5 Cara Relawan Bencana Pulih dari Stres, Kapan Harus Cari Bantuan?

- Relawan bencana dapat mengalami stres setelah paparan situasi traumatis, tetapi tidak semua tekanan berkembang menjadi PTSD; banyak orang pulih secara alami dengan waktu dan perawatan diri.
- Pemulihan dapat didukung lewat istirahat, pola tidur dan makan teratur, aktivitas ringan, teknik relaksasi, serta koneksi dengan rekan, keluarga, atau orang tepercaya.
- Hindari alkohol atau zat lain sebagai pelarian. Cari psikolog atau psikiater bila gejala menetap dan mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari.
Menjadi relawan bencana merupakan pengalaman yang penuh makna karena dapat memberikan bantuan kepada orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit. Namun, di balik peran tersebut, relawan juga dapat menghadapi berbagai situasi yang menguras fisik dan mental, seperti melihat korban terluka, menyaksikan kehilangan, berada di lokasi yang rusak parah, atau menghadapi kondisi darurat secara langsung. Paparan terhadap peristiwa traumatis dapat menimbulkan stres dan berbagai reaksi psikologis. Meski begitu, mengalami tekanan setelah bencana tidak otomatis berarti seseorang mengalami PTSD. WHO menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang mengalami peristiwa berpotensi traumatis akan berangsur pulih secara alami, sementara sebagian lainnya dapat mengalami PTSD atau gangguan kesehatan mental lain yang berlangsung lebih lama.
Bagi relawan, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kondisi fisik. Relawan yang terlalu lelah atau terus memaksakan diri juga dapat kesulitan menjalankan tugas secara optimal. Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda stres setelah menjalankan misi kemanusiaan dan mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional. Berikut lima cara yang dapat dilakukan untuk membantu menghadapi post-traumatic stress setelah terlibat dalam penanganan bencana.
1. Berikan waktu untuk memproses pengalaman traumatis

Ilustrasi volunteer sedang bersantai (pexels.com/RDNE Stock project) Setelah kembali dari lokasi bencana, jangan langsung menganggap bahwa semua perasaan tidak nyaman harus segera hilang. Relawan mungkin mengalami rasa takut, sedih, mudah terkejut, sulit tidur, teringat kembali kejadian tertentu, atau merasa emosional ketika melihat sesuatu yang mengingatkan pada lokasi bencana. Reaksi tersebut dapat muncul setelah seseorang meninggalkan lokasi kejadian dan kembali ke kehidupan sehari-hari. Penting untuk memahami bahwa respons setiap orang terhadap pengalaman traumatis berbeda-beda.
Berikan diri sendiri kesempatan untuk beristirahat dan memproses pengalaman secara perlahan. Tidak perlu memaksakan diri untuk menceritakan seluruh kejadian jika belum siap. Berbicara dengan orang yang dipercaya ketika sudah merasa nyaman dapat menjadi salah satu bentuk dukungan. WHO juga merekomendasikan tetap menjalankan rutinitas sehari-hari sebisa mungkin serta terhubung dengan orang-orang yang dipercaya sebagai bagian dari perawatan diri setelah mengalami trauma.
2. Jaga pola tidur, makan, dan aktivitas fisik

Ilustrasi sedang berolahraga (pexels.com/Pexels LATAM) Kondisi tubuh memiliki hubungan erat dengan kemampuan seseorang menghadapi stres. Selama berada di lokasi bencana, relawan mungkin harus bekerja dalam waktu panjang, kurang tidur, makan tidak teratur, dan terus berada dalam situasi yang penuh tekanan. Setelah tugas selesai, tubuh membutuhkan kesempatan untuk memulihkan energi. Karena itu, jangan menganggap istirahat sebagai sesuatu yang tidak produktif.
Usahakan kembali ke pola tidur yang teratur, makan dengan cukup, memenuhi kebutuhan cairan, dan melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau stretching. WHO menyebut menjaga kebiasaan tidur yang sehat dan berolahraga secara rutin, bahkan hanya berjalan kaki singkat, sebagai bagian dari self-care bagi orang yang mengalami gejala setelah trauma. Teknik pengelolaan stres seperti latihan pernapasan dan relaksasi otot juga dapat membantu.
3. Jangan menghadapi semuanya sendirian

