Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Memindahkan Gerbong Perempuan ke Tengah Bukan Solusi
ilustrasi KRL (unsplash.com/CHUTTERSNAP)
  • Menteri PPPA menyoroti pentingnya perlindungan perempuan di transportasi publik setelah kecelakaan kereta, memicu perdebatan soal usulan memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah rangkaian KRL.
  • Keselamatan perjalanan kereta ditentukan oleh sistem alur dan pengawasan terpusat, bukan posisi gerbong tertentu; perubahan lokasi tidak otomatis menghapus risiko kecelakaan atau meningkatkan keamanan.
  • Risiko dalam kereta lebih dipengaruhi kepadatan dan situasi selama perjalanan, sehingga keselamatan harus dilihat sebagai tanggung jawab sistem transportasi bagi semua penumpang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyoroti pentingnya perlindungan perempuan dalam transportasi publik setelah kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi. Salah satu respons yang kemudian muncul adalah usulan terkait penempatan gerbong khusus perempuan dari posisi depan-belakang ke tengah dalam rangkaian KRL. Usulan ini langsung ramai dibicarakan di ruang publik dan media sosial.

Banyak yang mempertanyakan apakah perubahan posisi gerbong benar-benar bisa menjawab persoalan keselamatan yang lebih luas? Di sisi lain, sebagian pihak menilai isu ini tidak bisa dipisahkan dari sistem transportasi yang lebih kompleks, seperti kepadatan, sistem, dan pengawasan. Dari perdebatan tersebut, muncul pertanyaan penting, kenapa memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah bukan solusi? Berikut beberapa alasan yang perlu dipahami dari sisi sistem transportasi publik.

1. Kereta adalah sistem alur, bukan soal posisi aman di satu titik

ilustrasi KRL (unsplash.com/Taufiq dzikri)

Kereta bekerja sebagai sebuah sistem alur yang terus bergerak, bukan sekadar susunan gerbong dengan satu titik yang dianggap lebih aman. Dalam operasinya, jalur kereta dibagi menjadi beberapa bagian atau block yang mengatur pergerakan setiap kereta secara bergantian.

Dilansir Britannica, sistem block memastikan hanya satu kereta berada dalam satu segmen jalur pada waktu tertentu untuk menjaga keselamatan. Artinya, keselamatan perjalanan tidak ditentukan oleh posisi gerbong di dalam rangkaian, tetapi oleh pengaturan aliran pergerakan kereta secara keseluruhan. Karena itu, konsep keamanan dalam transportasi kereta lebih bersifat sistemik daripada berbasis lokasi tertentu. Dengan kata lain, yang diatur adalah alurnya, bukan mencari satu titik yang dianggap paling aman.

Umpamanya seperti jalan raya yang diatur oleh lampu lalu lintas. Bukan di mana kita berdiri yang bikin aman, tapi bagaimana seluruh arus kendaraan diatur supaya tidak saling bertabrakan. Jadi, yang harus diperbaiki adalah sistem transportasi, bukan posisi gerbong.

2. Perubahan posisi tidak otomatis mengubah sistem pengawasan dan menghapus risiko kecelakaan

ilustrasi KRL (unsplash.com/Matt Mutlu)

Memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah dianggap sebagai cara untuk membuat perjalanan lebih aman pascakecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi. Namun, perubahan posisi seperti ini tidak secara otomatis menghilangkan risiko yang sudah ada dalam sistem transportasi kereta.

Sistem kereta bekerja dengan pengawasan terpusat yang mengatur seluruh rangkaian, bukan berdasarkan posisi satu gerbong tertentu. Artinya, keamanan tidak ditentukan oleh di mana gerbong itu diletakkan, tetapi oleh bagaimana sistem secara keseluruhan dijalankan. Selain itu, risiko dalam transportasi publik tidak hanya terkait satu kelompok penumpang saja, tetapi juga bisa dialami siapa pun di ruang yang sama. Laki-laki maupun perempuan sama-sama manusia yang berada dalam sistem perjalanan yang sama.

Karena itu, keselamatan seharusnya dipahami sebagai tanggung jawab sistem, bukan sekadar pemisahan posisi. Sistem pengawasan, kepadatan penumpang, dan kondisi operasional tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan. Jadi, menggeser posisi gerbong saja tidak cukup untuk menghilangkan risiko selama perjalanan.

3. Risiko tidak ditentukan jenis gerbong, tapi oleh kepadatan dan situasi

ilustrasi KRL (pixabay.com/ClickerHappy)

Risiko di dalam kereta tidak hanya ditentukan oleh jenis gerbongnya, tetapi juga oleh kondisi saat kereta sedang berjalan. Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah seberapa penuh atau padat isi kereta tersebut. Kalau kereta sangat penuh, orang jadi berdempetan dan ruang gerak jadi sempit. 

Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Transportation Research Part A: Policy and Practice pada 2013, kondisi padat di transportasi umum membuat orang merasa tidak nyaman dan lebih rentan terhadap situasi yang tidak aman. Hal ini bisa terjadi di mana saja di dalam kereta, bukan hanya di satu jenis gerbong tertentu. Oleh karena itu, risiko dalam transportasi publik lebih dipengaruhi oleh situasi dan kepadatan, bukan jenis gerbongnya.

Keselamatan dalam transportasi publik adalah tanggung jawab sistem bagi semua penumpang, baik perempuan maupun laki-laki. Hal ini tidak cukup hanya dengan mengubah posisi gerbong atau mencari titik aman di dalam rangkaian kereta. Menurutmu, pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk membuat transportasi publik lebih aman?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team