Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Beda Joke Tongkrongan dan Joke di Media Sosial, Kenapa Bisa Jadi Masalah?

5 min read
Beda Joke Tongkrongan dan Joke di Media Sosial, Kenapa Bisa Jadi Masalah?
ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Keira Burton)
Share Article

Pernah gak kamu lagi nongkrong bareng teman, lalu seseorang melontarkan jokes yang sebenarnya receh banget, tetapi satu meja langsung tertawa? Tidak perlu penjelasan panjang. Semua orang tahu siapa yang sedang disindir, tahu cerita di baliknya, bahkan tahu bahwa kalimat yang terdengar kasar sebenarnya cuma candaan karena sudah ada kedekatan dan konteks yang dipahami bersama.

Masalahnya muncul ketika jokes yang sama dibawa ke media sosial. Kalimat yang tadinya hanya ditujukan kepada lima teman bisa dibaca oleh banyak orang, bahkan orang yang sama sekali tidak tahu cerita di baliknya. Di sinilah sebuah candaan yang terasa aman di tongkrongan bisa berubah menjadi salah paham atau bahkan menyerang seseorang.

  1. 1. Di tongkrongan, orang punya konteks yang sama

    ilustrasi bercanda dengan teman-teman (freepik.com/odua)
    ilustrasi bercanda dengan teman-teman (freepik.com/odua)

    Bayangkan sebuah tongkrongan yang sudah berteman bertahun-tahun. Mereka tahu siapa yang paling sering terlambat, siapa yang pernah gagal PDKT, siapa yang selalu salah pesan makanan, dan siapa yang punya kebiasaan aneh. Ketika satu orang menjadi bahan candaan, orang lain memahami bahwa jokes tersebut muncul dari sejarah hubungan yang sudah mereka bangun bersama.

    Kondisi seperti itu membuat komunikasi terasa jauh lebih mudah. Nada suara, ekspresi wajah, tawa setelah kalimat tertentu, bahkan cerita yang terjadi beberapa menit sebelumnya ikut membantu orang memahami maksud sebuah candaan. Jadi, ketika seseorang berkata, "Wah, paling rajin nih," semua orang bisa tahu apakah itu pujian sungguhan atau sindiran bercanda.

    Masalahnya, media sosial menghilangkan banyak petunjuk tersebut. Penelitian mengenai komunikasi digital menyebut fenomena ini sebagai "context collapse", ketika berbagai konteks sosial dan kelompok audiens bertemu dalam satu ruang.

    "Istilah context collapse diperkenalkan dalam studi media oleh Marwick dan Boyd (2011) melalui penelitian mengenai komunikasi di Twitter; istilah ini didefinisikan sebagai proses di mana teknologi media sosial 'meleburkan beragam konteks sosial menjadi satu'. Dalam fenomena runtuhnya konteks ini, individu-individu yang berasal dari konteks sosial yang biasanya terpisah dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari jejaring sosial daring, tempat mereka 'harus berhadapan dengan kelompok orang yang biasanya tidak mereka pertemukan, seperti kenalan, teman, rekan kerja, dan keluarga'," jelas Jannis Androutsopoulos, profesor linguistik di University of Hamburg dalam penelitiannya berjudul Languaging when contexts collapse: Audience design in social networking dikutip dari ScienceDirect.

  2. 2. Jokes di media sosial bisa dibaca orang yang tidak punya 'cerita utuhnya'

    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)
    ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

    Salah satu alasan jokes di media sosial gampang bermasalah adalah karena orang yang membaca tidak selalu mengetahui 'episode sebelumnya'. Mereka hanya melihat satu kalimat, satu foto, satu meme, atau satu video yang muncul di layar. Sementara orang yang membuatnya mungkin merasa konteksnya sudah sangat jelas.

    Misalnya, kamu mengunggah foto teman yang sedang makan dengan caption, "Akhirnya ada juga yang traktir." Bagi teman-teman dekat, semua tahu itu adalah candaan karena sebenarnya teman tersebut memang sedang mentraktir setelah kalah taruhan kecil. Tetapi bagi orang lain, unggahan tersebut bisa terlihat seperti sindiran terhadap teman yang pelit atau bahkan sedang mempermalukannya.

