Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Kesalahan Finansial yang Sering Membuat UMKM Gulung Tikar
ilustrasi kesalahan finansial yang sering bikin UMKM pemula gulung tikar (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Mencampur uang pribadi dengan kas bisnis membuat arus kas dan laba sulit dipantau; UMKM disarankan memakai rekening terpisah serta menetapkan gaji pemilik.
  • Menghabiskan modal awal tanpa dana cadangan berisiko menghambat operasional saat penjualan sepi; dana darurat bisnis perlu menopang biaya selama 3–6 bulan.
  • Harga jual harus dihitung dari HPP secara rinci, sementara pencatatan pemasukan-pengeluaran terstruktur membantu UMKM mengenali produk, biaya, dan mengambil keputusan berbasis data.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mempunyai impian jadi pengusaha muda dan merintis usaha sendiri emang kelihatan keren di media sosial. Namun,  realita di lapangan sering kali gak seindah media sosial yang biasa kamu lihat. Banyak pebisnis pemula yang bersemangat di awal, tapi beberapa bulan kemudian malah pusing tujuh keliling karena omzet menguap entah ke mana.

Kalau masalah keuangan ini terus didiamkan, bisnis kesayanganmu bisa-bisa terancam rungkad alias gulung tikar dalam waktu singkat. Di momen Hari UMKM Nasional pada 12 Agustus, ini saat yang tepat buat kamu melakukan evaluasi total pada strategi usahamu. Yuk, pelajari kesalahan finansial yang sering bikin UMKM pemula gulung tikar biar bisnismu bisa survive dan makin cuan!


1. Campur aduk dompet pribadi dan kas bisnis

ilustrasi tidak bisa membedakan dompet pribadi dan kas bisnis (pexels.com/Ahsanjaya)

Kesalahan paling klasik yang sering bikin pusing adalah menggabungkan uang belanja harian dengan kas usaha. Awalnya mungkin cuma pinjam Rp50 ribu buat beli jajan, tapi kalau dilakukan terus-menerus, catatan keuanganmu bakal berantakan total. Kamu jadi gak tahu pasti apakah bisnismu sebenarnya menghasilkan untung atau justru sedang buntung.

Niatnya ingin hemat, tapi kebiasaan ini malah bikin kamu buta terhadap cash flow atau arus kas usaha sendiri. Coba bayangkan kamu mau bayar supplier, eh, uangnya malah terpakai buat checkout diskonan e-commerce. Mulai sekarang, wajib hukumnya punya dua rekening terpisah dan tetapkan gaji bulanan buat dirimu sendiri, ya!


2. Terlalu fokus modal awal, lupa siapkan cash buffer

ilustrasi menyiapkan cash buffer (pexels.com/Defrino Maasy)

Banyak pemula yang nekat menghabiskan seluruh tabungan hanya untuk modal awal seperti sewa tempat mahal atau dekorasi tempat yang instagramable. Padahal, bisnis baru butuh waktu buat dikenal orang dan belum tentu langsung menghasilkan keuntungan secara instan di bulan-bulan pertama. Tanpa cadangan dana yang cukup, operasional bisnismu bisa mendadak macet di tengah jalan.

Di sinilah pentingnya kamu memiliki cash buffer alias dana darurat khusus operasional bisnis. Minimal, amankan dana dingin yang sanggup menopang biaya operasional selama 3 hingga 6 bulan ke depan, ya. Jadi, saat penjualan lagi sepi, kamu gak bakal panik sampai harus pinjam sana-sini dengan bunga mencekik.


3. Asal pasang harga tanpa hitung HPP dengan detail

ilustrasi menghitung HPP dengan detail (pexels.com/Mikhail Nilov)

Gak sedikit pebisnis muda yang menetapkan harga jual cuma berdasarkan perasaan atau sekadar ikut-ikutan harga kompetitor. Padahal, tiap bisnis punya struktur biaya yang beda-beda, mulai dari bahan baku, listrik, hingga biaya pengemasan. Kalau kamu menetapkan harga terlalu murah tanpa hitungan matang, kamu sebenarnya lagi merugi tanpa sadar.

Memahami Harga Pokok Penjualan (HPP) itu hukumnya wajib kalau kamu mau bisnismu berumur panjang. Pastikan semua biaya sekecil apa pun, termasuk penyusutan alat dan biaya packing, sudah masuk ke dalam perhitungan HPP. Nah, biar produkmu tetap kompetitif, atur strategi margin keuntungan yang rasional tanpa harus mengorbankan kualitas, ya.


4. Gak punya catatan keuangan yang terstruktur

ilustrasi catatan keuangan yang berantakan (pexels.com/RDNE Stock project)

Merasa skala bisnismu masih kecil jadi gak perlu bikin pembukuan? Eits, pemikiran seperti ini yang sering jadi bumerang buat para pengusaha pemula. Tanpa pencatatan transaksi yang rapi, kamu bakal kesulitan menganalisis produk mana yang paling laku dan mana yang cuma memakan tempat di gudang, lho.

Gak perlu langsung pakai sistem akuntansi yang rumit kok, kamu bisa mulai dari yang sederhana dulu. Manfaatkan aplikasi pencatatan keuangan gratisan di ponsel atau tabel spreadsheet simpel buat mencatat pemasukan dan pengeluaran harian. Kalau catatanmu rapi, kamu bisa mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat dan terukur berdasarkan data real.

Membangun bisnis dari nol memang butuh perjuangan ekstra dan proses belajar yang gak singkat. Jadi, kalau kamu pernah melakukan salah satu dari kesalahan finansial yang sering bikin bisnis UMKM pemula gulung tikar di atas, jangan berkecil hati dan tetap semangat untuk berbenah. Selamat menyambut Hari UMKM Nasional 12 Agustus, teruslah berproses dan jadikan bisnismu makin tangguh!


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article