Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Saja Indikator Hidup Layak yang Sering Diabaikan? Ini Jawabannya

7 min read
Apa Saja Indikator Hidup Layak yang Sering Diabaikan? Ini Jawabannya
ilustrasi hidup layak (unsplash.com/Leonardo Iribe)
  • Hidup layak tidak cukup diukur dari pekerjaan dan kemampuan bertahan hingga akhir bulan, melainkan pemenuhan kebutuhan dasar secara aman dan bermartabat.

  • Indikator penting mencakup makanan bergizi, hunian aman dengan sanitasi memadai, serta akses berobat tanpa harus mengorbankan kebutuhan makan atau tempat tinggal.

  • Pendidikan anak, transportasi terjangkau, waktu istirahat, dan kemampuan menghadapi pengeluaran mendadak menentukan ketahanan ekonomi serta kualitas hidup sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya pekerjaan, menerima gaji setiap bulan, dan masih bisa makan sampai akhir bulan sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah hidup layak. Padahal, kondisi seseorang tidak bisa dinilai hanya dari apakah ia masih mampu memenuhi kebutuhan hari ini. Ada orang yang tetap masuk kerja setiap hari, tetapi terpaksa harus berutang untuk membayar kontrakan, mengurangi porsi makan agar uangnya cukup, bahkan rela menunda berobat karena tak punya dana. Dari luar, kehidupannya mungkin terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya banyak kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.

Masalahnya, kita kadang terlalu terbiasa melihat kesulitan semacam itu sebagai bagian normal dari kehidupan. Selama masih bisa bertahan, keadaan dianggap cukup, sekalipun seseorang tidak punya waktu istirahat, tempat tinggal yang aman, atau uang untuk menghadapi pengeluaran tak terduga. Padahal, hidup layak bukan sekadar soal memiliki pekerjaan atau tidak jatuh miskin. Ada sejumlah kebutuhan konkret yang menentukan apakah seseorang benar-benar bisa menjalani hidup dengan aman dan bermartabat.

  1. 1. Bisa makan bergizi, bukan sekadar mengisi perut

    ilustrasi makanan bergizi
    ilustrasi makanan bergizi (vecteezy.com/Prakasit Khuansuwan)

    Seseorang mungkin bisa makan tiga kali sehari, tetapi belum tentu mendapatkan asupan gizi yang cukup. Ketika harga bahan pangan meningkat sementara penghasilan tidak banyak berubah, lauk berprotein seperti telur, ikan, daging, dan sumber protein lainnya bisa menjadi barang yang mulai dikurangi. Belanja bulanan akhirnya lebih banyak diisi makanan yang mengenyangkan, sedangkan variasi bahan pangan dan kualitas gizi harus mengalah demi menyesuaikan anggaran. Perut memang terisi, tetapi kebutuhan tubuh belum tentu terpenuhi dengan baik.

    Kondisi ini sering luput karena ukuran kecukupan pangan hanya dilihat dari ada atau tidaknya makanan. Padahal, orang juga perlu mendapatkan asupan yang beragam dan sesuai kebutuhan tubuhnya. Jika seseorang terus-menerus mengurangi porsi, melewatkan waktu makan, atau mengganti makanan bergizi dengan pilihan yang kurang memadai karena tidak punya uang, itu bukan sekadar persoalan selera atau gaya hidup. Kemampuan membeli makanan yang cukup dan bergizi merupakan bagian mendasar dari hidup layak.

  2. 2. Memiliki tempat tinggal yang aman dan manusiawi

    ilustrasi  tempat tinggal
    ilustrasi tempat tinggal (freepik.com/freepik)

    Tempat tinggal bukan hanya soal punya atap untuk berteduh. Rumah atau kamar yang layak seharusnya melindungi penghuninya dari cuaca, memiliki akses air bersih dan sanitasi yang memadai, serta memberikan ruang yang cukup untuk beristirahat. Namun, karena harga sewa dan properti terus menjadi beban bagi banyak orang, sebagian terpaksa tinggal di tempat yang lembap, minim ventilasi, terlalu padat, atau memiliki fasilitas sanitasi yang buruk. Selama masih bisa ditempati, kondisi semacam ini kadang dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

