Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Selalu Nempel dan Gak Mau Jauh dari Orangtua? Bisa Jadi Velcro Kid

6 min read
Anak Selalu Nempel dan Gak Mau Jauh dari Orangtua? Bisa Jadi Velcro Kid
ilustrasi seorang ibu menggendong anak menikmati pemandangan (pexels.com/rdne)

Bagi sebagian orangtua, pergi ke kamar mandi atau menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa ditemani anak bisa menjadi hal yang sulit. Si kecil mungkin terus mengikuti setiap langkahmu, meminta digendong, atau menangis ketika harus berada di ruangan berbeda. Perilaku yang membuat anak selalu ingin berada di dekat orangtua ini dikenal dengan istilah velcro kid.

Istilah velcro kid menggambarkan anak yang sangat lengket dengan orangtua atau pengasuhnya hingga sulit berpisah. Meski bisa membuat orangtua kewalahan, perilaku ini terkadang merupakan bagian normal dari tumbuh kembang anak. Lantas, apa penyebabnya dan bagaimana cara menghadapinya? Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Apa itu velcro kid?

    ilustrasi orang tua bermain bersama anak  (pexels.com/keiraburton)
    ilustrasi orang tua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

    Istilah velcro kid semakin populer di media sosial, terutama TikTok, untuk menggambarkan anak yang sulit berjauhan dari orangtua atau pengasuhnya. Perilaku ini banyak dibagikan orangtua, mulai dari batita yang selalu mengikuti ibunya hingga anak lebih besar yang terus mencari perhatian. Menurut Danika Perry, PsyD, psikolog anak di Nemours Children’s Health, dikutip dari Parents, istilah ini merujuk pada anak yang kesulitan berpisah dari pengasuhnya.

    Meski bisa melelahkan, perilaku lengket merupakan bagian normal dari perkembangan anak dan bisa menunjukkan keterikatan yang aman (secure attachment). Vanessa Kennedy, PhD, psikolog klinis di Driftwood Recovery, dikutip laman yang sama, menjelaskan bahwa bayi membutuhkan kedekatan orangtua untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman.

    “Bayi biasanya lebih membutuhkan perhatian dan kedekatan orangtuanya secara terus-menerus karena mereka sedang mencari rasa aman dan nyaman,” ujar Vanessa Kennedy.

    Perilaku ini juga berkaitan dengan kemampuan object permanence atau ketetapan objek yang belum berkembang sempurna. Artinya, bayi belum sepenuhnya memahami bahwa orangtua tetap ada meskipun tidak terlihat atau meninggalkan ruangan, sementara kemampuan ini biasanya mulai berkembang sekitar usia sembilan bulan.

  2. 2. Apa yang membuat seorang anak menjadi velcro kid?

    ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)
    ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)

    Setelah melewati masa bayi, penyebab anak menjadi lengket dengan orangtua bisa semakin beragam dan tidak selalu berkaitan dengan pola keterikatannya sejak kecil. Menurut Dr. Perry, temperamen, lingkungan, dan perubahan dalam keluarga turut memengaruhi kebutuhan anak akan kedekatan dan rasa aman.

    Anak yang sebelumnya mandiri bisa menjadi lebih lengket saat menghadapi perubahan besar, seperti mulai sekolah atau pindah rumah. Sebaliknya, bayi yang dahulu sangat bergantung pada orangtua juga bisa tumbuh lebih mandiri seiring perkembangan kebutuhannya.

    “Banyak anak melewati fase ketika mereka membutuhkan lebih banyak kepastian dan rasa aman, terutama saat mulai menguji kemandiriannya dan mengeksplorasi pengalaman baru,” ujar Dr. Perry.

  3. 3. Velcro kid juga bisa memengaruhi kesehatan mental orangtua

    ilustrasi ayah dan anak sedang tertidur (pexels.com/rdne)
    ilustrasi ayah dan anak sedang tertidur (pexels.com/rdne)

    Memiliki velcro kid tidak selalu menjadi pengalaman buruk karena kedekatan anak bisa memberikan kebahagiaan tersendiri bagi orangtua. Namun, terus-menerus ditemani anak saat melakukan aktivitas pribadi juga bisa menguras energi dan memicu kelelahan emosional, kecemasan, hingga mengganggu hubungan keluarga.

    “Seiring waktu, kurangnya ruang pribadi secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap kelelahan mental (burnout), kecemasan, atau perasaan bersalah. Kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan pasangan maupun anak-anak lainnya,” jelas Danika Perry.

    Menghadapi anak yang selalu ingin dekat juga bisa memunculkan perasaan campur aduk, antara merasa disayangi dan kewalahan karena kehilangan waktu pribadi. Jen Wirt mengakui bahwa kedekatan tersebut memang indah, tetapi terkadang melelahkan, sementara Sara Briggs, PhD, LPC, dari University of Phoenix, dikutip dari Parents, menyebut kondisi ini bisa membuat orangtua merasa gagal menjalankan peran pengasuhan.

