Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Ciri Maladaptive Daydreaming, Kapan Lamunan Perlu Diwaspadai?
ilustrasi wanita merenung (pexels.com/Anna Shvets)
  • Maladaptive daydreaming adalah lamunan intens dan berulang yang sulit dikendalikan, hingga mengganggu pekerjaan, rutinitas, konsentrasi, dan tanggung jawab sehari-hari.
  • Ciri yang perlu diperhatikan meliputi cerita imajinatif sangat hidup, dorongan terus melamun, serta penggunaan lamunan untuk menghindari kesepian, tekanan, kekecewaan, atau emosi tidak nyaman.
  • Kebiasaan ini dapat mengganggu hubungan sosial dan kualitas hidup; bila memicu tekanan emosional atau mengambil alih keseharian, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat dipertimbangkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melamun merupakan aktivitas yang wajar dan sering terjadi saat pikiran mulai menjelajahi berbagai kemungkinan di luar kenyataan. Ada kalanya seseorang membayangkan kehidupan ideal, menyusun percakapan yang belum terjadi, atau menciptakan cerita sendiri untuk mengusir rasa bosan. Namun, ketika aktivitas tersebut berlangsung terlalu lama hingga mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, dan rutinitas sehari-hari, kebiasaan melamun bisa menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.

Salah satu istilah yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah maladaptive daydreaming, yaitu pengalaman melamun secara intens dan berulang hingga sulit dikendalikan serta menimbulkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang, dunia imajinasi terasa begitu menarik sampai kenyataan justru menjadi bagian yang sulit untuk dihadapi. Supaya lebih memahami perbedaannya dengan lamunan biasa, yuk kenali lima ciri yang perlu diperhatikan berikut ini!

1. Lamunan berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas

ilustrasi muslim merenung (pexels.com/Keira Burton)

Salah satu ciri maladaptive daydreaming adalah kecenderungan menghabiskan waktu berlebihan dalam dunia imajinasi. Seseorang dapat larut dalam cerita yang dibuat oleh pikirannya sendiri selama berjam-jam, bahkan tanpa menyadari bahwa banyak waktu telah berlalu. Akibatnya, tugas pekerjaan, kewajiban rumah tangga, atau kegiatan sederhana yang seharusnya selesai justru tertunda.

Kondisi ini berbeda dari melamun sesekali ketika sedang bosan atau membutuhkan jeda dari rutinitas. Pada lamunan yang mengganggu, seseorang dapat berulang kali kehilangan fokus karena pikirannya kembali pada cerita imajinatif yang terasa lebih menarik. Jika kebiasaan tersebut terus berulang, produktivitas dan keteraturan aktivitas sehari-hari bisa ikut terdampak.

2. Sulit menghentikan lamunan meski ingin kembali fokus

ilustrasi pria merenung (pexels.com/August de Richelieu)

Ciri berikutnya adalah kesulitan mengendalikan keinginan untuk terus melamun, bahkan ketika seseorang menyadari bahwa ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Niat untuk kembali fokus mungkin sudah muncul, tetapi pikiran kembali terseret ke dalam cerita yang terasa menyenangkan atau memuaskan secara emosional. Situasi ini dapat menimbulkan konflik batin karena seseorang ingin menyelesaikan tanggung jawabnya, tetapi merasa sulit meninggalkan dunia imajinasi.

Dorongan tersebut juga dapat muncul berulang kali meskipun seseorang sudah mencoba mengurangi waktu melamun. Ketika perhatian kembali teralihkan, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi menjadi lebih sulit untuk diselesaikan dengan baik. Perlu dipahami bahwa kesulitan mengendalikan lamunan saja belum cukup untuk memastikan adanya maladaptive daydreaming, tetapi pola yang menetap dan mengganggu patut mendapat perhatian.

3. Cerita imajinatif terasa sangat hidup dan mendalam

ilustrasi wanitia merenung (pexels.com/cottonbro studio)

Pada maladaptive daydreaming, lamunan dapat berkembang menjadi cerita yang kompleks dengan tokoh, alur, konflik, dan hubungan antarkarakter yang terasa konsisten. Seseorang mungkin membayangkan dirinya sebagai tokoh utama dalam kehidupan yang berbeda, menjalani hubungan ideal, atau mengalami pencapaian yang belum terwujud di dunia nyata. Detail cerita tersebut dapat berkembang dari waktu ke waktu sehingga aktivitas melamun terasa seperti memasuki dunia alternatif yang kaya akan pengalaman emosional.

Keterlibatan emosional yang kuat membuat cerita imajinatif tersebut terasa menyenangkan, menenangkan, atau bahkan lebih memuaskan dibanding aktivitas sehari-hari. Seseorang dapat merasakan kegembiraan, kesedihan, atau ketegangan seolah sedang mengikuti peristiwa yang benar-benar terjadi. Meski begitu, lamunan yang terasa hidup tidak otomatis menunjukkan gangguan, selama seseorang tetap mampu membedakan imajinasi dari kenyataan dan aktivitas tersebut gak menghambat kehidupannya.

4. Menggunakan lamunan sebagai pelarian dari emosi yang tidak nyaman

ilustrasi wanita merenung (pexels.com/Happy Pixels)

Dunia imajinasi terkadang menjadi tempat berlindung ketika seseorang menghadapi kesepian, tekanan, kekecewaan, atau rasa tidak puas terhadap kehidupan nyata. Melalui lamunan, seseorang dapat menciptakan situasi yang memberikan rasa aman, penerimaan, atau kendali yang sulit ditemukan dalam keseharian. Jika pengalaman tersebut terasa jauh lebih nyaman dibanding menghadapi masalah secara langsung, keinginan untuk terus melamun dapat semakin kuat.

Dalam jangka panjang, pola ini berpotensi membuat seseorang menunda penyelesaian masalah atau menghindari interaksi yang sebenarnya dibutuhkan. Perasaan tidak nyaman mungkin mereda sesaat ketika lamunan berlangsung, tetapi persoalan yang mendasarinya belum tentu ikut terselesaikan. Karena itu, penting untuk mengenali apakah melamun sekadar menjadi sarana beristirahat atau justru menjadi cara utama untuk menghadapi emosi yang sulit.

5. Hubungan sosial dan kualitas hidup mulai terganggu

ilustrasi wanita merenung (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Ketika waktu dan perhatian terlalu banyak terserap oleh lamunan, hubungan dengan orang lain dapat ikut terdampak. Seseorang mungkin lebih sering menolak ajakan berkumpul, kehilangan fokus saat berbicara, atau merasa kurang tertarik terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat hubungan dengan keluarga dan teman menjadi renggang serta memunculkan perasaan terisolasi.

Dampaknya gak selalu terlihat dari luar karena seseorang masih mungkin menjalankan rutinitas tertentu seperti biasa. Namun, di balik itu, ia dapat merasa frustrasi karena kesulitan mengatur waktu, memenuhi tanggung jawab, atau mengurangi kebiasaan melamun yang menyita perhatian. Apabila kondisi tersebut menimbulkan tekanan emosional atau mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat untuk memahami kebutuhan dan dukungan yang sesuai.

Maladaptive daydreaming menggambarkan pengalaman melamun intens yang dapat mengganggu aktivitas, konsentrasi, dan hubungan sosial ketika sulit dikendalikan. Meski demikian, melamun dalam waktu lama atau memiliki imajinasi yang kaya gak serta-merta berarti seseorang mengalami kondisi tersebut. Jika lamunan mulai mengambil alih kehidupan sehari-hari dan menimbulkan tekanan, mengenali polanya serta mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah awal untuk membangun keseimbangan yang lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article