Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ikut Tren Lari karena FOMO? Ini Beda Motivasi Diri dan Tekanan Sosial

5 min read
Ikut Tren Lari karena FOMO? Ini Beda Motivasi Diri dan Tekanan Sosial
Ilustrasi tren olahraga lari (pexels.com/CRISTIAN CAMILO ESTRADA)
  • Tren lari populer di kalangan muda karena kesadaran kesehatan pascapandemi, akses yang mudah, biaya relatif rendah, komunitas beragam, serta gaya hidup dan perlengkapan yang menarik.
  • FOMO muncul ketika unggahan media sosial, pencapaian teman, klub, dan acara lari membuat seseorang merasa harus ikut agar tidak tertinggal atau dikucilkan.
  • Motivasi diri berfokus pada kesehatan, tujuan pribadi, dan kemampuan tubuh; tekanan sosial berpusat pada validasi serta pencapaian orang lain. Mulailah sesuai kemampuan dan evaluasi perasaan setelah berlari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tren lari semakin populer di kalangan anak muda, mulai dari ikut fun run hingga membagikan pencapaian lari dari aplikasi Strava di media sosial. Melihat tren gaya hidup sehat ini, siapa yang gak tertarik mencoba hal yang sama?

Tapi sebelum ikut tren, coba introspeksi dulu, apakah keinginan lari benar-benar dari dari sendiri atau sekadar takut tertinggal tren alias fear of missing out (FOMO)? Gak ada yang salah dengan mencoba hobi baru, namun penting untuk mengenali perbedaan antara motivasi diri dan tekanan sosial agar olahraga tetap menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan tuntutan untuk mengikuti standar orang lain. Lantas, apa bedanya motivasi diri dan tekanan saat memutuskan ikut tren?

  1. 1. Mengapa lari semakin populer di kalangan anak muda?

    Ilustrasi tren olahraga lari
    Ilustrasi tren olahraga lari (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Banyak orang, terutama kalangan muda, milenial dan gen Z mulai memperhatikan kesehatan sejak pandemik COVID-19. Lari menjadi hobi olahraga yang meningkat pesat. Gak hanya secara teknis, pilihan perlengkapan lari yang modis dan klub lari yang kekinian, hingga gaya hidup setelah lari seperti nongkrong di coffee shop setelah berlari, jadi hal yang ingin dilihat orang lain. Namun, ada lebih dari sekadar penampilan.

    Lari juga menawarkan pilihan yang lebih mudah diakses bagi generasi muda saat menghadapi krisis biaya hidup. Selain itu, hambatan untuk memulai jauh lebih rendah daripada mulai menekuni olahraga lain. Beberapa alasan itulah yang mungkin menjadi alasan mengapa lari semakin populer di kalangan muda.

    "Pandemik berperan besar pada meningkatnya gaya hidup sehat seperti lari. Sebelum pandemik, kita bersosialisasi melalui pekerjaan. Tapi setelahnya, banyak koneksi yang hilang dan perlu diganti. Orang-orang ingin bersama dalam komunitas yang mereka sukai dan lari memiliki banyak komunitas yang beragam," kata Hugh Brasher, Direktur Acara London Marathon, dikutip dari The Guardian.

    Hal itu terutama berlaku untuk gen Z yang terkena dampak lebih parah daripada generasi lainnya. Generasi ini juga minum alkohol jauh lebih sedikit daripada generasi sebelumnya dan lebih sadar akan kesehatan mental. Brasher mengungkapkan, lari lebih baik daripada minum pil untuk membantu mengatasi depresi.

  2. 2. Apa itu FOMO dalam tren lari?

    Ilustrasi tren olahraga lari
    Ilustrasi tren olahraga lari (pexels.com/Pexels LATAM)

    Seperti yang kita ketahui, fear of missing out (FOMO) adalah perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dinikmati orang lain. Dalam konteks lari, FOMO bisa muncul ketika kamu merasa harus ikut berlari karena teman-teman melakukannya, khawatir dianggap kurang aktif, atau ingin menjadi bagian dari tren yang sedang populer.

    Salah satu pemicu FOMO termasuk platform seperti Instagram, TikTok, dan Strava terus-menerus membanjiri unggahan dengan medali peserta lomba lari, rute lari, dan statistik kecepatan, membuat kamu yang tidak berpartisipasi merasa tertinggal. Setelah itu, lari juga telah bergeser dari olahraga individual menjadi identitas sosial bersama yang menandakan gaya hidup modern, produktif, dan sadar kesehatan.

    Meskipun lari awalnya merupakan aktivitas yang mudah diakses dan berbiaya rendah, olahraga ini telah mengadopsi budaya bergengsi yang melibatkan perlengkapan bermerek, smartwatch, dan acara komunitas eksklusif. FOMO lari juga dapat dipicu oleh pergaulan dan lingkungan sosial sekitar. Melihat teman-teman mendaftar maraton atau bergabung dengan klub lari lokal menciptakan tekanan sosial tersirat untuk ikut serta agar kamu tidak merasa dikucilkan.

