6 Penyebab Lebaran Tanpa Orangtua Tak Lagi Sama, Jadi Malas Mudik?

- Setelah orangtua wafat, suasana Lebaran berubah karena hilangnya titik kumpul utama dan tradisi keluarga yang dulu dijaga oleh mereka.
- Tradisi sungkeman, wejangan, serta kebersamaan panjang saat Lebaran perlahan memudar, digantikan pertemuan singkat tanpa kehangatan mendalam.
- Momen ziarah ke makam orangtua membawa campuran rasa rindu dan sedih, sekaligus mempertegas renggangnya hubungan dengan keluarga besar.
Bagaimana pengalamanmu merayakan Lebaran tahun ini? Apakah Idulfitri bagimu masih sama menyenangkannya atau beberapa tahun terakhir membuatmu kurang antusias? Jika kamu mengalami perubahan drastis dari penuh semangat menyambut Lebaran menjadi setengah hati pasti ada penyebabnya.
Takut dirimu ditanya kapan nikah cuma salah satu faktor. Masih ada penyebab lain yang lebih bikin Idulfitri kehilangan gregetnya. Itu adalah karena kedua orangtuamu telah meninggal dunia.
Kamu yatim piatu dan di hari raya ketiadaan keduanya terasa begitu nyata. Kapan pun persisnya mereka wafat, wajar apabila suasana Idulfitri dalam hidupmu sontak berubah. Terlebih untukmu yang belum menikah. Rasa sendirian bertambah kuat. Cukup sulit bikin perayaan Lebaran di hidupmu sama seperti saat orangtua masih ada serta sehat. Sebab-sebabnya ada di bawah ini.
1. Titik kumpul tidak jelas

Saat orangtua masih ada, titik kumpul tak lagi perlu ditanya. Jelas semua anak akan pulang ke rumah orangtua. Mungkin nantinya kalian juga akan ke rumah kakek dan nenek apabila mereka masih hidup.
Namun, lokasi kumpul utama tetap di rumah orangtua. Selepas mereka tiada, titik kumpul saban Lebaran menjadi gak menentu. Bahkan bila rumah orangtua masih berdiri kokoh dan ditempati salah satu saudaramu.
Kemungkinan besar memang kalian masih akan berkumpul di situ sekalian mengenang orangtua serta masa kecil. Akan tetapi, seiring tahun yang berganti boleh jadi antarsaudara saling lempar ide lokasi. Anak yang menempati rumah orangtua ingin titik kumpul ganti. Anak lain belum tentu siap menjadi tuan rumah dengan berbagai alasan.
2. Gak ada yang totalitas mengupayakan ini itu

Makin muda usiamu dan saudara-saudara, beragam tradisi Lebaran saat orangtua masih ada akan memudar dengan cepat. Contoh, orangtua dulu selalu bela-belain bikin ketupat atau lontong sendiri. Paling tidak, mereka memesannya dari tetangga yang biasa bikin.
Namun, sekarang siapa pun yang menjadi tuan rumah acara kumpul keluarga sudah malas bikin ketupat atau lontong. Tidak pula memesannya kalau kurang tahu orang yang biasa membuatnya. Langsung saja ia mengganti lontong atau ketupat dengan nasi biasa.
Bahkan boleh jadi tak ada opor, rendang, serta sambal goreng kentang. Begitu kalian bertemu malah jajan di berbagai rumah makan secara bergantian. Segalanya dibuat lebih praktis sepeninggal orangtua.
3. Tradisi sungkem dan wejangan hilang

Dalam banyak keluarga, sungkeman hanya dilakukan anak pada orangtua atau kakek dan neneknya. Adik sih, ogah buat sungkem pada kakaknya. Setiap hari kalian sering berselisih karena apa saja.
Gengsi dong, buat adik sungkem ke kakak. Bisa-bisa si kakak merasa makin menang dari adiknya dan mengolok-olok. Maka selepas ayah dan ibu berpulang, tradisi sungkeman di rumah pun auto hilang.
Antaradik dan kakak cuma bersalaman. Kadang malah lupa gak berjabat tangan dan bilang mohon maaf lahir batin. Bukan cuma tradisi sungkeman yang hilang. Tidak ada lagi orangtua yang selalu kasih wejangan terutama saat hari raya.
Walaupun isi nasihat banyak yang diulang-ulang, itu menjadi pegangan dalam hidupmu. Tanpa sesi orangtua kasih wejangan, perayaan Lebaran terasa hampa. Kalaupun ada kakak tertua mencoba menggantikan orangtua dalam hal kasih nasihat, rasanya tetap gak sama.
4. Datang mepet, bubar cepat