Ilustrasi teman volunteer (pexels.com/RDNE Stock project) Relawan terkadang merasa harus selalu kuat karena terbiasa menjadi pihak yang memberikan bantuan kepada orang lain. Padahal, mereka juga memiliki batas kemampuan secara fisik dan emosional. Menyampaikan bahwa diri sendiri sedang lelah, takut, sedih, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat bukan berarti gagal menjadi relawan. Justru, mengakui kondisi diri dapat membantu mencegah tekanan semakin menumpuk.
Cobalah tetap terhubung dengan rekan sesama relawan, keluarga, atau orang yang dipercaya. Berbagi pengalaman tidak harus selalu berupa pembicaraan panjang mengenai kejadian traumatis. Sekadar berbicara tentang aktivitas sehari-hari, melakukan kegiatan bersama, atau mendapatkan dukungan emosional juga dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian. Dukungan sosial setelah peristiwa traumatis diketahui dapat menurunkan risiko berkembangnya PTSD.
4. Hindari menggunakan alkohol atau zat lain untuk melupakan trauma

Ilustrasi minuman alkohol (pexels.com/gsgbfrbhe) Setelah mengalami kejadian yang berat, seseorang mungkin tergoda mencari cara cepat untuk mengurangi rasa cemas, sulit tidur, atau ingatan buruk. Salah satunya dengan menggunakan alkohol atau zat tertentu. Meskipun mungkin memberikan rasa lega sementara, cara tersebut tidak menyelesaikan sumber masalah dan justru dapat memperburuk gejala atau mengganggu proses pemulihan.
Sebagai alternatif, gunakan cara yang lebih sehat untuk mengelola stres, seperti olahraga ringan, latihan pernapasan, melakukan hobi, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau kembali menjalankan rutinitas secara bertahap. WHO secara khusus menyarankan untuk menghindari atau mengurangi konsumsi alkohol dan zat terlarang karena dapat memperburuk gejala PTSD.
5. Jangan ragu mencari bantuan profesional

Ilustrasi menjalankan konseling (pexels.com/Vitaly Gariev) Jika rasa takut, ingatan traumatis, gangguan tidur, kecemasan, perilaku menghindar, atau kondisi emosional lainnya terus berlangsung dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan profesional. PTSD bukan sekadar kurang kuat menghadapi keadaan. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan mental yang dapat ditangani dan bukan sesuatu yang harus dihadapi sendirian.
Penanganan PTSD dapat dilakukan melalui psikoterapi berbasis bukti. WHO menyebut terapi psikologis sebagai pilihan utama, dengan terapi yang berfokus pada trauma seperti trauma-focused cognitive behavioural therapy dan EMDR memiliki bukti efektivitas yang kuat. National Center for PTSD juga mencantumkan Cognitive Processing Therapy (CPT), Prolonged Exposure (PE), dan EMDR sebagai terapi yang paling banyak didukung bukti untuk PTSD. Jika gejala terasa semakin berat atau mengganggu fungsi sehari-hari, berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penilaian dan penanganan yang sesuai.
Menjadi relawan bencana berarti memberikan waktu, tenaga, dan kepedulian untuk membantu orang lain. Namun, kepedulian tersebut tidak berarti seorang relawan harus mengabaikan dirinya sendiri. Setelah menghadapi situasi yang berat, mengambil waktu untuk beristirahat, menjaga kondisi tubuh, mendapatkan dukungan sosial, menghindari cara coping yang berisiko, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan merupakan bagian penting dari proses pemulihan.
Yang tidak kalah penting, tidak semua stres setelah bencana berarti PTSD. Namun, jika gejala menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan menunggu sampai kondisinya semakin berat untuk mencari bantuan. Merawat kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan langkah penting agar para relawan dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat sekaligus terus memberikan kontribusi bagi orang lain.



![[QUIZ] Dari Quotes Kehidupan, Ini Karakter yang Cocok Kamu Jadikan Pacar](https://image.idntimes.com/post/20240815/pexels-gustavo-fring-4148953-11789c929cb4408e3b90e602748a8d37.jpg)

















