bus segala.

Masih perlu penginapan yang gak murah biar bagus untuk foto-foto. Pakaian pun kudu seragam supaya terlihat kompak. Belum urusan konsumsi yang tidak bisa seadanya saja. Kamu bakal dianggap tak menghargai saudara kalau hidangannya gak lengkap dan cenderung mewah.

Mending absen sekalian sih, bila begini. Ketimbang pendapatan yang diperoleh dari kamu bekerja capek-capek menguap begitu saja buat acara seperti di atas. Terlebih kamu telah menyampaikan keberatanmu dan usul agar acara keluarga disederhanakan. Akan tetapi, mereka menolak.

5. Kamu jadi bulan-bulanan di acara tersebut

termangu
ilustrasi termangu (pexels.com/Đan)

Acara keluarga semestinya memperkuat rasa kasih sayang di antara kalian. Namun, tidak sedikit acara keluarga yang malah berubah menjadi seperti acara perundungan ke salah seorang. Biasanya sasarannya anggota keluarga yang dianggap hidupnya masih kurang dibandingkan lainnya.

Bisa dalam hal materi, pendidikan yang tak setinggi saudara lainnya, dan belum punya pasangan atau momongan. Sekalipun sikap mereka terkesan akrab sekali denganmu, setiap perkataannya sebetulnya menyakitimu. Dirimu tidak nyaman selama acara.

Pulang dari sana, kamu pun menjadi overthinking dan cemas. Kehidupanmu yang semula terasa baik-baik saja mendadak serba terasa tidak memuaskan. Bahkan tidur pun sampai gak nyenyak dan hari-harimu menjadi mendung. Adanya perlakuan toksik berkedok acara keluarga membuatmu pantas menjauhinya.

Ketika acara keluarga sudah terlalu sering dan memberatkan, kamu perlu melakukan seleksi ulang. Mana acara yang memang utama untuk dihadiri dan mana yang tidak. Terpenting saat ada kabar duka atau terdapat saudara yang sakit keras, dirimu masih berusaha untuk melayat atau menjenguk. Juga kasih bantuan semampumu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us