Tren low-buy semakin menarik perhatian sebagai cara untuk mengendalikan pengeluaran dan mengurangi kebiasaan konsumtif. Melalui tren ini, seseorang membatasi pembelian barang yang tidak terlalu dibutuhkan, seperti pakaian baru, produk kecantikan, atau barang-barang yang sekadar menarik perhatian sesaat. Sekilas, kebiasaan tersebut terdengar positif karena bisa membantu mengatur keuangan sekaligus mengurangi penumpukan barang.
Namun, membatasi konsumsi tidak selalu berjalan tanpa konsekuensi. Ketika aturan pengeluaran diterapkan terlalu ketat, upaya hidup lebih hemat justru berpotensi menimbulkan tekanan baru, mulai dari rasa bersalah hingga kesulitan memenuhi kebutuhan yang sebenarnya penting. Lantas, apa saja sisi gelap tren low-buy yang perlu dipertimbangkan sebelum menjadikannya bagian dari gaya hidup? Simak beberapa sisi gelapnya berikut ini!
