Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Batas antara Kritik Bacaan dan Bookshaming yang Perlu Dipahami

4 min read
5 Batas antara Kritik Bacaan dan Bookshaming yang Perlu Dipahami
ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/cottonbro studio)
  • Kritik bacaan yang sehat berfokus pada unsur karya, seperti alur, karakter, gaya bahasa, dan gagasan, tanpa mengaitkan selera buku dengan kecerdasan atau nilai diri pembacanya.
  • Penilaian buku perlu disampaikan lewat argumen, bukan ejekan atau hierarki yang menganggap pembaca klasik lebih intelektual daripada penikmat novel populer.
  • Setiap orang memiliki perjalanan dan selera baca berbeda; rekomendasi tidak boleh menjadi tekanan atau alat merendahkan mereka yang belum membaca karya tertentu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Membicarakan buku tidak selalu harus berujung pada pujian. Pembaca tentu berhak tidak menyukai sebuah karya, mempertanyakan gagasannya, atau mengkritik cara penulis menyampaikan cerita. Perbedaan pendapat seperti ini justru menjadi bagian dari diskusi literasi yang sehat.

Namun, kritik terhadap bacaan bisa berubah menjadi bookshaming ketika penilaiannya tidak lagi berhenti pada buku, melainkan diarahkan kepada orang yang membacanya. Batas antara keduanya terkadang memang tipis, terutama ketika selera bacaan dianggap mencerminkan kecerdasan atau kualitas seseorang. Lantas, di mana batasnya?

  1. 1. Mengkritik isi buku, bukan merendahkan pembacanya

    Berdiskusi tentang buku.
    ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/cottonbro studio)

    Kritik bacaan seharusnya berfokus pada karya yang sedang dibicarakan. Misalnya, pembaca dapat menilai alurnya terlalu lambat, karakterisasinya kurang kuat, atau gagasan yang disampaikan terasa tidak meyakinkan. Penilaian tersebut membahas elemen yang memang terdapat dalam buku sehingga masih berada dalam ranah kritik terhadap karya.

    Sebaliknya, komentar seperti "orang yang suka buku ini pasti tidak pintar" sudah mengarah kepada pembacanya. Selera terhadap sebuah buku tidak otomatis menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang. Dua orang bisa membaca buku yang sama dan mendapatkan pengalaman maupun pemaknaan yang sangat berbeda. Ketidaksukaan terhadap suatu bacaan pun tidak harus disertai dengan merendahkan orang yang menikmatinya.

  2. 2. Membahas kualitas, bukan membuat hierarki pembaca

    Berdiskusi tentang buku.
    ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/cottonbro studio)

    Ada perbedaan antara mengatakan sebuah buku memiliki kualitas yang kurang baik dan menganggap orang yang membacanya memiliki selera yang lebih rendah. Karya memang dapat dianalisis berdasarkan gaya bahasa, struktur cerita, kedalaman karakter, gagasan, atau aspek lainnya. Diskusi semacam ini merupakan bagian dari kritik sastra dan apresiasi terhadap karya.

    Masalah muncul ketika penilaian tersebut kemudian digunakan untuk menciptakan hierarki antarpembaca. Orang yang membaca karya klasik dianggap lebih intelektual, sedangkan pembaca novel populer dianggap kurang serius. Padahal, seseorang bisa memiliki selera bacaan yang luas dan menikmati berbagai jenis buku tanpa harus menjadikan salah satunya sebagai simbol status.

  3. 3. Memberikan kritik dengan argumen, bukan sekadar ejekan

    Berdiskusi tentang buku.
    ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Uriel Lu)

    Perbedaan pendapat menjadi lebih bermakna ketika disertai alasan. Jika seseorang mengatakan sebuah buku tidak disukainya karena dialognya terasa tidak natural atau konfliknya kurang berkembang, pembaca lain dapat memahami dasar penilaiannya. Mereka juga bebas memiliki pendapat berbeda berdasarkan pengalaman membaca masing-masing.

    Sebaliknya, ejekan seperti "selera bacaanmu jelek" tidak memberikan banyak ruang untuk berdiskusi. Pernyataan tersebut lebih berfungsi sebagai penghakiman daripada kritik. Tidak semua ketidaksukaan harus dijelaskan secara akademis, tetapi ketika ingin mengkritik sebuah karya atau selera orang lain, membedakan argumen dari ejekan dapat menjaga percakapan tetap sehat.

  4. 4. Tidak menganggap semua orang harus membaca buku yang sama

    Berdiskusi tentang buku.
    ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Seseorang tidak harus membaca karya tertentu hanya karena buku tersebut dianggap penting oleh orang lain. Ada pembaca yang menyukai sastra klasik, ada yang lebih menikmati fantasi, sementara lainnya mungkin baru mulai membaca melalui novel populer. Perbedaan tersebut merupakan bagian wajar dari perjalanan setiap pembaca.

    Merekomendasikan bacaan tentu berbeda dengan memaksa orang mengikuti standar tertentu. Kalimat seperti "kalau mau serius membaca, coba baca buku ini" dapat menjadi dorongan ketika disampaikan sebagai rekomendasi. Namun, jika digunakan untuk menyiratkan bahwa orang yang belum membacanya tidak cukup pintar atau berwawasan, percakapan tersebut mulai bergerak ke arah bookshaming.

  5. 5. Memberi ruang bagi selera yang berbeda

    Berdiskusi tentang buku.
    ilustrasi berdiskusi tentang buku (pexels.com/Guillermo Berlin)

    Kritik yang sehat memungkinkan orang mengatakan, "Saya tidak suka buku ini," tanpa mengharuskan pembaca lain memiliki pendapat yang sama. Begitu pula, seseorang dapat menyukai sebuah buku tanpa harus menganggapnya sebagai karya terbaik yang pernah dibuat. Selera dan penilaian terhadap kualitas karya tidak selalu berjalan beriringan.

    Karena itu, perbedaan selera tidak perlu selalu diselesaikan dengan menentukan siapa yang memiliki pilihan bacaan lebih "tinggi". Membaca adalah pengalaman yang personal, sementara kritik memberikan ruang untuk mendiskusikan karya secara lebih mendalam. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama yang dibahas tetap karya dan gagasannya, bukan harga diri orang yang membacanya.

    Kritik terhadap bacaan tentu sah, tetapi tidak semua selera harus diperlakukan seperti perlombaan. Selama bisa membedakan antara membahas sebuah karya dan merendahkan orang yang membacanya, diskusi literasi pun bisa tetap kritis tanpa berubah menjadi bookshaming.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More