Istilah psikologi semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika seseorang membahas hubungan, konflik pertemanan, atau masalah emosional. Istilah seperti trauma, toxic, gaslighting, dan self-love memang dapat membantu seseorang memahami pengalaman batin dengan lebih baik. Namun, ketika istilah tersebut digunakan secara sembarangan, ada kemungkinan seseorang justru menjadikannya tameng untuk membenarkan perilaku yang merugikan orang lain.
Pernah gak kamu menemukan seseorang yang berkata sedang menjaga kesehatan mental, padahal ia terus mengabaikan perasaan orang lain tanpa mau berdiskusi? Atau, seseorang yang menyebut dirinya memiliki attachment issue setiap kali perilakunya yang menyakitkan dipertanyakan? Yuk, pahami lima motif di balik penggunaan istilah psikologi untuk membela sikap buruk agar kamu bisa membedakan upaya memahami diri sendiri dari kebiasaan mencari pembenaran!
