Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
​5 Beban Sandwich Generation yang Jarang Dibahas, Bukan Cuma Soal Uang
ilustrasi sandwich generation (pexels.com/ Tima Miroshnichenko)
  • Sandwich generation menghadapi tekanan nonfinansial karena harus mendukung anak dan orangtua sekaligus, sehingga lebih rentan kewalahan secara emosional akibat banyaknya peran.
  • Beban yang kerap tersembunyi meliputi kesiagaan mental terus-menerus, rasa bersalah dari dua arah, serta hilangnya waktu istirahat, hobi, dan kebutuhan pribadi.
  • Tanggung jawab keluarga dapat menghambat fleksibilitas karier dan menyulitkan penetapan batas; pembagian peran serta meminta bantuan diperlukan agar beban tidak bertumpu pada satu orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi bagian dari sandwich generation sering kali dikaitkan dengan persoalan finansial. Ada kebutuhan anak yang harus dipenuhi, orangtua yang mungkin membutuhkan bantuan, sementara kebutuhan rumah tangga sendiri tetap berjalan seperti biasa. Padahal, tekanan yang muncul gak selalu bisa dihitung dari jumlah uang yang keluar setiap bulan.

Istilah sandwich generation sendiri merujuk pada orang dewasa yang berada di tengah tuntutan untuk merawat atau mendukung generasi yang lebih muda sekaligus generasi yang lebih tua. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kelompok ini juga lebih rentan mengalami kesulitan emosional dan merasa kewalahan dengan banyaknya peran yang harus dijalankan. Di balik rutinitas tersebut, ada beberapa beban lain yang sering luput dibicarakan. Berikut lima di antaranya.

1. Beban mental karena harus selalu siaga

ilustrasi beban mental (pexels.com/ Pavel Danilyuk)

Ketika kebutuhan anak dan orangtua datang bersamaan, pikiran bisa terus berada dalam mode siaga. Ada jadwal sekolah anak, kondisi kesehatan orangtua, pekerjaan, urusan rumah, sampai berbagai keputusan kecil yang harus dibuat setiap hari. Bahkan ketika sedang gak melakukan apa-apa, seseorang tetap bisa memikirkan apa yang harus dibereskan berikutnya.

Kondisi seperti ini berkaitan dengan caregiver role overload, yaitu perasaan bahwa tuntutan sebagai pengasuh sudah melebihi kemampuan atau sumber daya yang dimiliki. Penelitian pada sandwich generation juga menemukan tingkat role overload yang lebih tinggi dibandingkan caregiver yang hanya merawat orangtua.

2. Rasa bersalah yang datang dari dua arah

ilustrasi merasa bersalah (pexels.com/ Helena Lopes)

Sandwich generation bisa merasa bersalah karena menganggap dirinya kurang hadir untuk anak, tetapi di waktu yang sama juga merasa belum cukup banyak membantu orangtua. Masalahnya, kedua kebutuhan tersebut sama-sama punya alasan yang kuat sehingga memilih salah satunya bukan perkara sederhana.

Rasa bersalah ini bisa membuat seseorang sulit merasa puas dengan apa yang sudah dilakukan. Waktu bersama anak terasa kurang, perhatian kepada orangtua terasa belum maksimal, sementara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga tetap membutuhkan ruang.

3. Kehilangan waktu untuk diri sendiri

ilustrasi kehilangan waktu untuk diri sendiri (pexels.com/ Annushka Ahuja)

Ketika sebagian besar waktu dipakai untuk mengurus kebutuhan orang lain, waktu pribadi sering menjadi bagian pertama yang dikorbankan. Istirahat, bertemu teman, menjalani hobi, atau sekadar punya waktu tanpa tanggung jawab tertentu bisa dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda.

Padahal, terus-menerus mengesampingkan kebutuhan pribadi dapat membuat seseorang semakin kelelahan. Beban caregiver juga gak hanya berkaitan dengan tugas merawat, tetapi dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan dan kesehatan psikologis orang yang menjalankannya.

4. Karier yang harus ikut menyesuaikan

ilustrasi bekerja dan mengasuh anak (pexels.com/ Gustavo Fring)

Tuntutan keluarga juga bisa masuk ke ranah pekerjaan. Ada orang yang perlu menolak lembur, mengurangi jam kerja, melewatkan kesempatan tertentu, atau memilih pekerjaan yang lebih fleksibel karena harus tetap punya waktu untuk mengurus keluarga.

Situasinya bisa terasa semakin berat ketika tanggung jawab tersebut harus dijalankan bersamaan dengan pekerjaan. Di satu sisi, mereka tetap perlu menjaga penghasilan dan karier, tetapi di sisi lain ada kebutuhan keluarga yang gak bisa begitu saja ditinggalkan. Kondisi ini membuat banyak orang harus terus mencari cara untuk membagi waktu dan tenaga di antara pekerjaan dan tanggung jawab di rumah.

5. Sulit menentukan batas dengan keluarga

ilustrasi sulit menentukan batasan (pexels.com/ Kampus Production)

Kedekatan keluarga kadang membuat batas antara membantu dan mengambil alih menjadi kabur. Permintaan bantuan yang awalnya sesekali bisa berubah menjadi tanggung jawab rutin, terutama ketika keluarga sudah terbiasa mengandalkan satu orang.

Di sisi lain, mengatakan "aku gak bisa" kepada orangtua atau anak bisa memunculkan rasa bersalah. Akhirnya, seseorang mungkin terus mengambil tanggung jawab tambahan meskipun dirinya sendiri sudah kelelahan. Pola pengasuhan lintas generasi memang dapat membawa tekanan yang kompleks karena kebutuhan setiap anggota keluarga berbeda.

Sandwich generation bukan sekadar tentang siapa yang membayar tagihan lebih banyak. Ada tuntutan yang berlangsung diam-diam dan sering dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan keluarga, padahal dampaknya bisa terasa dalam cara seseorang bekerja, beristirahat, mengambil keputusan, hingga menjalani hubungan dengan orang-orang terdekat.

Karena itu, membicarakan kondisi ini secara terbuka penting supaya tanggung jawab keluarga gak otomatis bertumpu pada satu orang. Meminta bantuan, membagi peran, dan mengakui bahwa diri sendiri juga punya batas bukan berarti mengabaikan keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article