Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Punya Ide Bisnis Kuliner? 5 Hal Ini Perlu Diperhatikan Agar Sukses!

5 min read
Punya Ide Bisnis Kuliner? 5 Hal Ini Perlu Diperhatikan Agar Sukses!
ilustrasi pelaku UMKM kuliner. (dok. 123rf.com/ferli)
  • Bisnis kuliner perlu berangkat dari pemahaman selera pelanggan, memanfaatkan masukan untuk memperbaiki rasa, porsi, dan kemasan demi mendorong pembelian berulang.

  • Media sosial dapat memperluas jangkauan melalui konten produk, proses pembuatan, dan ulasan pembeli, tetapi harus didukung informasi jelas serta pelayanan yang baik.

  • Simpati Lombok Kuning meningkatkan produksi dengan mesin otomatis, pembinaan pengelolaan bisnis, dan akses pasar hingga ritel nasional serta ekspor ke Jepang dan Selandia Baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bisnis kuliner punya peluang yang cukup beragam, mulai dari makanan rumahan, camilan, hingga produk kemasan yang bisa dipasarkan lebih luas. Namun, punya produk dengan rasa yang enak saja belum tentu cukup untuk membuat usaha berkembang.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, mulai dari memahami kebutuhan pelanggan hingga mengatur proses produksi. Kalau kamu sedang merintis atau ingin mengembangkan bisnis kuliner, 5 hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan. Check it out!

  1. 1. Kenali kebutuhan dan selera pelanggan

    208614085_m.jpg
    ilustrasi pelaku UMKM kuliner. (dok. 123rf.com/ferli)

    Sebelum mengembangkan produk, coba perhatikan apa yang disukai pelanggan. Respons mereka bisa menjadi petunjuk untuk menentukan produk mana yang punya peluang lebih besar untuk dikembangkan.

    Misalnya, saat berjualan makanan, kamu bisa melihat menu yang paling sering dipesan atau produk yang banyak dibeli kembali. Masukan pelanggan juga bisa membantu kamu memahami hal-hal yang perlu diperbaiki, mulai dari rasa, ukuran porsi, hingga kemasan.

    Dari situ, kamu bisa menentukan langkah berikutnya berdasarkan kebutuhan pasar, bukan sekadar mengikuti tren. Sebab, produk yang sesuai dengan selera pelanggan punya peluang untuk mendapatkan pembelian berulang.

  2. 2. Manfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan

    189388419_m.jpg
    ilustrasi pelaku UMKM kuliner. (dok. 123rf.com/dragonimages)

    Media sosial bisa menjadi salah satu cara untuk mengenalkan produk kepada calon pelanggan. Lewat foto, video proses pembuatan, atau ulasan pembeli, pelaku usaha dapat memberikan gambaran tentang produk yang ditawarkan tanpa harus selalu mengandalkan promosi secara langsung.

    Konten yang dibuat juga gak harus selalu berupa iklan. Kamu bisa membagikan cerita di balik produk, memperkenalkan bahan yang digunakan, atau menunjukkan cara menikmati makanan tersebut.

    Namun, promosi digital tetap perlu diikuti dengan informasi yang jelas dan pelayanan yang baik. Dengan begitu, calon pelanggan gak hanya tertarik melihat produk, tetapi juga punya informasi yang cukup sebelum memutuskan untuk membeli.


  3. 3. Jaga konsistensi kualitas produk

    157248208_m.jpg
    ilustrasi pelaku UMKM kuliner. (dok. 123rf.com/ferli)

    Ketika jumlah pelanggan bertambah, menjaga kualitas menjadi tantangan tersendiri. Produk yang dibeli hari ini idealnya tetap punya kualitas yang sama ketika pelanggan membelinya kembali.

    Dalam bisnis kuliner, konsistensi bisa dimulai dari pemilihan bahan baku, takaran resep, hingga proses pengolahan dan pengemasan. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan kebersihan serta penyimpanan produk agar kualitasnya tetap terjaga.

    Hal ini semakin penting ketika produk mulai dipasarkan melalui toko atau jaringan ritel. Sebab, pelanggan perlu mendapatkan pengalaman yang konsisten, meski membeli produk di tempat yang berbeda.

