Kecelakaan Mengubah Hidupnya, Margo Kini Bangun Tiga Kedai Kopi

- Setelah kecelakaan 2017 menyebabkan cedera saraf tulang belakang, Margo beralih dari akuntan ke bisnis kopi dan membuka kedai pertama bersama teman pada 2018.
- Dua usaha kedai sebelumnya berhenti, termasuk akibat pandemi COVID-19; Margo lalu mendirikan Ego Amote sendiri pada 2023, dari bazar dan lapak tenda hingga berkembang di tiga lokasi.
- Ego Amote menghadapi persaingan dan tantangan aksesibilitas, sambil merapikan operasional; sekitar 60% transaksi hariannya memakai QRIS, dengan omzet harian Rp1 juta hingga Rp6 juta.
Setelah mengalami kecelakaan pada 2017 yang menyebabkan spinal cord injury, Maria Goretti Yulias yang akrab disapa Margo harus menata ulang banyak hal dalam hidupnya. Salah satunya adalah pekerjaan.
Sebelumnya, Margo bekerja sebagai akuntan. Namun setelah kecelakaan yang membuatnya harus menjalani sebagian besar aktivitas dengan kursi roda, ia tak lagi bisa kembali ke pekerjaan lamanya dan harus mencari kemungkinan baru.
“Dari situ saya mencoba berpikir apa yang bisa saya kerjakan ketika saya duduk di kursi roda,” ujar Margo. Jawabannya ternyata datang dari sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu ia kenal, yaitu kopi.
Saat itu, Margo bahkan mengaku bukan penikmat kopi yang memahami berbagai jenis biji atau teknik seduh. “Dulu saya minum kopi sachet. Tidak ada kepikiran untuk bikin kopi,” katanya.
Perkenalan Margo dengan dunia kopi justru datang dari teman-temannya. Pada 2018, mereka mengajaknya mencoba membangun usaha kedai kopi bersama. Di tahun yang sama, mereka menemukan investor dan membuka kedai pertama sambil terus belajar mengenai kopi. Dari sana, ia mulai mengenal dunia yang kelak mengubah arah hidupnya.
1. Belajar, gagal, lalu mulai lagi

Kedai Ego Amote membuka kedai tendaan (instagram.com/kedai.egoamote) Margo tidak langsung menemukan kesuksesan di percobaan pertamanya. Bersama rekan-rekannya, ia membuka kedai sambil belajar lebih jauh tentang kopi. Ia mulai mengikuti berbagai pelatihan, mendalami cara meracik kopi, hingga kemudian menjadi pelatih barista.
Namun dua tahun kemudian, pandemi COVID-19 memaksa kedai tersebut harus tutup secara permanen. Setelah pandemi mereda, Margo dan teman-temannya kembali mencoba. Lagi-lagi usaha tersebut belum berhasil bertahan.
Bagi sebagian orang, dua kegagalan mungkin cukup untuk berhenti. Namun Margo memilih mengambil jalan berbeda, kegagalan justru menjadi bagian dari proses mencari cara yang paling mungkin untuk dijalani. Pada 2023, ia memulai Ego Amote seorang diri.
“Ego Amote itu saya benar-benar sendirian. Saya mencoba dari bazar ke bazar. Sampai akhirnya mencoba mendirikan kedai di pinggir jalan, kecil, cuma lapak pakai tenda,” cerita Margo.
Dari lapak sederhana itu, pelan-pelan peluang mulai terbuka. Ego Amote kemudian mendapat kesempatan membuka kedai di Museum Nasional dan kawasan Grogol. Kini, bisnis yang berawal dari lapak sederhana itu telah berkembang ke tiga lokasi.
2. Bertumbuh di tengah persaingan dan keterbatasan

Salah satu menu kopi di Kedai Ego Amote (instagram.com/Kedai.egoamote) Meski budaya ngopi terus berkembang, menjalankan kedai kopi bukan berarti menjadi lebih mudah. Semakin banyaknya coffee shop juga membuat persaingan semakin ketat.
Bagi Margo, tantangannya punya lapisan lain. Sebagai pengguna kursi roda, aksesibilitas di berbagai tempat masih menjadi persoalan yang perlu dihadapi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari maupun bisnisnya. Namun pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti. Justru dari berbagai kegagalan sebelumnya, Margo semakin terbiasa untuk mencoba, mengevaluasi, dan terus belajar.
Pelatihan menjadi salah satu cara yang ia gunakan untuk memperkuat kemampuan bisnisnya. Tidak hanya soal kopi, ia juga mulai mempelajari bagaimana operasional kedai bisa dibuat lebih rapi, termasuk dalam mengelola transaksi pelanggan.
3. Saat transaksi mulai ikut tumbuh bersama bisnis

Proses pembuatan kopi di Kedai Ego Amote (instagram.com/kedai.egoamote) Seiring Ego Amote semakin dikenal, kebutuhan pelanggan juga ikut berubah. Semakin banyak pelanggan berarti semakin banyak hal yang perlu dikelola, mulai dari operasional, antrean, hingga transaksi di kasir.
Ego Amote kini menerima berbagai metode pembayaran, mulai dari uang tunai, kartu debit, hingga QRIS. Namun dari seluruh pilihan tersebut, QRIS menjadi metode yang paling banyak digunakan pelanggan. Sekitar 60 persen transaksi harian Ego Amote kini dilakukan melalui QRIS, dengan omzet harian yang berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp6 juta.
Di tengah ritme operasional yang semakin cepat, Margo mulai mencari sistem pembayaran yang bisa membantunya dan tim memastikan transaksi tanpa harus terus-menerus memeriksa layar. Salah satu yang kemudian digunakan adalah QRIS Soundbox DANA, perangkat yang memberikan notifikasi suara secara real time ketika pembayaran berhasil dilakukan.
Bagi Margo, fitur tersebut membantu memastikan status pembayaran dengan lebih cepat, terutama saat antrean pelanggan sedang ramai dan kedai sedang padat.
Perubahan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika sebuah bisnis mulai bertumbuh, detail operasional justru menjadi bagian penting dari pengalaman pelanggan dan kelancaran kerja sehari-hari.
4. Dari lapak tenda menuju tiga lokasi

Seorang barista sedang membuat kopi (instagram.com/kedai.egoamote) Nama Ego Amote sendiri terinspirasi dari panggilan sayang suaminya. Dalam bahasa Latin, Ego Amote berarti “aku cinta kamu”.
Bagi Margo, nama tersebut menggambarkan pandangannya tentang kopi: orang datang ke kedai bukan hanya untuk minum, tetapi juga bertemu, berbicara, saling memahami, dan merasa diterima.
Namun perjalanan menuju tiga lokasi itu bukanlah perjalanan yang mulus. Ada kecelakaan yang mengubah hidupnya. Ada pekerjaan yang tak bisa lagi ia jalani seperti sebelumnya. Ada usaha yang berhenti karena pandemi dan percobaan lain yang belum berhasil. Lalu ada keputusan untuk mencoba sekali lagi, kali ini seorang diri.
Dulu setelah kecelakaan, Margo bertanya apa yang masih bisa ia kerjakan dari kursi roda. Hari ini, pertanyaannya berubah. Bukan lagi tentang apa yang masih bisa dilakukan, melainkan seberapa jauh ia bisa membawa perjalanan yang ia mulai dari sebuah lapak kecil dan secangkir kopi.




