Apakah kamu merasa setelah orangtua wafat, perayaan Lebaran bareng saudara-saudara begitu kilat? Setiap orang seperti tergesa-gesa. Seakan-akan kalian tak betah berlama-lama bersama. Mending waktu masing-masing dipakai untuk hal-hal lain.
Terutama bagi kalian yang telah menikah. Bawaannya ingin cepat-cepat piknik keluarga kecil masing-masing atau ke rumah mertua. Apabila kamu di posisi satu-satunya anak yang masih sendiri, rasanya menjadi sepi sekali.
Orang-orang dapat menikmati hari raya bersama keluarga sampai seminggu, kalian cuma 1 atau 2 hari. Itu pun kebersamaan hanya diisi dengan ala kadarnya. Seperti makan bareng tanpa obrolan yang lebih mendalam. Rumah yang menjadi lokasi bertemu baru ramai H-1 lalu sepi lagi H+1.
5. Momen nyekar ke makam orangtua bikin bahagia berubah sedih

Menurutmu, mengunjungi makam kedua orangtua bikin sedih atau bahagia seakan-akan kalian bertemu kembali? Dapat pula perasaanmu bercampur aduk. Kamu senang karena ziarah serta mendoakan orangtua menjadi satu-satunya cara mengungkapnya rindu dan cintamu pada mereka.
Namun, rasa sedih akan tetap ada. Di makam dirimu tambah menyadari keduanya tidak lagi ada di sisimu. Ingatanmu melompat-lompat dari ketika mereka masih sehat, mulai sakit, hingga berpulang. Berlutut di sebelah nisannya bisa membuatmu merasakan kembali kehilangan mendalam.
Perasaan tersebut bahkan dapat bertahan lebih dari sehari. Hidupmu seperti dinaungi awan mendung saat orang-orang merayakan Idulfitri dengan penuh kegembiraan. Muncul pertanyaan klise yang tak pernah ada jawabannya. Yaitu, kenapa harus ayah dan ibumu yang dipanggil terlalu cepat?
6. Melemahnya ikatan dengan keluarga ayah dan ibu

Keluarga besarmu baik dari pihak ayah maupun ibu tidak ada yang jahat. Semuanya baik padamu. Hanya saja, seiring lamanya waktu wafatnya kedua orangtuamu hubungan kalian dapat gak dekat lagi.
Pelan-pelan terbangun jarak. Ada penjelasan tentang fenomena ini. Ketika orangtua masih ada, mereka yang menjadi penghubung antara dirimu dengan om, tante, bude, pakde, kakek, nenek, dan para sepupu.
Selepas mereka tiada sama dengan jembatan penghubung tersebut putus. Walaupun baik dari kamu maupun keluarga besar berusaha tetap menjaga tali silaturahmi kadang gak berhasil sempurna. Terlebih bila sejak orangtuamu masih ada, dirimu juga tak terlalu dekat dengan keluarga besar.
Mungkin karena dirimu saat itu masih remaja yang lebih nyaman bersama teman. Setelah dirimu dewasa pun, berkumpul bersama mereka di hari raya tidak terasa sebagai prioritas. Kamu lebih nyaman sendirian di kos-kosan.
Perubahan suasana Lebaran setelah orangtua wafat sering kali hanya bisa dipahami oleh sesama anak yatim piatu. Sementara bagi sebagian orang yang masih punya orangtua lengkap dapat menganggapnya tak masuk akal. Namun, begitulah hidup. Tidak ada cerita yang sempurna dan gak semua orang sepenuhnya bahagia di hari raya.