Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Alasan Buku Fisik Bisa Bikin Pikiran Lebih Fokus dan Kurangi Kecemasan
ilustrasi membaca (pexels.com/Helena Lopes)
  • Buku fisik dinilai lebih ramah mata dan memberi pengalaman nyata lewat sentuhan, sehingga membantu meredakan kecemasan serta mengurangi brain fog.
  • Tanpa notifikasi, panggilan, atau perubahan layar, membaca buku cetak cenderung meminimalkan distraksi dan menciptakan suasana hening seperti meditasi.
  • Catatan dan penanda pada halaman dapat membantu ingatan, sementara susunan buku yang sistematis menata fokus; pilihan bacaan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pembaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sekarang makin banyak cara untuk membaca buku. Selain buku fisik atau cetak, juga tersedia banyak sekali buku digital yang dapat diakses melalui berbagai aplikasi. Namun, era buku fisik belum berakhir.

Banyak pembaca merasa lebih nyaman membaca buku cetak daripada buku digital meski judulnya sama. Salah satu alasannya, membaca buku fisik lebih ramah untuk mata. Mata menjadi tidak cepat lelah bahkan mencegah sakit kepala akibat screen time berkepanjangan.

Kembali atau lebih memprioritaskan buku fisik ternyata juga bisa membantu mengurangi kecemasan serta brain fog. Brain fog ditandai oleh melemahnya fokus, pikiran terasa kacau, dan kemampuan berpikir melambat. Yuk, baca dulu alasannya lalu segera beli atau pinjam buku cetak yang menarik minatmu.

1. Lebih merasakan adanya buku secara nyata di tangan

ilustrasi membaca (pexels.com/RDNE Stock project)

Sadar gak kalau kecemasan kadang juga dipicu oleh hidup yang makin terasa kurang nyata? Apalagi di zaman media sosial seperti sekarang. Tentu mungkin ada berbagai masalah lain yang sedang dihadapi olehmu.

Seperti kesulitan mencari pekerjaan yang membuatmu sangat mencemaskan masa depan, proposal skripsi yang tak kunjung di-ACC dosen, dan sebagainya. Namun, model-model interaksi tidak secara langsung seperti yang terjadi di media sosial juga dapat menambah kecemasan. Orang-orangnya terasa gak nyata sekalipun ada banyak akun yang rajin posting dan berkomentar.

Dengan kamu membaca buku fisik, wujud buku benar-benar nyata. Bisa dilihat ketebalannya begitu ditaruh di hadapanmu. Buku juga dapat dipegang sehingga indra perabamu tahu sepenuhnya benda tersebut. Buku fisik memberimu kejelasan di tengah segala bentuk ketidakpastian dalam hidupmu. Kabut yang menyelubungi pikiran juga ikut menipis perlahan-lahan.

2. Tidak sering terdistraksi

ilustrasi membaca (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pastinya sumber distraksi atau pemecah konsentrasi bisa ada di mana saja. Tidak hanya dari penggunaan gadget. Saat kamu membaca buku fisik kemudian datang kurir paket pun pasti langsung terdistraksi.

Namun, gangguan seperti di atas selama dirimu membaca buku cetak tak terlalu sering terjadi. Lain dengan ketika kamu membaca buku digital dengan gadget. Layar tersentuh sedikit saja halaman bisa berubah.

Belum tentu aplikasinya memudahkanmu untuk kembali ke halaman yang terakhir dibaca. Mungkin kamu perlu mengingat-ingat tadi sampai halaman berapa lalu scrolling lagi dari awal. Fokus membaca dapat berkurang. Tadinya dirimu ingin membaca penuh 1 jam menjadi hanya betah beberapa menit.

3. Bisa menulis di halaman dan kasih penanda

ilustrasi membaca (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Saat kamu mengalami brain fog, daya ingat mulai menurun. Penyebabnya dirimu sering tidak fokus. Untuk mengembalikan tingkat konsentrasi serta ingatanmu, membaca biasa saja gak cukup. Kamu gampang lupa akan apa yang tadi atau kemarin dibaca.