  4. 4. Cara mengurangi kelelahan emosional saat menghadapi velcro kid

    ilustrasi ibu duduk bersama dua anak  (pexels.com/ellyfairytale)
    ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

    Menghadapi anak yang selalu ingin berada di dekat orangtua bisa menguras energi, terutama ketika kebutuhan pribadi terus tertunda. Karena itu, orangtua juga perlu memperhatikan kondisi emosionalnya agar tidak terus-menerus merasa kewalahan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

    a. Cari dukungan dari sesama orangtua

    Jangan merasa harus menghadapi semuanya sendirian karena berbagi cerita dengan orangtua lain bisa membantu mengurangi beban emosional. Dr. Briggs menyarankan orangtua untuk terhubung dengan mereka yang memiliki pengalaman serupa agar merasa lebih dimengerti dan tidak sendirian.

    b. Luangkan waktu untuk merawat diri sendiri

    Meski hanya lima menit, mengambil jeda dari berbagai tuntutan anak bisa membantu memulihkan energi. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas sederhana yang menenangkan, seperti menikmati minuman favorit, menarik napas dalam-dalam, atau duduk tanpa gangguan.

    c. Bergantian dengan pasangan

    Jangan ragu meminta pasangan mengambil alih sebagian tanggung jawab pengasuhan agar kamu memiliki waktu untuk beristirahat.

    “Biarkan pasanganmu mengambil alih rutinitas sebelum tidur, memandikan anak, atau mengantarnya ke tempat penitipan anak beberapa kali dalam seminggu,” saran Jen Wirt.

  5. 5. Cara membantu anak mengurangi perilaku terlalu lengket

    ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak
    ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

    Jika perilaku anak yang terus menempel mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orangtua bisa membantunya belajar mandiri secara bertahap. Tujuannya bukan membuat anak berhenti membutuhkan orangtua, melainkan membangun rasa aman meskipun sedang berjauhan. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.

    a. Dorong anak untuk belajar mandiri

    Mulailah dari aktivitas sederhana, seperti mengambil mainan, merapikan barang, atau bermain sebentar tanpa ditemani. Menurut Dr. Perry, berikan perhatian dan apresiasi ketika anak berhasil melakukan sesuatu secara mandiri agar kepercayaan dirinya semakin berkembang.

    b. Buat rutinitas yang konsisten

    Jadwal harian yang teratur membantu anak memahami apa yang akan terjadi sehingga merasa lebih aman.

    c. Berikan contoh perpisahan yang tenang

    Ketika harus meninggalkan anak, sampaikan salam perpisahan secara singkat tanpa menunjukkan kepanikan atau memperpanjang momen tersebut. Dr. Perry menyarankan orangtua untuk meyakinkan anak bahwa mereka hanya pergi sementara dan akan kembali setelah menyelesaikan pekerjaan.

    d. Biasakan berpisah secara bertahap

    Jika anak sulit ditinggalkan, mulailah dengan perpisahan singkat sebelum meningkatkan durasinya secara perlahan. Menurut Dr. Perry, cara ini membantu anak membangun kepercayaan diri dan memahami bahwa orangtua tetap akan kembali meskipun sedang tidak berada di dekatnya.

    e. Berikan penjelasan yang realistis

    Hindari menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati, termasuk soal waktu kepulangan setelah meninggalkan anak.

    f. Ajarkan anak memahami batasan pribadi

    Anak perlu memahami bahwa setiap orang, termasuk orangtua, memiliki kebutuhan akan ruang pribadi. Dr. Perry menyarankan orangtua menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut wajar dan setiap orang berhak mendapatkan ruang untuk dirinya sendiri.

    g. Validasi perasaan anak

    Ketika anak menangis atau takut saat harus berpisah, jangan langsung menganggap reaksinya berlebihan. Dr. Perry menyarankan orangtua mengakui perasaan anak sekaligus meyakinkannya bahwa mereka akan kembali, misalnya dengan mengatakan, "Mama tahu kamu sedih ketika Mama pergi, tetapi Mama akan selalu kembali."

    h. Bantu anak mengelola emosinya

    Orangtua juga bisa mengenalkan aktivitas yang membantu anak menenangkan diri, seperti berolahraga, bermain dengan mainan sensorik (fidget toys), atau mengungkapkan perasaannya melalui cerita dan tulisan. Dr. Kennedy menyarankan aktivitas tersebut disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak agar mereka perlahan mampu mengelola emosinya sendiri.

    Memiliki velcro kid memang bisa menguras energi, tetapi bukan berarti orangtua harus mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Dengan memahami kebutuhan anak dan membangun kemandirian secara bertahap, kedekatan orangtua dan anak tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan emosional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More