    Padahal, lingkungan tempat tinggal memengaruhi kesehatan, privasi, dan keselamatan penghuninya. Orang yang tinggal di kamar sempit bersama banyak orang mungkin kesulitan tidur dengan nyaman, sementara mereka yang tinggal di bangunan dengan instalasi listrik bermasalah menghadapi risiko keselamatan. Belum lagi penyewa yang terus khawatir diusir karena tidak sanggup membayar sewa tepat waktu. Hidup layak berarti memiliki tempat tinggal yang bukan hanya tersedia, tetapi juga cukup aman dan manusiawi untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

  3. 3. Bisa berobat tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain

    ilustrasi berobat
    ilustrasi berobat (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

    Akses kesehatan sering baru dianggap penting ketika seseorang jatuh sakit. Padahal, hidup layak juga berarti mampu memeriksakan kondisi tubuh, membeli obat yang diperlukan, dan mendapatkan perawatan tanpa harus menghadapi hambatan biaya yang tidak tertanggungkan. Kepemilikan jaminan kesehatan memang membantu, tetapi tidak otomatis menghilangkan seluruh beban. Ongkos transportasi menuju fasilitas kesehatan, waktu yang harus diambil dari pekerjaan, hingga biaya kebutuhan pendukung tetap bisa menjadi kendala.

    Bayangkan, jika ada seorang pekerja yang mengalami sakit gigi selama berminggu-minggu, tetapi memilih menahannya karena khawatir biaya pengobatan akan mengurangi uang belanja. Atau seseorang yang terus bekerja dalam kondisi tidak sehat karena tidak sanggup kehilangan pendapatan sehari. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar tersedia atau tidaknya fasilitas kesehatan, melainkan apakah seseorang benar-benar bisa mengaksesnya ketika membutuhkan. Jika biaya berobat selalu harus bersaing dengan kebutuhan makan dan tempat tinggal, kesejahteraan orang tersebut masih rentan.

  4. 4. Mampu menyekolahkan anak tanpa terus-menerus terlilit biaya

    ilustrasi menyekolahkan anak
    ilustrasi menyekolahkan anak (pexels.com/Nasirun Khan)

    Pendidikan menjadi salah satu penentu kesempatan seseorang untuk memperbaiki kehidupannya. Namun, kemampuan mengakses pendidikan tidak cukup dinilai dari apakah anak sudah terdaftar di sekolah. Keluarga juga perlu memenuhi kebutuhan pendukung seperti transportasi, perlengkapan belajar, akses internet jika dibutuhkan, serta biaya kegiatan sekolah yang relevan. Bagi rumah tangga dengan penghasilan terbatas, pengeluaran ini bisa terasa berat ketika harus dibayar bersamaan dengan kebutuhan sehari-hari.

    Tekanan keuangan bahkan dapat memengaruhi pilihan pendidikan dalam jangka panjang. Anak mungkin tidak bisa mengikuti kegiatan belajar tambahan, kesulitan mengakses perangkat untuk mengerjakan tugas, atau harus memilih sekolah berdasarkan jarak dan biaya semata. Bukan berarti setiap anak harus mengikuti les atau memiliki fasilitas mahal agar hidupnya layak. Intinya, kondisi ekonomi keluarga seharusnya tidak membuat anak kehilangan akses terhadap kebutuhan pendidikan yang mendasar. Kesempatan belajar yang memadai perlu menjadi bagian dari ukuran kesejahteraan, bukan dianggap sebagai pengeluaran tambahan yang hanya bisa dinikmati keluarga berkecukupan.

  5. 5. Punya transportasi yang memungkinkan aktivitas sehari-hari berjalan wajar

    ilustrasi transportasi
    ilustrasi transportasi (unsplash.com/Dennis Siqueira)

    Kemampuan bepergian dengan aman dan biaya yang terjangkau juga sering terlupakan ketika membicarakan hidup layak. Seseorang mungkin memiliki pekerjaan, tetapi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk pergi dan pulang karena tempat tinggalnya jauh dari lokasi kerja. Jika transportasi umum terbatas, ia mungkin terpaksa mengeluarkan lebih banyak uang untuk kendaraan pribadi, ojek, atau moda transportasi lain. Penghasilan yang diterima setiap bulan akhirnya banyak terserap sebelum digunakan untuk kebutuhan lainnya.