Penting buatmu bikin coretan di halaman buku untuk mengasah ingatan. Misalnya, dirimu membaca novel dengan banyak nama tokoh. Baru beberapa halaman kamu sudah lupa siapa A, B, dan seterusnya.

Kasih catatan kecil di bagian yang gampang terlupakan olehmu langsung di atas atau bawahnya sangat menolong menajamkan kembali ingatan. Ini jelas bisa dilakukan jika dirimu membaca buku cetak. Sementara aplikasi membaca belum tentu memiliki fitur ini. Kamu mau menempel label penanda di buku fisik juga sangat gampang.

4. Seperti meditasi beberapa menit hingga jam

ilustrasi membaca (pexels.com/duy dinh)

Tidak terjadi tampilan layar yang mendadak berubah karena tak sengaja tersentuh. Gak ada notifikasi masuk ketika kamu asyik membaca. Tak ada pula panggilan telepon di gadget yang dipakai buat membaca buku digital.

Juga tidak dengan baterai yang melemah dan harus segera diisi. Kamu tak perlu mencemaskan apa pun saat membaca buku fisik. Gak ada rasa bersalah seperti apabila dirimu melihat notifikasi pesan, tapi tak segera menjawabnya.

Duniamu menjadi jauh lebih hening saat kamu membaca buku cetak. Apalagi kalau dirimu membaca di sudut tertentu yang benar-benar bersih dari benda lain. Hanya ada satu buku fisik yang sedang dibaca serta kamu sendiri. Inilah cara lain bermeditasi buat menenangkan diri dan menghilangkan kecemasan.

5. Isi buku selalu sistematis, gak acak

ilustrasi membaca (pexels.com/Ariel Castillo)

Terlepas bukunya versi cetak atau digital, buku pasti disusun secara sistematis. Bahkan untuk novel dengan alur campuran atau maju mundur gak akan bikin pembaca kebingungan. Penulis yang ahli membuat setiap bagiannya rapi sehingga mudah diikuti.

Apalagi ada bantuan editor untuk menyunting naskah sebelum naik cetak dan beredar di pasaran. Dengan proses berlapis begini, membaca buku menjadi kegiatan yang amat menyenangkan. Pikiran yang semula terbiasa melompat-lompat ke berbagai isu karena akses berlebihan ke media sosial menjadi tertata kembali.

Segala yang acak tidak hanya membuatmu sukar fokus. Namun, juga dapat menyebabkan kecemasan karena kamu benar-benar tak dapat memprediksi apa yang akan muncul selanjutnya. Isi buku apalagi dalam format cetak sangat mudah diikuti.

6. Namun, pilihan bacaan juga berpengaruh

ilustrasi membaca (pexels.com/Yazid N)

Secara umum, aktivitas membaca buku fisik membantumu meredakan kecemasan dan membebaskanmu dari brain fog. Untuk kabut otak, efektivitas membaca tak perlu lagi diragukan. Namun, buat mengatasi anxiety pilihan buku juga berpengaruh besar.

Saat kamu mencemaskan hubunganmu dengan pasangan misalnya, membaca novel yang sarat masalah rumah tangga cenderung meningkatkan kecemasan. Persoalan kalian tidak seberat dalam novel. Akan tetapi, apa yang tertulis dalam kisah tersebut seakan-akan membayangi hubungan kalian.

Kamu menjadi tambah ketar-ketir. Bagaimana bila masalah kalian tambah pelik dan menjadi persis seperti isi novel? Pilih bacaanmu dengan cermat sesuai kebutuhan. Jika hubunganmu dengan pasangan terganggu, pilih buku yang membahas berbagai solusi praktis dalam relationship.

Kembali membaca buku fisik di tengah digitalisasi bukan langkah mundur dalam literasi. Apalagi ketika membaca buku cetak dapat membantumu merasa lebih nyaman, gak lagi sering cemas, dan pikiran kembali tajam. Selalu sediakan setidaknya satu buku cetak dalam jangkauanmu dan rasakan manfaatnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article