Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Standar Ganda Orangtua pada Anak yang Kerap Dianggap Wajar

4 min read
5 Standar Ganda Orangtua pada Anak yang Kerap Dianggap Wajar
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/https://kaboompics.com)
  • Artikel menyoroti ketimpangan ketika orangtua boleh meluapkan emosi atau menolak permintaan, sementara anak dituntut tetap sopan dan dianggap durhaka saat melakukan hal serupa.
  • Pengorbanan orangtua kerap diungkit untuk menuntut kepatuhan, sedangkan kontribusi anak dianggap perhitungan; penolakan bantuan karena keterbatasan juga bisa disalahartikan sebagai ketidakpedulian.
  • Anak dituntut segera meminta maaf dan memahami kondisi orangtua, tetapi kesalahan serta perasaan anak sering diabaikan; hubungan sehat memerlukan pengakuan kesalahan dan saling menghormati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam keluarga, anak sering diajarkan untuk menghormati orangtua, menjaga ucapan, dan memahami keadaan mereka. Ketika melakukan kesalahan, anak diharapkan segera meminta maaf dan memperbaiki sikapnya. Namun, tuntutan yang sama terkadang tidak berlaku ketika orangtua melakukan kesalahan serupa kepada anak.

Perbedaan perlakuan ini bisa membuat anak merasa bahwa aturan dalam keluarga hanya berlaku untuk dirinya. Sikap yang dianggap wajar ketika dilakukan orangtua justru bisa menjadi masalah ketika anak melakukannya. Lalu, apa saja standar ganda orangtua pada anak yang kerap dianggap wajar?

  1. 1. Orangtua boleh marah, tetapi anak harus selalu menjaga sikap

    ilustrasi ibu dan anak
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/cottonbro studio)

    Ketika orangtua membentak anak karena kesal, perilaku tersebut terkadang dianggap sebagai luapan emosi yang bisa dimaklumi. Anak bahkan diminta memahami bahwa orangtua sedang lelah atau menghadapi banyak masalah. Namun, ketika anak menjawab dengan nada tinggi karena merasa tertekan, ia bisa langsung dicap tidak sopan dan tidak menghormati orangtua.

    Perbedaan perlakuan ini dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak memiliki ruang untuk diungkapkan. Padahal, baik orangtua maupun anak sama-sama bisa merasa marah, kecewa, atau lelah. Mengendalikan ucapan dan meminta maaf ketika menyakiti orang lain seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tuntutan bagi anak.

  2. 2. Orangtua boleh menolak permintaan, tapi anak dianggap durhaka saat melakukan hal yang sama

    ilustrasi ibu dan anak
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)

    Orangtua memiliki hak untuk menolak permintaan anak ketika kondisi mereka tidak memungkinkan. Akan tetapi, anak terkadang tidak mendapatkan kebebasan yang sama, terutama ketika orangtua meminta bantuan uang, waktu, atau tenaga. Penolakan anak bisa dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian, bahkan disebut sebagai tanda bahwa ia sudah melupakan pengorbanan orangtuanya.

    Contohnya, anak yang sudah menikah menolak memberikan pinjaman karena keuangan rumah tangganya sedang terbatas. Ia sebenarnya ingin membantu, tetapi harus mempertimbangkan kebutuhan pasangan dan anak-anaknya. Jika penolakan tersebut langsung dianggap sebagai sikap durhaka, anak bisa merasa bersalah karena berusaha menjaga kestabilan keluarganya sendiri. Padahal, menolak permintaan yang tidak mampu dipenuhi tidak selalu berarti seseorang tidak menyayangi orang yang meminta bantuan.

  3. 3. Orangtua boleh mengungkit pengorbanan, tapi anak dianggap perhitungan saat melakukan hal serupa

    ilustrasi ibu dan anak
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/cottonbro studio)

    Sebagian orangtua kerap mengingatkan anak tentang biaya pendidikan, kebutuhan hidup, dan berbagai pengorbanan yang telah mereka berikan. Mengingatkan anak untuk menghargai jasa orangtua tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, persoalan muncul ketika pengorbanan tersebut terus diungkit untuk memenangkan perdebatan atau memaksa anak menuruti semua keinginan.

    Sebaliknya, ketika anak mengungkapkan pengorbanannya sendiri, seperti merawat orangtua yang sakit atau membantu keuangan keluarga, ia bisa dianggap perhitungan dan tidak ikhlas. Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan cara menghargai kontribusi masing-masing. Padahal, pengorbanan seharusnya tidak dijadikan alat untuk merendahkan pihak lain atau membuat seseorang merasa tidak memiliki hak untuk menyampaikan keberatan.

  4. 4. Orangtua boleh melakukan kesalahan, tetapi anak dituntut segera meminta maaf

    ilustrasi ibu dan anak
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/RDNE Stock project)

    Anak biasanya diajarkan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika menyakiti orang lain. Namun, ketika orangtua melakukan kesalahan, sebagian dari mereka memilih diam atau menganggap persoalan tersebut tidak perlu dibahas lagi. Ada pula yang merasa bahwa meminta maaf kepada anak dapat mengurangi wibawa mereka sebagai orangtua.

    Misalnya, orangtua pernah mengucapkan kata-kata yang merendahkan anak saat sedang marah. Setelah suasana kembali tenang, mereka bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ketika anak masih merasa terluka dan mencoba membicarakannya, ia justru diminta melupakan kejadian tersebut. Padahal, mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan wibawa, melainkan menunjukkan kesediaan untuk memperbaiki hubungan.

  5. 5. Orangtua ingin dipahami, tetapi sering mengabaikan perasaan anak

    ilustrasi ibu dan anak
    ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/https://kaboompics.com)

    Ketika orangtua sedang lelah atau mengalami kesulitan, anak sering diminta memaklumi perubahan suasana hati mereka. Anak diharapkan memahami bahwa orangtua memiliki banyak tanggung jawab sehingga terkadang tidak bisa memberikan perhatian seperti biasanya. Namun, ketika anak sedang tertekan dan membutuhkan pengertian, perasaannya justru bisa dianggap berlebihan atau tidak masuk akal.

    Sebagai contoh, seorang anak dewasa sedang menghadapi masalah rumah tangga dan ingin bercerita kepada orangtuanya. Namun, ia justru mendapat tanggapan yang meremehkan atau dibandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih mampu menghadapi kesulitan. Ketika anak memilih menjaga jarak karena merasa tidak didengarkan, ia kemudian dianggap berubah dan tidak lagi peduli kepada keluarga. Padahal, kebutuhan untuk dipahami tidak hanya dimiliki orangtua, tetapi juga anak yang sedang berusaha menjalani kehidupannya.

    Standar ganda orangtua pada anak yang kerap dianggap wajar sudah waktunya dihapuskan. Hal ini dikarenakan orangtua dan anak sama-sama memiliki perasaan, batasan, serta kemungkinan untuk melakukan kesalahan. Menghormati orangtua bukan berarti anak harus selalu menerima perlakuan yang menyakitkan, sebagaimana menjadi orangtua juga bukan berarti seseorang selalu benar. Hubungan keluarga akan lebih sehat ketika setiap pihak bersedia saling memahami, mengakui kesalahan, dan menerapkan sikap saling menghormati tanpa standar ganda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More