Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Pindah Kerja Demi Kesehatan Mental Masih Dipandang Negatif

5 min read
5 Alasan Pindah Kerja Demi Kesehatan Mental Masih Dipandang Negatif
ilustrasi resign kerja (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
  • Budaya kerja yang mengagungkan ketahanan tekanan membuat pekerja yang pindah demi kesehatan mental kerap dicap kurang tangguh dan tidak loyal.
  • Kesehatan mental sering dianggap kurang nyata karena gejalanya tidak selalu terlihat, sehingga tekanan berkepanjangan dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari mudah diremehkan.
  • Kesuksesan masih diukur dari gaji dan jabatan, sementara pindah kerja kerap dinilai impulsif meski dapat melalui pertimbangan kondisi emosional, keuangan, dan peluang kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keputusan pindah kerja gak selalu berangkat dari keinginan memperoleh gaji lebih besar atau jabatan yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, langkah tersebut justru menjadi cara untuk keluar dari lingkungan kerja yang menguras energi, menghadapi tekanan berkepanjangan, atau memulihkan kondisi emosional yang mulai terganggu.

Sayangnya, keputusan untuk meninggalkan pekerjaan demi menjaga kesehatan mental masih kerap dianggap sebagai bentuk kelemahan, padahal bertahan dalam situasi yang gak sehat juga memiliki konsekuensi tersendiri. Di tengah budaya kerja yang sering mengagungkan kesibukan dan ketahanan menghadapi tekanan, memilih mundur demi kesejahteraan diri bukanlah keputusan yang selalu mudah dijelaskan kepada orang lain.

Ada pekerja yang harus menghadapi anggapan kurang tangguh, tuduhan mudah menyerah, hingga kekhawatiran dianggap gak memiliki komitmen terhadap karier. Lantas, mengapa keputusan pindah kerja demi kesehatan mental masih mendapat penilaian negatif? Yuk, pahami lima penyebabnya agar sudut pandang terhadap pilihan karier ini menjadi lebih bijak.

  1. 1. Budaya kerja masih mengagungkan ketahanan menghadapi tekanan

    ilustrasi pria burnout
    ilustrasi pria burnout (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Salah satu alasan pindah kerja demi kesehatan mental masih dipandang negatif adalah kuatnya budaya kerja yang menempatkan ketahanan menghadapi tekanan sebagai ukuran profesionalisme. Pekerja yang sanggup menerima beban berat, bekerja di bawah tenggat ketat, dan tetap menyelesaikan tugas meskipun kelelahan sering dianggap lebih berdedikasi.

    Sebaliknya, seseorang yang memilih mundur karena tekanan sudah mengganggu kesejahteraannya justru berisiko dicap kurang tangguh, seolah-olah kemampuan profesional hanya bisa dibuktikan dengan bertahan dalam situasi sulit. Cara pandang tersebut membuat batas kemampuan diri sering kali diabaikan demi memenuhi ekspektasi lingkungan.

    Padahal, mampu menghadapi tekanan gak berarti seseorang harus menerima semua tuntutan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi fisik dan emosional. Ketika ketahanan selalu dimaknai sebagai kesediaan untuk bertahan, keputusan menjaga kesehatan mental akhirnya terlihat seperti kekalahan, bukan langkah untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dan karier secara sehat.

  2. 2. Loyalitas kepada perusahaan dianggap lebih penting daripada kesejahteraan diri

    ilustrasi interview kerja
    ilustrasi interview kerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Loyalitas menjadi salah satu nilai yang kerap dilekatkan pada pekerja ideal, terutama mereka yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di perusahaan yang sama. Pekerja yang bertahan menghadapi berbagai kesulitan sering dipuji karena dianggap memiliki komitmen tinggi dan gak mudah meninggalkan tanggung jawab.

    Akibatnya, keputusan pindah kerja demi kesehatan mental dapat dipersepsikan sebagai bentuk ketidaksetiaan, terlebih jika perusahaan sedang menghadapi masa sulit atau masih membutuhkan kontribusinya. Padahal, hubungan kerja pada dasarnya merupakan kesepakatan profesional yang perlu memberi ruang bagi kepentingan kedua belah pihak.

    Perusahaan mengharapkan kontribusi dari pekerja, sedangkan pekerja juga berhak memperoleh lingkungan yang mendukung keselamatan, perkembangan, dan kesejahteraannya. Loyalitas memang bernilai, tetapi bukan berarti seseorang harus mengorbankan kesehatan mental tanpa batas hanya untuk membuktikan bahwa dirinya pantas dipertahankan oleh perusahaan.

