“Aktivitas bersama mengalihkan perhatian dari diri ke sesuatu yang eksternal. Jeda dalam percakapan saat soft socializing dapat datang dan pergi tanpa terasa canggung, dan kamu dapat merasa lega dari tanggung jawab untuk mempertahankan percakapan dari waktu ke waktu," kata Robert Alexander, PhD, asisten profesor psikologi dan konseling di New York Institute of Technology, dikutip dari laman Real Simple.
Apa Itu Tren Soft Socializing? Hangout Tanpa Tekanan ala Gen Z!

- Soft socializing adalah tren sosialisasi santai ala Gen Z yang berfokus pada aktivitas bersama tanpa tekanan, memungkinkan koneksi berkembang alami tanpa tuntutan percakapan intens.
- Tren ini menyingkirkan budaya minum-minum karena banyak anak muda mencari interaksi nyata di lingkungan bebas alkohol, lebih nyaman, dan tidak memicu kecemasan sosial.
- Gen Z memilih soft socializing karena terbiasa dengan komunikasi digital dan menginginkan hubungan tatap muka yang lebih tenang, autentik, serta mendukung kesejahteraan sosial mereka.
Akhir-akhir ini kamu mungkin pernah menjumpai istilah "soft socializing", sebuah tren yang dipelopori oleh gen Z. Tren ini mengungkap di mana anak muda lebih memilih pertemuan sosial yang lebih santai dan tanpa tekanan.
Semakin banyak tren yang diciptakan oleh gen Z dan kamu juga perlu tahu, loh. Buat yang penasaran apa itu soft socializing dan mengapa jadi tren populer saat ini, kamu wajib baca artikel ini sampai habis, ya!
1. Apa itu soft socializing?

Bukan kegiatan keluar rumah, minum-minum, atau suasana kelompok yang penuh energi, soft socializing (sosialisasi santai) adalah pertemuan berbasis aktivitas yang tidak terlalu menekan, di mana koneksi dapat berkembang lebih alami.
Aktivitas yang bisa kamu lakukan saat melakukan soft socializing, contohnya; mendiskusikan buku yang baru saja dibaca di klub buku atau mengikuti sesi pembuatan keramik.
2. Mengapa budaya sosialisasi 'minum-minum' sudah mulai terpinggirkan?

Salah satu aspek yang menentukan tren gen Z ini adalah tidak adanya alkohol. Di tempat hiburan malam yang lebih tradisional, seperti bar, klub, atau home party, sering kali ada ekspektasi untuk minum atau mengikuti irama orang lain, begadang, dan menyesuaikan energi dengan kelompok. Bagi sebagian orang, hal itu dapat mempersulit mereka untuk terlibat dengan cara yang terasa nyaman.
Lingkungan penuh alkohol dapat meningkatkan tekanan sosial, hingga konsumsi alkohol dapat mendorong kecemasan daripada memfasilitasi percakapan santai dan sosialisasi informal. Dikutip dari laman National Today, terdapat acara soft socializing yang berlangsung di pagi atau siang hari, dengan musik, DJ, dan berbagai aktivitas, tetapi tanpa fokus pada alkohol. Seorang EO, Kevin White di West Loop dan River North, Chicago sukses menyelenggarakan acara-acara jenis ini karena menarik banyak orang yang mencari interaksi nyata dalam lingkungan santai.
3. Mengapa soft socializing populer di kalangan gen Z?

