Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sudah Dewasa tetapi Masih Sulit Bicara Jujur pada Orangtua?

6 min read
Sudah Dewasa tetapi Masih Sulit Bicara Jujur pada Orangtua?
ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)

Usia bertambah, pekerjaan mulai mapan, bahkan mungkin sudah memiliki penghasilan sendiri. Namun, bagi sebagian anak, berbicara jujur pada orangtua tentang kehidupan pribadinya masih terasa sulit. Ada yang memilih diam ketika sedang menghadapi masalah, menyembunyikan hubungan asmara, atau berpura-pura baik-baik saja meski sebenarnya sedang kewalahan.

Bukan karena kamu tidak menyayangi orangtua, melainkan karena ada kekhawatiran bahwa kejujuran justru akan memicu pertengkaran, kritik, atau kekecewaan. Ada beberapa langkah yang bisa dicoba agar percakapan terasa lebih aman dan kedua belah pihak dapat saling memahami.

  1. 1. Kenali alasan takut berbicara jujur

    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kindel Media)

    Sebelum berusaha mengubah cara berkomunikasi, coba kenali terlebih dahulu apa yang membuatmu sulit terbuka kepada orangtua. Apakah kamu takut dimarahi, dibandingkan dengan orang lain, dianggap tidak tahu diri, atau terus-menerus diberi nasihat yang sebenarnya tidak kamu butuhkan?

    Mengenali penyebabnya dapat membantu kamu memahami bahwa kesulitan berbicara jujur bukan selalu karena kamu tidak mampu berkomunikasi. Tetapi mungkin itu juga berkaitan dengan pengalaman dan pola interaksi yang selama ini terbentuk dalam keluarga.

    “Dinamika hubungan antara orangtua dengan anak yang masih kecil sangatlah berbeda dengan hubungan antara orangtua dengan anak yang sudah dewasa,” ujar Daniel E. Jimenez, Ph.D., psikolog klinis di University of Miami Health System dikutip dari UHealth Collective.

    “Saat masih kecil, anak bergantung pada orangtua untuk mendapatkan makanan, tempat tinggal, dan dukungan emosional. Orangtualah yang memegang kendali. Seiring bertambahnya usia, anak menjadi lebih mandiri dan tidak lagi terlalu membutuhkan arahan. Hubungan pun mengalami perubahan,” tambahnya.

    Jadi cobalah mengingat beberapa percakapan sebelumnya yang membuatmu enggan bercerita. Apakah orangtua langsung menghakimi, memotong pembicaraan, atau justru menyebarkan cerita pribadimu kepada anggota keluarga lain? Cari tahu hal-hal yang membuatmu merasa tidak nyaman tanpa harus buru-buru menyalahkan diri sendiri maupun orangtua. Dengan memahami pola tersebut, kamu bisa menentukan bagian mana yang perlu diperbaiki, cara menyampaikan sesuatu yang lebih sesuai, serta batasan pribadi yang perlu dijaga.

  2. 2. Mulai dari cerita kecil, tidak harus langsung membahas masalah besar

    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Antoni Shkraba)
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Jika selama ini kamu terbiasa menyimpan banyak hal sendiri, memulai percakapan yang sangat pribadi mungkin terasa menakutkan. Kamu tidak harus langsung menceritakan masalah terbesar atau membuka semua rahasia dalam satu kesempatan.

    Mulailah dari hal sederhana, seperti pengalaman kurang menyenangkan di tempat kerja, kebingungan menentukan pilihan, atau perasaanmu setelah mengalami kejadian tertentu. Langkah kecil dapat menjadi latihan untuk membangun kebiasaan berbicara secara lebih terbuka.

    Pilih topik yang risikonya terasa ringan terlebih dahulu. Misalnya, kamu bisa mengatakan bahwa pekerjaan sedang melelahkan atau kamu membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan suatu keputusan. Perhatikan bagaimana orangtua merespons, kemudian gunakan pengalaman tersebut untuk menentukan langkah berikutnya.

     

  3. 3. Sampaikan perasaan dengan jelas tanpa harus menyalahkan

    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Terkadang, percakapan dengan orangtua berubah menjadi pertengkaran bukan hanya karena perbedaan pendapat, tetapi juga karena masing-masing merasa diserang. Kalimat seperti “Ayah dan Ibu gak pernah ngerti” bisa membuat orangtua langsung bersikap defensif.

    Padahal, mungkin yang ingin kamu sampaikan adalah bahwa kamu merasa tidak didengarkan ketika pendapatmu langsung dibantah. Mengubah cara menyampaikan perasaan dapat membantu percakapan tetap berfokus pada masalah yang ingin dibahas.

    Dalam panduan komunikasi keluarga, HealthyChildren menganjurkan orangtua untuk mendengarkan dengan baik, menunjukkan empati, dan menyampaikan perasaan secara tenang. Panduan tersebut juga mengingatkan agar komunikasi tidak berubah menjadi kebiasaan menyalahkan, mengancam, atau membentak.

    Prinsip ini bisa diterapkan oleh kedua belah pihak, termasuk anak yang sudah dewasa ketika menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanannya kepada orangtua. Kamu bisa menggunakan kalimat yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan pribadi.

