Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tim Jagoan Kalah Bisa Bikin Bad Mood, Ini Penjelasan Psikologisnya

Tim Jagoan Kalah Bisa Bikin Bad Mood, Ini Penjelasan Psikologisnya
ilustrasi suporter merasa sedih karena tim kesayangan kalah (pexels.com/Eslam Mohammed Abdelmaksoud )
Intinya Sih
  • Kekalahan tim favorit bisa bikin bad mood karena identitas emosional penggemar melebur dengan tim, membuat kegagalan terasa seperti kekalahan pribadi yang menyakitkan.
  • Secara biologis, kekalahan memicu penurunan dopamin dan lonjakan kortisol yang menyebabkan stres, kelelahan mental, serta perubahan suasana hati secara drastis.
  • Fenomena CORFing dan kehilangan rasa kendali memperparah frustrasi, sementara energi emosional yang terkuras membuat penggemar merasa lelah fisik dan mental setelah pertandingan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

#LYF 5 Alasan Psikologis Kenapa Tim Jagoan Kalah Bikin Kamu Bad Mood Seharian

Pernah gak, kamu bela-belain begadang demi nonton tim kesayangan bertanding, tapi hasilnya malah bikin nyesek? Begitu peluit panjang berbunyi dan tim jagoanmu kalah, rasanya langsung lemas, ingin banting bantal, dan mendadak malas melakukan apapun. Fenomena bad mood seharian karena tim jagoan kalah ini nyata dan sering bikin kamu heran sendiri, "Kok bisa sebuah permainan sampai merusak hari-hariku?"

Kalau kamu membiarkan perasaan negatif ini terus berlarut-larut, kesehatan mentalmu bisa ikutan terganggu, lho. Kamu bakal gampang tersinggung, susah fokus, bahkan bisa merusak hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarmu yang gak tahu apa-apa. Kamu pasti gak mau kalau energi positifmu habis cuma gara-gara hasil pertandingan yang sebenarnya di luar kendalimu? Yuk, pahami alasan ilmiah di balik patah hati massal ini biar kamu bisa cepat move on!

1. Efek ikatan emosional identitas sosial

ilustrasi merasa sedih karena tim kesayangan kalah
ilustrasi merasa sedih karena tim kesayangan kalah (pexels.com/Alex Vivat)

Saat kamu memilih untuk mendukung satu tim, mereka bukan lagi sekadar sekumpulan orang yang menendang bola atau melempar bola basket. Secara psikologis, kamu sudah meleburkan identitas dirimu ke dalam kelompok tersebut, sebuah fenomena yang dikenal sebagai social identity theory. Jadi, Keberhasilan mereka adalah keberhasilanmu, dan kegagalan mereka otomatis terasa seperti kegagalan pribadimu juga. Makanya, gak heran kalau rasa sakitnya itu beneran nyesek sampai ke hati.

Ketika tim jagoan kalah, otak meresponnya seolah-olah kamu sendiri yang baru saja kalah dalam persaingan nyata di kehidupan sehari-hari. Kamu merasa kehilangan harga diri dan ada gengsi yang runtuh, terutama kalau besoknya harus ketemu teman kantor atau sekolah yang mendukung tim rival. Jadi, kalau kamu merasa sedih, itu karena jiwamu dan jiwa tim tersebut memang sudah terlanjur link alias menyatu.

2. Hormon kortisol naik, dopamin langsung anjlok

ilustrasi sedih karena tim kesayangan kalah
ilustrasi sedih karena tim kesayangan kalah (pexels.com/Andrew Patrick Photo)

Menonton pertandingan olahraga itu sebenarnya adalah aktivitas yang memicu adrenalin dan hormon kebahagiaan alias dopamin saat tim kamu unggul. Kamu mengantisipasi kemenangan dengan perasaan senang yang meluap-luap di dalam otak. Sialnya, begitu realita gak sesuai ekspektasi dan tim kesayangan justru terbantai, pasokan dopamin tersebut langsung di-stop secara paksa oleh otak kamu. Efeknya? Kamu bakal merasa drop seketika kayak roller coaster yang turun menukik tajam.