  3. 3. Perbedaan motivasi diri Vs. tekanan sosial dalam konteks tren lari di kalangan anak muda

    Ilustrasi tren olahraga lari
    Ilustrasi tren olahraga lari (pexels.com/Egor Komarov)

    Motivasi adalah kekuatan pendorong di balik mengapa kamu mengambil tindakan menuju tujuan pribadi. Motivasi inilah yang mendorongmu melewati tantangan, dalam konteks lari, misalnya kamu punya tujuan agar badan sehat, atau ingin meraih penghargaan, maupun kepuasan internal dari aktivitas itu sendiri.

    "Apa yang menginspirasi kita untuk mengejar tujuan dan mengatasi rintangan? Motivasi adalah kekuatan psikologis yang menjelaskan mengapa seseorang melakukan sesuatu. Ini adalah kekuatan pendorong di balik tindakan manusia," kata Kendra Cherry, MSEd, Spesialis Rehabilitasi Psikososial, dikutip dari Verywell Mind.

    Sementara itu, tekanan sosial merupakan pengaruh yang kamu rasakan dari orang lain dalam lingkungan sosialmu untuk bertindak, berpikir, atau berperilaku dengan cara tertentu. Jika dikaitkan dengan konteks ini, kamu ikut tren olahraga lari karena lingkungan yang mendorongmu dan cenderung melihat pencapaian orang lain, bukan keinginan pribadi.

    Berikut perbedaan motivasi diri Vs. tekanan sosial dalam konteks tren lari, jika dijabarkan melalui contoh:

    • Alasan berlari
      Motivasi: kesehatan dan tujuan pribadi
      Tekanan sosial: takut tertinggal tren
    • Fokus
      Motivasi: progres diri sendiri
      Tekanan sosial: pencapaian orang lain
    • Perasaan saat tidak berlari
      Motivasi: bisa menerima waktu istirahat
      Tekanan sosial: gelisah atau merasa bersalah
    • Mengunggah di media sosial
      Motivasi: sebagai dokumentasi atau berbagi
      Tekanan sosial: membutuhkan validasi
    • Menentukan intensitas
      Motivasi: sesuai kemampuan tubuh
      Tekanan sosial: mengikuti orang lain
    • Keberlanjutan
      Motivasi: tetap bermakna secara pribadi
      Tekanan sosial: bisa memudar saat tren berubah

    Dari contoh di atas, kamu bisa mengidentifikasi tujuanmu mengikuti tren lari. Contoh tersebut juga menekankan kalau motivasi tidak selalu hitam-putih. Kamu bisa mulai berlari karena FOMO, lalu menemukan manfaat dan kesenangan pribadi seiring waktu.

  4. 4. Tips menikmati tren lari tanpa tertekan oleh FOMO

    Ilustrasi tren olahraga lari
    Ilustrasi tren olahraga lari (pexels.com/Hugo Polo)

    Di bawah ini ada tips praktis agar kamu tetap bisa mengikuti tren tanpa mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

    1. Tentukan alasan pribadi sebelum mulai. Tanyakan kepada diri sendiri apa yang ingin kamu dapatkan dari berlari.
    2. Mulai sesuai kemampuan. Tidak perlu langsung mengejar jarak jauh atau kecepatan tinggi hanya karena orang lain sudah terbiasa berlari.
    3. Batasi perbandingan di media sosial. Ingat bahwa unggahan orang lain tidak selalu menunjukkan keseluruhan prosesnya.
    4. Bergabung dengan komunitas yang suportif. Pilih lingkungan yang menghargai proses dan keselamatan, bukan hanya kecepatan atau pencapaian.
    5. Berikan ruang untuk beristirahat. Istirahat merupakan bagian dari latihan, bukan tanda kegagalan.
    6. Evaluasi perasaan setelah berlari. Apakah kamu merasa lebih segar dan puas, atau justru semakin cemas karena terus membandingkan diri?

    FOMO tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. Melihat teman-teman berlari bisa menjadi pemicu awal untuk mencoba olahraga yang bermanfaat, loh!

    Sebagai penutup, mengikuti tren lari bukanlah masalah selama aktivitas tersebut tetap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanmu. Yang perlu diwaspadai, saat keinginan untuk hidup sehat berubah menjadi tuntutan untuk selalu mengikuti orang lain.

    Tujuan olahraga seharusnya membantu kamu merasa lebih baik, bukan membuatmu merasa tertinggal. Kalau kamu yang mana? Apakah ikut tren lari karena motivasi atau tekanan sosial?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More