- Bacaan 1: Keluaran 12 : 1 – 14
- Mazmur: Mazmur 116 : 1 – 2, 12 – 19
- Bacaan 2: 1 Korintus 11 : 23 – 26
- Bacaan 3: Yohanes 13 : 1 – 17, 31b – 35
- Tema Liturgis: Ratu Adil Segenap Ciptaan
Bacaan Kamis Putih 2026: Simak Pesannya, Rasakan Kasih-Nya

Kamis Putih menjadi salah satu hari yang penuh makna dalam rangkaian Pekan Suci bagi umat Katolik. Pada hari ini, umat diajak untuk merenungkan kasih Yesus yang begitu besar melalui perjamuan terakhir bersama para murid-Nya. Bacaan Kamis Putih 2026 pun menghadirkan pesan mendalam tentang pengorbanan, pelayanan, dan kerendahan hati yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui setiap bacaan yang dibacakan dalam misa, kamu diajak untuk memahami makna Ekaristi sebagai tanda kasih yang nyata. Tidak hanya sekadar mendengar, tetapi juga menghayati isi bacaan tersebut agar iman semakin bertumbuh.
1. Bacaan misa Kamis Putih 2026

Pada perayaan Kamis Putih, umat Katolik diajak untuk merenungkan berbagai bacaan Kitab Suci yang mengingatkan tentang kasih Allah yang begitu besar bagi manusia. Bacaan-bacaan ini tidak hanya menceritakan peristiwa penting dalam sejarah iman, tetapi juga menghadirkan pesan yang dapat kamu renungkan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut bacaan Kamis Putih 2026 dikutip dari laman Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).
2. Ketiga bacaan misa Kamis Putih dari Keluaran, Korintus, dan Yohanes

Ketiga bacaan dalam misa Kamis Putih menghadirkan kisah yang saling berkaitan tentang karya keselamatan Allah bagi umat manusia. Setiap bacaan memperlihatkan bagaimana Tuhan bekerja dalam sejarah kehidupan umat-Nya, mulai dari pembebasan bangsa Israel, pengajaran para rasul kepada jemaat, hingga teladan kasih yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Berikut teks lengkapnya:
Keluaran 12 : 1 – 14
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.
Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.
Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.
Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya. Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api. Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.
Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu.
Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.
1 Korintus 11: 23 – 26
Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!".
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!". Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
Yohanes 13: 1 – 17
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus.
Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."
Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia.
Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.
Yohanes 13: 31b – 35
Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.
Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."
3. Benang merah dari ketiga bacaan di atas

Ketiga bacaan dalam misa Kamis Putih memiliki pesan yang saling berkaitan dan memperlihatkan satu tema yang sama. Melalui kisah-kisah tersebut, umat diajak untuk melihat bagaimana kasih Allah selalu hadir dalam setiap peristiwa kehidupan manusia, baik dalam karya penyelamatan, pengajaran, maupun teladan yang diberikan oleh Yesus. Berikut benang merah dari ketiga bacaan tersebut.
"Kasih yang tak terbatas adalah esensi dari kasih Allah menjadi benang merah dari ketiga bacaan kita, yang menunjukkan kepada kita tentang bagaimana tindakan-tindakan kasih yang dilakukan Allah kepada umat-Nya. Kasih yang mewujud dalam tindakan menyelamatkan, mengampuni, membela, menerima tanpa membeda-bedakan, dan meruntuhkan sekat-sekat yang memisahkan. Tindakan kasih Allah tersebut menjadi sarana perenungan bagi kita, apakah tindakan-tindakan kasih yang diteladankan Allah masih menjadi bagian dari setiap laku hidup kita?"
Bacaan Kamis Putih 2026 bukan hanya rangkaian teks liturgi, tetapi juga pengingat akan pentingnya kasih dan pelayanan dalam hidup. Dari kisah yang disampaikan, kamu diajak untuk meneladani sikap Yesus yang rela melayani dengan tulus, bahkan dalam situasi yang tidak mudah.