Menjadi relawan bencana merupakan pengalaman yang penuh makna karena dapat memberikan bantuan kepada orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit. Namun, di balik peran tersebut, relawan juga dapat menghadapi berbagai situasi yang menguras fisik dan mental, seperti melihat korban terluka, menyaksikan kehilangan, berada di lokasi yang rusak parah, atau menghadapi kondisi darurat secara langsung. Paparan terhadap peristiwa traumatis dapat menimbulkan stres dan berbagai reaksi psikologis. Meski begitu, mengalami tekanan setelah bencana tidak otomatis berarti seseorang mengalami PTSD. WHO menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang mengalami peristiwa berpotensi traumatis akan berangsur pulih secara alami, sementara sebagian lainnya dapat mengalami PTSD atau gangguan kesehatan mental lain yang berlangsung lebih lama.
Bagi relawan, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kondisi fisik. Relawan yang terlalu lelah atau terus memaksakan diri juga dapat kesulitan menjalankan tugas secara optimal. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda stres setelah menjalankan misi kemanusiaan dan mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional. Berikut lima cara yang dapat dilakukan untuk membantu menghadapi post-traumatic stress setelah terlibat dalam penanganan bencana.
