ilustrasi ayah dan anak sedang packing pakaian (pexels.com/ketutsubiyanto)
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam merespons arahan orangtua. Ada yang senang mencoba hal baru dan menguji batasan, tetapi ada pula yang lebih mudah mengikuti instruksi. Karena itu, reverse psychology perlu disesuaikan dengan usia dan karakter anak. Pada usia balita hingga prasekolah, misalnya, orangtua bisa mengemas instruksi sederhana menjadi permainan atau tantangan ringan.
Cara ini mungkin lebih cocok untuk anak yang cenderung suka menentang. Namun, hindari memberikan tantangan yang merendahkan kemampuan atau membuat anak merasa tidak berharga. Respons setiap anak juga bisa berbeda sehingga orangtua tidak perlu memaksakan pendekatan ini setiap kali si kecil menolak arahan.
Selain itu, gunakan reverse psychology sesekali agar tidak berkembang menjadi manipulasi. Jika anak tidak merespons sesuai harapan, orangtua bisa beralih ke komunikasi langsung, seperti memberikan instruksi singkat atau menawarkan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima. Dengan begitu, anak tetap memiliki kesempatan belajar mengambil keputusan tanpa merasa kebebasannya dibatasi.
"Reverse psychology yang digunakan sesekali dengan cara yang baik dan menyenangkan kemungkinan tidak akan membahayakan anak, selama penerapannya tidak berkembang menjadi manipulasi atau tindakan mempermalukan anak," ujar Chastity Plamondon.
Pada akhirnya, reverse psychology bisa menjadi salah satu cara kreatif untuk menghadapi anak yang sulit diajak bekerja sama. Namun, komunikasi yang terbuka dan konsisten tetap penting agar anak memahami arahan orangtua tanpa merasa dimanipulasi.