    Contohnya, “Aku ingin cerita, tetapi aku berharap Ayah dan Ibu mendengarkan dulu sebelum memberikan saran,” atau “Aku merasa tertekan ketika keputusanku langsung dibandingkan dengan orang lain.” Kalimat seperti ini tidak menjamin orangtua akan langsung memahami maksudmu, tetapi dapat mengurangi kesan bahwa kamu sedang menyerang mereka.

  4. 4. Tetapkan batasan pribadi tanpa merasa harus membagikan semuanya

    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kaboompics.com)
    ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Kaboompics.com)

    Menjadi anak yang terbuka bukan berarti kamu wajib menceritakan seluruh detail kehidupan pribadi kepada orangtua. Sebagai orang dewasa, kamu tetap memiliki hak untuk menentukan informasi apa yang ingin dibagikan, kapan kamu siap bercerita, dan bagian mana yang perlu disimpan untuk diri sendiri.

    Batasan ini bukan berarti kamu tidak menghormati orangtua. Justru, batasan yang disampaikan dengan baik dapat membantu hubungan menjadi lebih sehat dan mengurangi konflik yang berulang. Psikolog Laurence Steinberg, Ph.D., profesor psikologi dan neurosains di Temple University, menjelaskan dalam podcast American Psychological Association (APA) bahwa kemandirian merupakan isu penting dalam hubungan orangtua dan anak dewasa.

    "Saran saya bagi para orangtua yang memiliki anak yang sudah dewasa adalah: jangan sampaikan pendapat Anda kecuali jika diminta. Kecuali dalam situasi di mana menurut Anda konsekuensinya akan sangat, sangat parah dan tidak dapat dipulihkan," jelas Steinberg.

    Jika orangtua terus mendesak untuk mengetahui sesuatu yang belum siap kamu ceritakan, kamu bisa menjawab dengan sopan tetapi tegas. Misalnya, “Aku mengerti Ayah dan Ibu ingin tahu, tetapi aku belum siap membicarakan bagian itu sekarang,” atau “Kalau sudah ada keputusan yang perlu disampaikan, aku akan cerita.”

    Kamu juga bisa menjelaskan bahwa kamu tetap menghargai perhatian mereka meskipun membutuhkan ruang pribadi. Batasan perlu disesuaikan dengan situasi keluarga, terutama jika kamu masih tinggal bersama orangtua atau bergantung secara finansial kepada mereka.

  5. 5. Bangun kebiasaan saling mendengarkan, bukan sekadar menunggu giliran bicara

    Komunikasi non verbal juga penting dalam proses komunikasi orangtua dan anak. pexels.com/Cottonbro
    Komunikasi non verbal juga penting dalam proses komunikasi orangtua dan anak. pexels.com/Cottonbro

    Komunikasi yang terbuka tidak bisa dibangun oleh satu orang saja. Kamu mungkin sudah berusaha menjelaskan perasaan dengan baik, tetapi percakapan tetap sulit jika masing-masing hanya ingin membuktikan bahwa dirinya benar. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan mendengarkan secara bergantian.

    Ketika orangtua berbicara, cobalah memahami kekhawatiran di balik perkataan mereka. Sebaliknya, kamu juga berhak meminta agar mereka mendengarkan pengalamanmu tanpa langsung menyela atau memberikan penilaian.

    Psikolog Laurence Steinberg dalam wawancara dengan American Psychological Association menekankan pentingnya memahami apa yang dialami oleh kedua belah pihak dalam hubungan orangtua dan anak dewasa. Ia menjelaskan bahwa anak dewasa perlu memiliki rasa empati terhadap orangtua, sementara orangtua juga perlu memahami tantangan yang dihadapi generasi anak mereka.

    "Menurut saya sarannya sama untuk kedua belah pihak: bersikaplah penuh welas asih dan cobalah melihat situasi dari sudut pandang generasi yang lain. Pihak anak yang sudah dewasa pun perlu bersikap penuh welas asih terhadap orangtua mereka, serta memahami bahwa situasi ini juga tidak mudah bagi para orangtua. Jadi, ini memang sebuah tantangan," jelas Steinberg.

    "Saya yakin sebagian besar keluarga bisa melaluinya; kuncinya adalah saling memahami apa yang sedang dialami pihak lain saat ini, yang akan sangat membantu dalam mempererat hubungan antara orang tua dan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Pesan yang saya sampaikan kepada para orangtua adalah: jangan memasukkannya ke dalam hati. Ini bukan tentang Anda. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan anak Anda yang beranjak dewasa untuk membangun rasa otonomi-guna menunjukkan kepada Anda maupun diri mereka sendiri bahwa mereka mampu menjalani kehidupan dewasa tanpa harus bergantung pada orangtua," tambahnya.

    Anak yang sudah dewasa tetap bisa menyayangi orangtua meskipun belum mampu menceritakan segala hal secara terbuka. Kejujuran tidak tumbuh hanya karena seseorang diminta untuk bercerita, tetapi juga membutuhkan rasa aman, kepercayaan, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.

Related Articles

See More