Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Sulit Mengikuti Instruksi, Kapan Orangtua Perlu Konsultasi Psikolog?

3 min read
Anak Sulit Mengikuti Instruksi, Kapan Orangtua Perlu Konsultasi Psikolog?
Orangtua dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Kesulitan mengikuti instruksi dapat berkaitan dengan bahasa reseptif, perhatian, memori kerja, regulasi perilaku, dan perkembangan sensorik anak.

  • Psikolog dan terapis okupasi memiliki peran berbeda yang dapat saling melengkapi melalui asesmen, observasi, serta dukungan sesuai kebutuhan anak.

  • Instruksi singkat, satu arahan dalam satu waktu, gestur, dan jeda dapat membantu; konsultasi diperlukan jika kesulitan terus berulang atau kemampuan anak menurun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Diminta merapikan mainan, anak justru asyik bermain. Dipanggil berkali-kali, ia tidak juga menoleh. Dalam situasi seperti ini, orangtua kerap langsung menyimpulkan bahwa anak tidak mendengarkan atau sulit diatur.

Padahal menurut Atelier of Minds, student care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan, kemampuan memahami dan merespons instruksi melibatkan berbagai aspek perkembangan, mulai dari bahasa, perhatian, dan regulasi emosi hingga pemrosesan sensorik. Dalam siaran persnya pada (29/10/2026), mereka mengajak orangtua memahami peran psikolog dan terapis okupasi. Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Sulit mengikuti instruksi punya banyak penyebab

    Seorang perempuan berbicara sambil menggerakkan tangan kepada remaja yang tersenyum di meja makan luar ruangan
    ilustrasi ngobrol santai dengan orangtua saat makan malam (pexels.com/Julia M Cameron)

    Menurut Atelier of Minds, kepatuhan anak terhadap instruksi bergantung pada empat aspek utama. Keempatnya adalah bahasa reseptif (kemampuan memahami kata), perhatian (attention), memori kerja (working memory), dan regulasi perilaku. Karena itu, anak yang belum mengikuti instruksi belum tentu menolak. Bisa jadi salah satu aspek tersebut masih berkembang.

    Kemampuan ini juga tumbuh bertahap sesuai usia. Secara umum, bayi usia 9 sampai 12 bulan mulai merespons nama dan memahami kata sederhana. Pada usia 12 sampai 18 bulan, anak mulai mengikuti instruksi sederhana dengan bantuan gestur. Lalu, berkembang menjadi instruksi tanpa gestur pada usia 18 sampai 24 bulan. Di usia 2 sampai 3 tahun, anak mulai memahami instruksi dua langkah. Pada usia 3 sampai 4 tahun mulai mampu mengikuti instruksi tiga langkah serta arahan yang lebih kompleks. Namun, perkembangan setiap anak bisa berbeda.

    "Ketika anak belum dapat mengikuti instruksi, kita perlu melihat apakah arahan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuannya, apakah anak memahami kata-kata yang digunakan, dan apakah ia siap memproses informasi tersebut," jelas Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog Atelier of Minds.

  2. 2. Psikolog dan terapis okupasi punya peran yang saling melengkapi

    Remaja duduk diam menunduk di meja kayu, sementara dua orang dewasa di kiri dan kanan berbicara sambil menggerakkan tangan
    ilustrasi remaja menunduk saat orangtua berbicara serius (pexels.com/Monstera Production)

    Psikolog membantu memahami perkembangan psikologis anak, termasuk perhatian, regulasi emosi, perilaku, dan fungsi eksekutif (executive function). Fungsi eksekutif mencakup kemampuan mengingat instruksi, mempertahankan perhatian, mengatur respons, dan menyelesaikan tugas. Lewat asesmen dan observasi sesuai kebutuhan, psikolog dapat membantu mengidentifikasi faktor yang mungkin memengaruhi perilaku anak serta memberi rekomendasi bagi orangtua untuk mendukung anak di rumah maupun di lingkungan belajar.

    Sementara itu, terapi okupasi melihat bagaimana pemrosesan sensorik, perhatian, dan respons tubuh memengaruhi kemampuan anak menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk mengikuti arahan saat bermain, belajar, dan menjalani rutinitas. Anak yang terdistraksi oleh suara, gerakan, atau rangsangan di sekitarnya mungkin kesulitan memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan.

    "Dalam terapi okupasi, kami melihat bagaimana pemrosesan sensorik dan perhatian terhadap lingkungan memengaruhi kemampuan anak mengikuti arahan dan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari," tambah Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Occupational Therapist Atelier of Minds. Keduanya punya perspektif berbeda, tapi bisa saling melengkapi sesuai kebutuhan anak.

  3. 3. Tips menyampaikan instruksi dan tanda perlu konsultasi

    seorang anak laki-laki bersama dengan ayah dan ibunya
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Untuk membantu anak merespons instruksi, orangtua dapat memakai arahan yang singkat dan jelas, menyampaikan satu instruksi dalam satu waktu, serta menggunakan gestur atau contoh langsung bila diperlukan. Memberikan jeda sebelum mengulang instruksi juga bisa membantu anak memproses informasi.

    Orangtua perlu lebih memperhatikan jika anak terus kesulitan memahami instruksi sesuai usianya, jarang merespons saat dipanggil, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai. Tanda-tanda ini tidak selalu menunjukkan gangguan perkembangan, tapi perlu dievaluasi tenaga profesional jika terus berulang atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

    "Orangtua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan perkembangan karena sulit mengikuti instruksi. Namun, jika kesulitan terus berulang atau anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai," pungkas Erna.

    Intinya, kamu perlu mengetahui terlebih dahulu cara berkomunikasi anak. Tentunya, disesuaikan juga dengan usia anak. Apabila semua cara telah dicoba dan belum berhasil, itulah waktunya untuk mempertimbangkan pergi ke ahli.

Related Articles

See More
Anak Sulit Mengikuti Instruksi, Kapan Orangtua Perlu Konsultasi Psikolog?