Ngonten Sampai Bahayakan Diri? Ini Alasan Orang Menantang Adrenalin

- Perilaku berisiko demi konten dapat dipicu pencarian sensasi, kesukaan pada adrenalin, serta dorongan memperoleh perhatian, pengakuan, atau validasi sosial.
- Sifat impulsif dan kecenderungan menyukai petualangan dapat membuat situasi berbahaya terasa seperti reward, sementara kebiasaan terhadap ketidaknyamanan mendorong perilaku itu berulang.
- Pencegahan dapat dilakukan lewat kesadaran diri, regulasi emosi, sumber kepuasan sehat, dukungan terdekat atau profesional, serta konsultasi bila perilaku berisiko sulit dikendalikan.
Beberapa orang rela melakukan perilaku berisiko demi menghasilkan konten. Ada sejumlah faktor yang mendorong seseorang melakukan hal tersebut, salah satunya adalah keinginan untuk mencari sensasi (sensation seeking).
Orang yang gemar mencari sensasi cenderung tertarik pada pengalaman yang memicu emosi kuat, bahkan ketika hal tersebut berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Lantas, bagaimana menciptakan konten yang tetap aman dan tidak membahayakan diri?
1. Sebagian orang tertarik untuk cari sensasi

ilustrasi konten kreator (freepik.com/sodawhiskey) Dalam Verywell Mind, Profesor Psikologi Matthew Tull menjelaskan bahwa mereka juga bersedia mengalami sensasi atau emosi yang dianggap dapat memberikan kepuasan, kemenangan, atau pengalaman yang tidak terduga.
Sebagian orang menikmati sensasi adrenalin yang muncul ketika berada dalam situasi berbahaya. Mereka cenderung menyukai tantangan dan bersedia mengambil risiko, termasuk risiko yang membahayakan keselamatan, meskipun tidak ada manfaat nyata yang diperoleh dari tindakan tersebut.
Faktor lain yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan berbahaya demi konten adalah pengaruh sosial. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan, perhatian, atau validasi dari orang lain dapat membuat seseorang mengabaikan risiko yang menyertai tindakannya.
2. Melakukan sesuatu yang berbahaya seperti mendapat reward

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Ron Lach) Kepribadian yang impulsif juga dapat memengaruhi kecenderungan seseorang dalam mengambil risiko. Menurut Verywell Mind, individu yang punya karakter impulsif, gemar mencari sensasi, atau menyukai petualangan cenderung lebih tertarik pada perilaku berisiko.
Secara psikologis, seseorang dapat terus menempatkan diri dalam situasi berbahaya karena menganggap pengalaman tersebut sebagai bentuk reward atau penghargaan. Dikutip dari Masterpiece Psychology, individu juga dapat mengulangi tindakan yang kurang aman karena sudah terbiasa dengan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang menyertainya.
Dalam kondisi tertentu, pikiran bawah sadar dapat menganggap ketidaknyamanan tersebut sebagai sesuatu yang dapat diprediksi sehingga terasa lebih mudah untuk dihadapi.
3. Menciptakan konten yang aman secara psikologis

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Kampus Production) Untuk mengurangi kecenderungan tersebut, seseorang dapat mulai membangun kesadaran diri (self-awareness) dengan mengenali perasaan dan kebutuhan yang sebenarnya ingin dipenuhi melalui perilaku berisiko. Selain itu, kemampuan regulasi emosi perlu diperkuat, salah satunya dengan belajar menoleransi ketidaknyamanan tanpa harus mencari pelampiasan melalui tindakan yang membahayakan diri sendiri.
Penting pula untuk mencari sumber kepuasan yang lebih sehat. Pencapaian kecil dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, dapat memberikan rasa bahagia dan kepuasan tanpa harus menempatkan diri dalam situasi berbahaya. Seseorang juga perlu memahami bahwa tindakan berisiko bukanlah identitas yang melekat pada dirinya. Dengan membangun identitas diri yang lebih positif dan mengubah cara pandang terhadap tantangan, seseorang dapat belajar memenuhi kebutuhannya melalui cara yang lebih aman.
Menurut Masterpiece Psychology, kecenderungan mengambil risiko dapat menjadi sinyal bahwa seseorang membutuhkan koneksi sosial, istirahat, pemulihan emosional, atau rasa aman secara psikologis. Oleh karena itu, dukungan dari orang-orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan, terutama jika perilaku tersebut berkaitan dengan persoalan emosional yang belum terselesaikan.
Jika kesulitan mengendalikan perilaku berisiko terus berulang, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental dapat membantu seseorang memahami akar masalah dan menemukan strategi penanganan yang lebih tepat.







![[QUIZ] Dari Pola Pikir Kamu saat Ini, Mungkinkah Kamu Sukses di Masa Depan?](https://image.idntimes.com/post/20251016/berapa-usia-ideal-untuk-dikatakan-sukses_127a369a-277b-4c04-89ba-379d79b60df3.jpeg)

![[QUIZ] Tes Kosakata Bahasa Sunda, Tahu Artinya Gak?](https://image.idntimes.com/post/20250227/pexels-pavel-danilyuk-6612739-8d97b518ec4b8752bb2681d0e74a080c.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu termasuk Orang yang Fake di Media Sosial, Kalau Dilihat dari Foto yang Diunggah?](https://image.idntimes.com/post/20250817/freepik-1033_d7f34128-0a86-4fa9-a95b-deddf2398454.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Empati atau Cenderung Tone Deaf?](https://image.idntimes.com/post/20240806/pexels-photo-4246061-e75c5656dd8b9be027075d1d1e25c091-2c18395aa9e8b87c6d650645fe1bca7b.jpeg)
![[QUIZ] Tokoh Masha and The Bear Kesukaanmu, Bongkar Kamu Tipe Orang yang Diam-diam Menyebalkan atau Tidak](https://image.idntimes.com/post/20260512/upload_1abde93c1fa0ffc1b62c9c533709e924_87bc9d1e-0ca1-4dda-88c9-029b8448218f.jpg)


![[QUIZ] Seberapa Tajam Matamu? Cek dengan Tebak Karakter Upin & Ipin Ini](https://image.idntimes.com/post/20250526/image-15-38aaa07364b27568f6d9ac02c74958a2.jpg)