  4. 4. Tingkatkan kapasitas produksi secara bertahap

    unnamed (8).png
    Melyana Khohari menunjukkan sambal kemasan Simpati Lombok Kuning di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Kamis (22/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

    Saat permintaan meningkat, pelaku usaha perlu mengevaluasi apakah proses produksi yang digunakan masih mampu memenuhi kebutuhan pelanggan. Jika semuanya masih dikerjakan secara manual, misalnya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan bisa semakin besar.

    Hal ini dialami Simpati Lombok Kuning, usaha sambal khas Makassar yang dirintis pasangan Ridwan Wahyudi Candra dan Melyana Khohari pada 2017. Awalnya, sambal dibuat sebagai pelengkap mi yang dijual keluarga mereka. Namun, karena pelanggan juga tertarik membeli sambalnya secara terpisah, keduanya melihat peluang untuk mengembangkan produk tersebut menjadi fokus usaha.

    Seiring meningkatnya permintaan, proses produksi pun berkembang. Pada 2025, Simpati Lombok Kuning menerima bantuan mesin pengisian sambal otomatis atau filling machine dari Bank Indonesia (BI).

    Sebelumnya, pengisian sambal ke dalam botol masih dilakukan secara manual. Penggunaan mesin membantu mempercepat proses pengemasan sekaligus mendukung upaya menjaga kebersihan produksi.

    Kini, Simpati Lombok Kuning mengolah sekitar 150 kilogram cabai per hari untuk menghasilkan kurang lebih 1.800 botol sambal. Kapasitas ini menunjukkan bagaimana pelaku usaha perlu menyesuaikan proses produksi dengan kebutuhan pasar, tanpa mengabaikan kualitas produk.

  5. 5. Pelajari peluang pasar dan pengelolaan bisnis

    unnamed (7).png
    Produk sambal Simpati Lombok Kuning di Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

    Ketika usaha mulai berkembang, pelaku UMKM juga perlu memikirkan strategi jangka panjang. Selain memperluas jangkauan penjualan, pengelolaan keuangan, pembagian tugas, dan perencanaan bisnis perlu diperhatikan agar operasional usaha bisa berjalan lebih terarah.

    Bagi Melyana, mengembangkan usaha juga berarti mengubah cara pandang terhadap bisnis. Hal ini ia rasakan setelah Simpati Lombok Kuning bergabung sebagai UMKM binaan BI pada 2024.

    “Banyak banget. Yang pertama pasti mindset,” kata Melyana saat menceritakan manfaat pembinaan BI bagi perkembangan usahanya.

    Sebelumnya, fokusnya lebih banyak tertuju pada produksi dan penjualan. Melalui pembinaan tersebut, ia mulai memahami pentingnya memisahkan keuangan pribadi dan usaha, menyusun perencanaan bisnis, serta memanfaatkan pemasaran digital. Ia juga belajar bahwa pemilik usaha gak harus mengerjakan seluruh proses operasional sendiri.

    “Sudah bikin sendiri, jual sendiri, cuannya diambil sendiri. Dibagilah sama teman-teman, ambil karyawan, jadi operasionalnya dimanfaatkan, diserahkan ke orang lain. Ibu mikir nih, ke depannya mau seperti apa? Strateginya apa yang dijalankan,” tuturnya.

    Pembinaan tersebut menjadi salah satu bagian dari dukungan BI untuk membantu UMKM memperkuat pengelolaan usaha. Selain pembinaan bisnis dan bantuan peralatan produksi, BI juga memfasilitasi akses pasar agar produk UMKM memiliki kesempatan menjangkau konsumen yang lebih luas.

    Simpati Lombok Kuning menjadi salah satu contohnya. Produk sambal asal Makassar ini telah tersedia di berbagai jaringan ritel, termasuk Alfamart, Alfamidi, dan Indomaret. Pemasarannya juga telah menjangkau luar Sulawesi Selatan.

    Untuk pasar internasional, produk Simpati Lombok Kuning pernah dikirim ke Jepang dan Selandia Baru. BI turut memfasilitasi akses ke pasar Jepang melalui program AMBF serta mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli di Singapura. Pertemuan tersebut menghasilkan pesanan pembelian atau purchase order (PO).

    Perjalanan Simpati Lombok Kuning memperlihatkan bahwa mengembangkan bisnis kuliner membutuhkan sejumlah langkah yang saling berkaitan. Memahami pelanggan menjadi titik awal, sementara pengelolaan usaha, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan pasar membantu pelaku UMKM menyiapkan bisnis untuk tumbuh secara bertahap. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More