  3. 3. Kalimat yang lucu bagi teman bisa terasa menyerang bagi orang lain

    ilustrasi bercanda (pexels.com/ELEVATE)
    ilustrasi bercanda (pexels.com/ELEVATE)

    Ada perbedaan besar antara "teman saya tahu saya sedang bercanda" dan "semua orang yang melihat postingan saya tahu saya sedang bercanda". Sayangnya, media sosial sering membuat kita lupa bahwa dua kalimat tersebut tidak memiliki arti yang sama.

    Ketika bercanda langsung, kita masih bisa melihat respons lawan bicara. Kalau teman mendadak diam, wajahnya berubah, atau terlihat tidak nyaman, kita dapat berhenti dan mengatakan, "Eh, bercanda."

    Di internet, situasinya bisa berbeda. Sebuah postingan bisa dibaca tanpa ekspresi wajah, tanpa intonasi suara, dan tanpa kesempatan untuk langsung menjelaskan konteksnya. John Suler, PhD, profesor psikologi di Rider University dan peneliti psikologi dunia maya, membahas fenomena online disinhibition effect.

    "Online disinhibition effect, yaitu kecenderungan orang berperilaku atau mengungkapkan sesuatu secara berbeda ketika berada di lingkungan daring," jelas Suler dalam artikelnya The online disinhibition effect dikutip dari Wiley Online Library.

  4. 4. "Cuma bercanda" tidak selalu menghapus dampaknya

    Ilustrasi bercanda dengan anggota keluarga di rumah (freepik.com/gpointstudio)
    Ilustrasi bercanda dengan anggota keluarga di rumah (freepik.com/gpointstudio)

    Dalam sebuah tongkrongan, ketika candaan mulai kelewatan, biasanya ada mekanisme sosial yang langsung bekerja. Seseorang bisa menegur, teman lain mengalihkan pembicaraan, atau orang yang menjadi sasaran mengatakan bahwa jokes tersebut sudah tidak lucu. Setelah itu, situasinya bisa selesai dalam beberapa menit.

    Di media sosial, jejaknya bisa jauh lebih panjang. Screenshot dapat disimpan, postingan dapat dibagikan ulang, dan orang yang tidak mengetahui konteks awal dapat memberikan penilaian sendiri. Bahkan ketika pembuatnya sudah menghapus unggahan, orang lain mungkin sudah menyimpannya.

    Yang perlu dipahami di sini, bukan berarti semua jokes di media sosial harus dibuat kaku. Humor tetap boleh dan memang menjadi bagian penting dari interaksi digital. Namun, kalimat "kan cuma bercanda" sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya pembelaan ketika orang lain sudah menjelaskan bahwa dirinya merasa dirugikan atau dipermalukan.

  5. 5. Sebelum posting, coba bedakan "teman yang tahu cerita" dan "publik yang tidak tahu apa-apa"

    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Keira Burton)
    ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Keira Burton)

    Bayangkan kamu baru saja selesai nongkrong. Ada satu kejadian lucu yang membuat satu meja tertawa. Kamu pulang, membuka media sosial, lalu berpikir, "Ini kalau diposting pasti lucu." Di titik itu, sebenarnya ada satu langkah kecil yang bisa dilakukan: bayangkan siapa saja yang mungkin melihatnya.

    Apakah candaan itu aman jika dibaca teman dekat? Bagaimana kalau dibaca orang yang menjadi objek candaan? Bagaimana jika dibaca orangtuanya, bosnya, dosen, pasangan, atau seseorang yang tidak mengetahui konteksnya sama sekali? Kalau jawabannya mulai membuat ragu, mungkin candaan tersebut memang lebih cocok tinggal di tongkrongan.

    "Kombinasi antara polisemi yang melekat pada humor ironis dan lingkungan digital baru yang melepaskan konteks asli (decontextualized) menciptakan potensi lebih besar terjadinya salah tafsir, sehingga mengubah interaksi yang semula jenaka menjadi alat pemisah antarkelompok," dikutip dari studi Ironic humor on social media as participatory boundary work dalam SAGE Journals.

    Jadi, bukan berarti kita harus kehilangan selera humor ketika masuk media sosial. Justru kita perlu lebih pintar memilih mana candaan yang memang membutuhkan konteks dan mana yang aman dikonsumsi publik. Karena di tongkrongan, kita berbicara kepada orang-orang yang sudah mengenal ceritanya; sedangkan di media sosial, kita sering berbicara kepada audiens yang bahkan tidak tahu bab pertamanya.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More