7 Sebab Jangan Sembarangan Ajak Anak Menginap di Rumah Orang

- Mengajak anak menginap di rumah orang bisa bikin pemilik rumah tidak nyaman karena anak cenderung rewel, berisik, dan membuat suasana jadi berantakan.
- Tuan rumah sering harus menyiapkan kebutuhan ekstra seperti air hangat, kasur, dan perlengkapan tidur yang belum tentu tersedia, sehingga menambah beban mereka.
- Lebih baik memilih penginapan sendiri agar anak tetap nyaman dan tidak merepotkan orang lain, sekaligus mengajarkan batasan sosial sejak dini.
Saat kamu bepergian ke luar kota, di mana biasanya kamu menginap bersama keluarga? Banyak orang masih memanfaatkan rumah saudara untuk bermalam. Pertimbangannya, di sana ada rumah saudara. Kenapa mesti bayar hotel yang tak murah?
Ada juga orang yang memang suka menginap di rumah orang lain meski tanpa urgensi apa pun. Sekadar ganti suasana saja. Sehingga rumah saudara yang sekota pun menjadi tempat tujuannya menginap secara berkala.
Masalahnya menjadi tidak sederhana ketika dirimu sudah berkeluarga. Kamu tak meminta izin menginap buat diri sendiri saja, melainkan bareng anak-anak yang masih kecil. Kamu hendak bermalam sendiri di sana pun bisa bikin pemilik rumah kurang nyaman. Apalagi bawa anak-anak. Berikut tujuh sebab jangan sembarangan ajak anak menginap di rumah orang kecuali dalam situasi darurat.
1. Anak gampang rewel, berisik, dan suka memberantakkan apa pun

Bukan hanya anakmu yang punya kecenderungan seperti di atas. Hampir semua anak juga demikian. Butuh waktu dan latihan yang cukup panjang agar perilaku anak lebih tertata. Gak masalah kalau anak berperilaku demikian di rumah sendiri.
Namun, saat itu terjadi di rumah orang karena kamu membawanya menginap di sana, ini benar-benar masalah bagi pemilik rumah. Ia pasti sebenarnya sangat terganggu. Dia cuma tak mengatakannya padamu. Malah bilang gak apa-apa, namanya juga anak-anak.
2. Pemilih rumah harus ekstra mempersiapkan segala kebutuhan anak

Anak-anak bukan orang dewasa yang lebih fleksibel dalam segala situasi. Contoh, kamu mandi air dingin di malam hari sepulang kerja pun tak masalah. Malah segar. Anak mandi sore dan pagi jelang siang saja mesti pakai air hangat.
Bila gas rumah habis, ia harus membelinya. Padahal belum tentu ada uang. Tambah repot jika kompor gasnya rusak. Anak juga tak bisa tidur di karpet. Ia butuh kehangatan sehingga kudu ada kasur, bantal, dan selimut. Boleh jadi di rumah seseorang perlengkapan tidurnya amat terbatas.
3. Bagaimana jika anak mengompol di kasur?

Andai pun tuan rumah mempunyai kasur yang dapat digunakan untukmu dan anak tidur, bagaimana jika ia sampai mengompol? Sangat tidak aman mengajak anak yang belum lancar ke toilet ketika ingin buang air kecil dan besar. Apalagi anak baru belajar lepas popok.
Di rumah saja tak terhitung berapa kali dia mengompol. Anak sudah memakai popok pun, kadang malah popoknya bocor. Kotoran menjadi ke mana-mana. Mencuci kasur tidak semudah mencuci seprai. Jika di rumah kamu bisa cuek dengan bau kasur yang kena ompol, tuan rumah pasti risi bukan main.
4. Kurang mengajarkan batasan dengan orang lain

Anak harus sejak dini belajar tentang batasan dengan orang lain sekalipun saudara sendiri. Dia mesti paham mengenai diri sendiri, keluarga inti, keluarga besar, dan orang yang sama sekali gak ada hubungan persaudaraan dengannya. Suka mengajak anak bermalam di rumah orang mengaburkan seluruh batasan itu.
Dampaknya luas, lho. Kelak anak besar dan berteman baik dengan sesama jenis maupun beda jenis kelamin, ia bisa sering menginap di rumah atau kos-kosannya. Pergaulan menjadi kurang terkontrol. Anak juga rentan terpedaya oleh orang yang cuma pura-pura baik karena terlalu gampang percaya dan nyaman bersamanya.
5. Selama masih ada penginapan mending di sana

Sekarang penginapan ada di mana-mana. Selama lokasi tidak terlalu di pelosok, pasti ada. Mau cari penginapan bertarif selangit sampai ekonomis pun tersedia. Sepanjang kamu masih punya uang, menginap di sana lebih baik daripada di rumah orang.
Terutama ketika membawa anak, ia sama sekali belum bisa tenang. Dengan membayar beberapa ratus ribu rupiah saja, dirimu serta anak sudah lebih leluasa. Tanpa khawatir tuan rumah menjadi repot dan terganggu.
6. Anak juga suka mengomentari apa pun yang bisa menyinggung tuan rumah

Dengan polosnya, anak kerap mengatakan apa saja yang terlintas di benaknya saat melihat sesuatu. Misal, lantai atau kamar mandi agak kotor. Ia langsung mengatakannya. Bahkan anak berjalan pun enggan dan memintamu menggendongnya karena kotor.
Belum celetukan-celetukannya yang lain seputar rumah tempatnya menginap. Bayangkan rasanya menjadi tuan rumah yang sudah berbaik hati menerima kalian. Meski di depanmu ia terus tersenyum seakan-akan memaklumi tingkah anak, bisa jadi dalam hati ia sangat kesal.
7. Anak sendiri dapat gak nyaman

Barangkali cuma kamu yang bersemangat menginap di rumah orang. Anak sendiri sebetulnya malas. Bagaimanapun juga, baginya orang lain tidak sama dengan anggota keluarga yang setiap hari ditemuinya di rumah. Itu sudah mengurangi kenyamanan anak.
Belum lagi perbedaan tata ruang, makanan dan minuman yang disajikan, plus tak ada semua mainannya. Mungkin ia cuma membawa 1 atau 2 buah mainan. Padahal, bila anak tidak nyaman, ia akan mudah rewel dan menyusahkan pemilik rumah.
Kamu perlu memahami bahwa rumah adalah ruang pribadi pemiliknya. Di rumah milik sendiri, seseorang seharusnya bisa merasa nyaman sepanjang waktu. Pahami sebab jangan sembarangan ajak anak menginap di rumah orang, apalagi membawa anak yang masih sukar diatur dan suasana hatinya berubah-ubah.