Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Sikap Orangtua yang Rentan Membuat Anak Merasa Tertekan

4 Sikap Orangtua yang Rentan Membuat Anak Merasa Tertekan
ilustrasi sedih (unsplash.com/mohamad azaam)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti empat sikap orangtua yang tanpa disadari dapat menimbulkan tekanan emosional pada anak, meski niat awalnya untuk memberikan yang terbaik.
  • Tuntutan perfeksionisme, kebiasaan membandingkan, dan kontrol berlebihan terhadap keputusan anak dijelaskan sebagai penyebab utama munculnya rasa cemas serta hilangnya kemandirian.
  • Mengabaikan perasaan anak membuat mereka sulit mengekspresikan emosi dan berdampak pada kemampuan regulasi emosi serta hubungan sosial di masa depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anak, namun tanpa disadari justru perilaku yang dilakukan menciptakan tekanan emosional. Tekanan ini sering muncul secara halus dan berkembang seiring berjalannya waktu, sehingga anak merasa terbebani, meski maksud orangtua sebetulnya baik.

Memahami kesalahan-kesalahan yang ada dapat membantu orangtua untuk memperbaiki pola didik agar lebih sehat secara emosional. Oleh sebab itu, ketahuilah beberapa sikap orangtua yang rentan membuat anak merasa tertekan berikut ini.

1. Menuntut anak untuk sempurna

ilustrasi anak sedih
ilustrasi anak sedih (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Perfeksionisme sering dianggap sebagai bentuk motivasi, namun tuntutan yang terlalu tinggi akan membuat anak merasa tidak pernah cukup baik. Akibat dari hal ini akan membuat anak cenderung takut membuat kesalahan dan kehilangan kesempatan belajar hal baru karena mereka lebih fokus menghindari kegagalan daripada mencoba.

Pada saat orangtua menekankan hasil daripada proses, maka anak pun akan berkembang dengan rasa cemas pada saat menghadapi tugas atau tantangan. Perasaan ini dapat bertahan hingga dewasa dan membuat mereka mengalami kesulitan dalam mengambil setiap risiko dalam hidup mereka.

2. Membandingkan anak dengan orang lain

ilustrasi anak malas
ilustrasi anak malas (pexels.com/August de Richelieu)

Membandingkan anak dengan saudara kandung, teman sekelas, atau anak tetangga bisa membuat mereka merasa tidak berharga. Perbandingan tersebut membuat mereka percaya bahwa nilai diri hanya ditentukan oleh pencapaian, bukan usahanya.

Lama-kelamaan, anak akan kehilangan motivasi karena merasa bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak pernah cukup untuk membuat orangtuanya bangga. Hal ini juga akan merusak hubungan orangtua dan anak karena merasa tidak pernah dihargai ataupun diterima apa adanya.

3. Terlalu mengontrol keputusan anak

ilustrasi anak sedih
ilustrasi anak sedih (unsplash.com/BIPIN SAXENA)

Pada saat orangtua selalu ikut campur dalam setiap keputusan, maka anak tidak akan memiliki ruang untuk belajar dalam menentukan pilihannya sendiri. Hal ini akan membuat mereka tumbuh tanpa kemampuan dalam mengambil keputusan yang matang dan selalu takut salah langkah.

Kontrol berlebihan akan menimbulkan pemberontakan atau bahkan sebaliknya, yaitu anak berujung pasif dan selalu menunggu arahan dari orangtuanya. Kedua hal ini akan membuat perkembangan mental dan kemandirian anak pun jadi lebih terhambat.

4. Mengabaikan perasaan anak

ilustrasi anak sedih
ilustrasi anak sedih (unsplash.com/Tadeusz Lakota)

Meremehkan perasaan anak seperti takut, sedih, atau marah membuat mereka merasa bahwa emosinya tidak penting. Anak pada akhirnya akan sulit dalam mengekspresikan diri dan memilih untuk memendam perasaan karena takut dianggap berlebihan.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, maka anak akan tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang buruk. Mereka juga akan kesulitan dalam mengidentifikasi kebutuhan emosionalnya, dan hal ini sangat memengaruhi hubungan sosial serta kondisi mentalnya.

Mencegah tekanan emosional pada anak dimulai dari kesadaran orangtua terhadap pola asuh sehari-hari. Dengan memahami sikap orangtua yang rentan membuat anak merasa tertekan, orangtua bisa membangun lingkungan yang lebih sportif dan penuh dengan empati. Bantulah anak untuk tumbuh dengan lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki hubungan yang lebih sehat dengan orangtuanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us