Gen Z digambarkan sebagai generasi pertama yang melek digital, tumbuh dewasa di saat komunikasi hampir terus-menerus. Mereka juga termasuk pengguna media sosial yang paling sering. Hal inilah yang telah mengubah cara hubungan dipelihara.
“Gen Z saling mengirim pesan dan berinteraksi dengan cara yang menjaga hubungan tetap aktif bahkan ketika tidak hadir secara fisik. Tidak seperti generasi sebelumnya, gen Z jarang mengalami keheningan sosial. Karena koneksi bersifat berkelanjutan bagi gen Z, bentuk-bentuk pertemuan tatap muka tradisional untuk bersosialisasi terasa lebih seperti beban," kata Kent Bausman, PhD, profesor sosiologi di Maryville University of Saint Louis, dikutip dari laman Real Simple.
Ini berbeda dengan generasi yang lebih tua, seperti gen X, yang lebih bergantung pada pertemuan tatap muka untuk menjaga hubungan dan membuat interaksi tersebut terasa lebih formal. Banyak gen Z mengalami pandemik, di mana kesempatan untuk terhubung terbatas pada platform digital, atau pengaturan kelompok kecil yang sangat terkontrol.
“Mengalami pembatasan sosial pada tahap perkembangan yang sangat penting telah memengaruhi pendekatan mereka saat ini terhadap hubungan," kata Jordan Ashley, PhD, sosiolog dan pendiri, serta direktur eksekutif Souljourn Yoga Foundation, dikutip dari laman Real Simple.
Sementara, gen Z kurang tertarik pada lingkungan sosial yang penuh tekanan dan lebih tertarik pada cara-cara yang disengaja dan nyaman untuk terhubung.
4. Soft socializing bagi Gen Z: tekanan rendah, berdampak tinggi

Menurut artikel yang ditulis oleh America Edwards, Ph.D. seorang founder dan co-director Social Ties Lab di Univesitas Kentucky, lingkungan sosial yang penuh energi sering disertai dengan ekspektasi yang tidak terucapkan.
Artikel berjudul "What Is Soft Socializing?" yang diterbitkan di Psychology Today itu menyebutkan, sosialiasi menciptakan tuntutan seperti: "jadilah menarik, lucu, berwawasan, menghibur, lakukan kontak mata terus-menerus, dan selalu "aktif". Bagi banyak orang, hal seperti itu bisa terasa melelahkan dan menuntut kemampuan kognitif.
Nah, soft socializing menurunkan tekanan dengan mendasarkan interaksi pada aktivitas bersama, sehingga mengurangi beban komunikasi yang ditanggung individu. Soft socializing memberikan struktur, ritme, dan titik masuk alami untuk interaksi.
Hal ini penting karena orang lebih cenderung terlibat ketika interaksi terasa terkendali dan momen-momen interaksi kecil itu akan terakumulasi jadi sesuatu yang lebih bermakna seiring waktu.
“Soft socializing menggeser tujuan dari 'penampilan' menjadi 'kehadiran'. Ini dapat membantu orang merasa aman, terhubung dengan orang lain, dan merasa benar-benar diterima tanpa perlu mengelola kesan,” kata Alexander.
Lingkungan komunikasi seperti soft socializing punya tekanan rendah yang dapat mendukung kesejahteraan dan mengurangi kelelahan sosial. Ini membuktikan bahwa koneksi tidak memerlukan keterlibatan terus-menerus, melainkan dapat terjalin melalui kehadiran bersama.
5. Bagaimana membuat rencana soft socializing menjadi bermakna?

Jika kamu ingin menjalin koneksi baru atau memperdalam koneksi yang sudah ada dengan cara yang lebih santai, ada banyak titik awal yang mudah didekati. Misalnya, lakukan hal sederhana seperti duduk bersama teman sambil masing-masing fokus pada tugasnya sendiri, baik itu membaca, belajar, atau membalas e-mail. Koneksinya terletak pada kehadiran bersama itu sendiri.
Kamu juga bisa mencoba berjalan-jalan atau mendaki sebentar, atau bahkan menyiapkan makanan bersama. Tugas ini memberikan struktur dan jeda yang canggung untuk diisi dengan melihat resep atau melakukan langkah selanjutnya.
Tren soft socializing ini membuktikan kalau gen Z ingin terhubung, tetapi mencari cara yang berbeda serta lebih terencana untuk bersosialisasi dan membangun komunitas. Semoga informasinya bermanfaat, ya!