Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Banyak Orang Rela Membayar Mahal untuk Self Care
Ilustrasi yoga di alam terbuka (pexels.com/olia danilevich)
  • Self care berkembang dari aktivitas sederhana menjadi bagian dari gaya hidup, mencakup kecantikan, kebugaran, relaksasi, hobi, perjalanan, makanan, dan pengalaman personal.

  • Tren wellness economy dan me time memperluas pilihan layanan individual, sehingga konsumen bersedia membayar pengalaman yang dirancang untuk dinikmati sendiri.

  • Konsumen semakin menghargai kenyamanan, pengalaman, dan keseimbangan hidup; harga tinggi dapat diterima bila kualitas serta manfaatnya sepadan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Self care semakin berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Jika dulu self care sering diasosiasikan dengan aktivitas sederhana seperti beristirahat, melakukan perawatan diri, atau menikmati waktu luang, kini konsep tersebut menjadi jauh lebih luas. Self-care dapat mencakup perawatan kecantikan, olahraga, spa, staycation, kelas hobi, journaling, menikmati makanan favorit, hingga sekadar mencari tempat yang tenang untuk menghabiskan waktu sendiri. Perubahan ini menunjukkan bahwa konsumen mulai melihat kenyamanan dan kesejahteraan diri sebagai sesuatu yang layak mendapatkan anggaran khusus.

Fenomena tersebut juga membuat industri self care semakin menarik dari sisi bisnis. Konsumen tidak selalu mencari barang yang bisa dibawa pulang. Mereka juga bersedia membayar jasa dan pengalaman yang membuat hidup terasa lebih nyaman, praktis, atau menyenangkan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, harga bukan lagi satu-satunya pertimbangan selama konsumen merasa manfaat yang diperoleh sepadan dengan uang yang dikeluarkan. Lantas, apa yang membuat banyak orang rela membayar mahal untuk self care? Berikut beberapa alasannya.

1. Munculnya tren wellness economy

Yoga (freepik.com/javi_indy)

Self care merupakan bagian dari perkembangan wellness economy yang mencakup berbagai industri. Wellness tidak lagi hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kebugaran, kecantikan, relaksasi, perjalanan, makanan, hospitality, pengalaman, dan gaya hidup.

Perkembangan ini membuat pilihan self care semakin beragam. Konsumen dapat memilih layanan sesuai kebutuhan dan anggaran mereka. Di sisi bisnis, luasnya cakupan wellness membuka peluang bagi berbagai sektor untuk masuk tanpa harus menjual produk kesehatan secara langsung.

2. Munculnya tren me time

Me Time (freepik.com/lifeforstock)

Konsep me time semakin populer karena banyak orang merasa membutuhkan waktu yang benar-benar digunakan untuk diri sendiri. Tidak semua orang ingin menghabiskan seluruh waktu luangnya bersama orang lain.

Tren ini membuka peluang untuk berbagai bisnis yang menawarkan pengalaman individual. Salon, spa, reading lounge, pottery class, solo dining, solo travel, hingga private workspace dapat mengambil peluang dari kebutuhan tersebut. Konsumen tidak lagi harus menunggu teman atau keluarga untuk melakukan aktivitas yang mereka sukai. Mereka dapat membayar pengalaman yang memang dirancang untuk dinikmati sendiri.

3. Konsumen makin menghargai pengalaman

Ilustrasi nail art (pexels.com/cottonbro studio)

Perubahan perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengalaman semakin memiliki nilai tersendiri. Orang tidak selalu membutuhkan barang baru untuk merasa puas. Terkadang, mereka lebih tertarik membayar aktivitas yang memberikan kenangan atau membuat mereka merasa lebih nyaman.

Hal ini terlihat dari berkembangnya bisnis seperti wellness retreat, solo date, staycation, creative workshop, reading lounge, dan kafe dengan konsep tertentu. Konsumen membeli pengalaman yang dapat dinikmati dalam periode tertentu. Bagi bisnis, kondisi tersebut menciptakan peluang karena pengalaman sering kali dapat dikemas dengan nilai tambah yang lebih besar daripada sekadar menjual produk fisik.

4. Konsumen ingin membeli kenyamanan

Ilustrasi salon (pexels.com/RDNE Stock project)

Kenyamanan memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Setelah menjalani rutinitas yang melelahkan, konsumen mungkin bersedia membayar lebih untuk mendapatkan tempat yang nyaman, pelayanan yang baik, proses yang mudah, atau pengalaman yang tidak merepotkan.

Hal ini menjelaskan mengapa bisnis self care tidak selalu harus menawarkan harga murah. Jika pengalaman yang diberikan terasa jauh lebih nyaman daripada alternatif yang lebih murah, sebagian konsumen tetap dapat memilihnya. Namun, harga yang lebih tinggi harus didukung oleh kualitas yang sesuai agar pelanggan tidak merasa membayar terlalu mahal tanpa mendapatkan nilai tambahan.

5. Orang semakin menghargai keseimbangan hidup

Ilustrasi bekerja di malam hari (pexels.com/Ron Lach)

Budaya kerja yang semakin dinamis membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi terkadang menjadi kabur. Terlebih bagi pekerja yang dapat menerima pesan pekerjaan kapan saja melalui smartphone, waktu istirahat bisa dengan mudah terganggu.

Self care kemudian menjadi salah satu cara untuk menciptakan batas tersebut. Pergi ke tempat yang tenang, berolahraga, membaca, menikmati kopi, atau melakukan aktivitas tanpa perangkat digital dapat membantu seseorang memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Karena keseimbangan tersebut semakin dianggap penting, orang menjadi lebih terbuka untuk mengalokasikan uang demi mendapatkan pengalaman yang membantu mereka beristirahat.

Banyak orang rela membayar mahal untuk self care karena cara mereka memandang waktu, kenyamanan, pengalaman, dan kesejahteraan diri ikut berubah. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, konsumen mulai menyadari bahwa memiliki waktu untuk beristirahat dan menikmati sesuatu yang disukai juga memiliki nilai. Mereka tidak hanya mencari barang yang dapat dimiliki, tetapi juga pengalaman yang dapat membuat hidup terasa lebih nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article