  3. 3. Masalah kesehatan mental masih dianggap kurang nyata

    ilustrasi pria burnout
    ilustrasi pria burnout (pexels.com/Gustavo Fring)

    Keluhan kesehatan mental sering menghadapi tantangan karena dampaknya gak selalu terlihat secara langsung seperti cedera fisik atau penyakit yang menunjukkan gejala kasatmata. Seseorang mungkin tetap datang ke kantor, menyelesaikan tugas, dan berkomunikasi secara profesional meskipun sedang mengalami kecemasan, kelelahan emosional, atau kesulitan tidur akibat tekanan pekerjaan.

    Kondisi tersebut membuat orang lain mudah menganggap bahwa dirinya baik-baik saja, sehingga keputusan untuk mengundurkan diri dinilai berlebihan atau gak memiliki alasan yang cukup kuat. Kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental juga membuat sebagian orang terbiasa menyederhanakan masalah menjadi persoalan sikap dan kemampuan mengendalikan diri.

    Pekerja yang merasa kewalahan mungkin disarankan untuk lebih bersyukur, memperkuat mental, atau berhenti terlalu memikirkan pekerjaan, tanpa ada upaya memahami sumber tekanannya. Padahal, persoalan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi konsentrasi, kualitas tidur, hubungan sosial, hingga kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, sehingga keputusan mencari lingkungan kerja yang lebih sehat layak dipertimbangkan secara serius.

  4. 4. Kesuksesan karier masih diukur dari jabatan dan penghasilan

    ilustrasi pria burnout
    ilustrasi pria burnout (pexels.com/Kampus Production)

    Ukuran kesuksesan profesional di masyarakat masih sering bertumpu pada besarnya gaji, tingginya jabatan, stabilitas pekerjaan, dan prestise perusahaan tempat seseorang bekerja. Dalam kerangka tersebut, meninggalkan pekerjaan yang terlihat menjanjikan demi kesehatan mental bisa dianggap sebagai keputusan yang merugikan masa depan.

    Orang lain mungkin mempertanyakan mengapa seseorang rela melepas penghasilan yang baik atau posisi bergengsi hanya karena merasa tertekan, tanpa memahami keseluruhan situasi yang dihadapinya. Cara pandang ini mengabaikan fakta bahwa keberhasilan karier gak hanya berkaitan dengan pencapaian yang terlihat dari luar.

    Pekerjaan dengan penghasilan tinggi belum tentu sepadan jika tuntutannya membuat seseorang kehilangan waktu istirahat, mengalami tekanan berkepanjangan, atau kesulitan menjalani kehidupan pribadi. Mempertimbangkan kesehatan mental dalam keputusan karier bukan berarti mengabaikan ambisi, melainkan menilai keberhasilan secara lebih utuh, termasuk kemampuan mempertahankan kesejahteraan diri dalam jangka panjang.

  5. 5. Pindah kerja dianggap sebagai tindakan impulsif, bukan keputusan terencana

    ilustrasi resign kerja
    ilustrasi resign kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Keputusan mengundurkan diri terkadang dinilai negatif karena orang lain hanya melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui proses panjang yang mendahuluinya. Ketika seseorang tiba-tiba menyampaikan keinginan untuk keluar, rekan kerja atau keluarga mungkin menganggapnya sedang terbawa emosi setelah mengalami konflik maupun tekanan sesaat.

    Padahal, keputusan tersebut bisa saja muncul setelah berbagai upaya dilakukan, seperti memperbaiki pola komunikasi, mengatur beban kerja, menyampaikan keluhan kepada atasan, atau mencari dukungan untuk menghadapi situasi yang sulit. Meski demikian, menjaga kesehatan mental juga gak berarti setiap masalah pekerjaan harus langsung diselesaikan dengan pengunduran diri.

    Keputusan pindah kerja tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, peluang kerja berikutnya, tanggungan pribadi, dan kemungkinan perbaikan di tempat kerja saat ini. Perencanaan yang matang membantu seseorang mengambil langkah secara lebih aman tanpa mengabaikan kebutuhan emosionalnya, sekaligus menunjukkan bahwa memilih pergi dapat menjadi keputusan rasional, bukan semata-mata reaksi spontan.

    Pada akhirnya, pindah kerja demi kesehatan mental gak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda kelemahan atau kurangnya komitmen profesional. Setiap pekerja memiliki batas kemampuan, kebutuhan, dan situasi yang berbeda, sehingga keputusan karier perlu dipahami berdasarkan konteks yang melatarbelakanginya. Yang terpenting, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa lama seseorang mampu bertahan dalam pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana ia membangun kehidupan profesional yang tetap mendukung kesejahteraan dirinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More