Sebagai gantinya, tubuhmu malah memproduksi hormon kortisol alias hormon stres dalam jumlah yang cukup banyak karena rasa frustrasi. Lonjakan kortisol inilah yang secara biologis bikin dada terasa sesak, kepala pusing, dan suasana hati langsung berubah jadi rungsing gak karuan. Nah, kombinasi antara minimnya dopamin dan tingginya kortisol ini yang bikin kamu ingin bed-rotting seharian di kamar. Jadi secara sains, bad mood kamu itu valid karena ada perang kimiawi di dalam kepalamu.


3. Kamu mengalami fenomena CORFing

ilustrasi mematikan gawai
ilustrasi mematikan gawai (pexels.com/Lukas Blazek)

Dunia psikologi punya istilah unik bernama Cutting Off Reflected Failure atau disingkat CORFing, yaitu kecenderungan seseorang untuk menjauhkan diri dari kegagalan kelompoknya demi menjaga harga diri. Saat tim jagoan kalah, kamu secara gak sadar ingin memutuskan hubungan sementara dengan hal-hal berbau tim tersebut. Kamu bakal malas buka media sosial, langsung mute grup WhatsApp, dan ogah melihat berita olahraga. Proses penolakan dan proteksi diri inilah yang menguras energi mentalmu.

Ironisnya, makin kamu berusaha menghindar dan menjauh, bayang-bayang kekalahan itu justru makin sering lewat di timeline TikTok atau Reels kamu. Proses menahan rasa malu dan kesal akibat CORFing yang gagal ini bikin kamu terjebak dalam mode survival mode yang melelahkan. Rasanya kayak semua orang lagi menertawakan kamu, padahal mah mereka juga sibuk sama urusan masing-masing.

4. Kehilangan rasa kendali atas sesuatu

ilustrasi meratapi tim kesayangan yang kalah
ilustrasi meratapi tim kesayangan yang kalah (magnific.com/diana.grytsku)

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah keinginan untuk memegang kendali (sense of control) atas situasi di sekitarnya agar merasa aman. Saat menonton pertandingan, kamu sering melakukan ritual tertentu, pakai jersey keberuntungan, atau teriak-teriak di depan layar seolah hal itu bisa membantu tim untuk menang. Begitu tim jagoan kalah, kamu disadarkan pada kenyataan pahit bahwa kamu sama sekali gak punya kuasa untuk mengubah hasil akhir. Rasa ketidakberdayaan inilah yang bikin dongkol setengah mati.

Kamu merasa sudah menginvestasikan waktu, uang untuk beli camilan nonton bareng, dan emosi yang besar, tapi imbalannya malah antiklimaks. Ketidakmampuan untuk mengontrol hasil akhir pertandingan ini memicu frustrasi eksistensial skala kecil yang bikin kamu sensi seharian. Kamu jadi merasa gak berdaya juga buat menghadapi rutinitas harianmu yang lain, deh.


5. Kehabisan energi emosional akibat empati

ilustrasi energi emosional habis karena tim kesayangan kalah
ilustrasi energi emosional habis karena tim kesayangan kalah (pexels.com/Eman Genatilan)

Menonton sebuah laga krusial itu butuh energi emosional yang luar biasa besar, apalagi kalau jalannya pertandingan penuh drama dan kejar-kejaran skor. Sepanjang pertandingan, otak dan tubuhmu berada dalam kondisi siaga satu, otot menegang, dan jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Ketika pertandingan berakhir dengan kekalahan, tubuhmu gak cuma mengalami lelah mental, tapi juga lelah fisik secara bersamaan. Kondisi ini sering dikenal sebagai emotional burnout.

Sisa-sisa ketegangan yang gak tersalurkan dengan perayaan kemenangan akhirnya mengendap menjadi energi negatif yang bikin kamu lesu. Rasa lelah yang menumpuk ini membuat ambang toleransimu terhadap stres harian jadi menurun drastis. Jadi kalau tim jagoan kalah, mending waktumu dipakai buat tidur atau mandi air hangat biar energi emosionalmu yang terkuras bisa segera terisi ulang.

Wajar, kok, kalau kamu merasa sedih atau kesal saat tim jagoan kalah, karena secara psikologis keterikatan emosionalmu memang sekuat itu. Namun, ingat, ya, ini hanyalah sebuah permainan hiburan dan hidupmu yang asli jauh lebih berharga untuk dirusak oleh bad mood seharian. Yuk, ambil napas dalam-dalam, matikan dulu notifikasi bola, dan ingat kalau esok hari masih ada kesempatan untuk menang lagi!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More