    Masalah transportasi bukan hanya tentang ongkos. Waktu perjalanan yang terlalu panjang bisa mengurangi waktu tidur, kesempatan mengurus keluarga, dan ruang untuk menjalani kehidupan di luar pekerjaan. Bagi orang yang tinggal di wilayah dengan akses transportasi terbatas, pergi ke rumah sakit, sekolah, atau pusat layanan publik pun bisa menjadi urusan yang melelahkan dan mahal. Hidup layak berarti seseorang memiliki akses mobilitas yang memungkinkan kebutuhan dasarnya terpenuhi tanpa harus mengorbankan terlalu banyak uang, tenaga, dan waktu.

  6. 6. Memiliki waktu istirahat di luar jam kerja

    ilustrasi istirahat
    ilustrasi istirahat (pexels.com/ Thirdman)

    Orang yang bekerja keras sering dianggap sedang berjuang memperbaiki hidupnya. Namun, jam kerja yang panjang bukan selalu tanda produktivitas atau kemajuan ekonomi. Ada pekerja yang mengambil lembur atau pekerjaan tambahan bukan karena ingin membeli barang mewah, melainkan karena pendapatan dari pekerjaan utama tidak cukup untuk membayar kebutuhan pokok. Akibatnya, waktu untuk tidur, berolahraga, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar memulihkan tenaga semakin sedikit.

    Kondisi ini perlu dibedakan dari kesibukan yang memang dipilih dan masih bisa dikelola. Jika seseorang terus bekerja sampai kelelahan karena tidak punya pilihan lain, berarti ada tekanan ekonomi yang membatasi kualitas hidupnya. Istirahat bukan hadiah yang baru pantas dinikmati setelah semua pekerjaan selesai atau penghasilan mencapai angka tertentu. Tubuh butuh pulih, sedangkan manusia juga tak luput atas hubungan sosial serta kegiatan di luar pekerjaan. Kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sambil tetap memiliki waktu untuk beristirahat merupakan bagian penting dari hidup layak.

  7. 7. Bisa menghadapi pengeluaran mendadak tanpa langsung berutang

    ilustrasi pengeluaran mendadak
    ilustrasi pengeluaran mendadak (pexels.com/Ahsanjaya)

    Penghasilan yang cukup untuk membayar seluruh tagihan bulanan belum tentu membuat seseorang memiliki kondisi keuangan yang aman. Ada keluarga yang mampu membayar kontrakan, makan, dan transportasi, tetapi tidak memiliki uang tersisa ketika motor rusak, anggota keluarga sakit, atau kebutuhan rumah tangga mendadak muncul. Satu pengeluaran tak terduga bisa membuat mereka terpaksa meminjam uang, menunggak tagihan, atau mengurangi belanja kebutuhan pokok pada bulan berikutnya.

    Kemampuan menghadapi kejadian semacam ini merupakan indikator kesejahteraan yang penting karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dana darurat memang idealnya disiapkan secara bertahap, tetapi tidak semua orang memiliki ruang untuk menyisihkan uang setelah memenuhi kebutuhan wajib. Karena itu, ketiadaan tabungan tidak seharusnya langsung dianggap sebagai akibat seseorang boros atau tidak pandai mengatur keuangan. Perlu dilihat juga apakah pendapatannya memang cukup untuk menutup kebutuhan dasar. Jika seluruh penghasilan habis untuk bertahan hidup dan sedikit masalah saja membuat kondisi keuangan goyah, berarti kemampuan rumah tangga tersebut menghadapi risiko masih sangat terbatas.

    Hidup layak tidak bisa diukur hanya dari kepemilikan rumah, pekerjaan tetap, atau kemampuan membayar kebutuhan bulan ini. Kualitas makanan, keamanan tempat tinggal, akses kesehatan, pendidikan, transportasi, waktu istirahat, dan ketahanan menghadapi keadaan darurat sama-sama memengaruhi kehidupan seseorang. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut belum terpenuhi, persoalannya tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh orang lebih hemat atau bekerja lebih keras. Menurutmu, indikator hidup layak mana yang paling sering dianggap sepele, padahal dampaknya besar bagi kehidupan sehari-hari?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More