ilustrasi seorang wanita yang mengalami kecemasan (pexels.com/https://kaboompics.com/)
Memulihkan diri dari betrayal trauma membutuhkan waktu. Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk kembali merasa aman setelah mengalami pengkhianatan. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu proses pemulihan.
Pertama, akui perasaan yang muncul tanpa menyalahkan diri sendiri. Kamu tidak harus langsung memaafkan seseorang atau berpura-pura baik-baik saja setelah disakiti. Berikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan sedih, marah, kecewa, atau bingung. Cobalah menuliskan apa yang kamu rasakan agar lebih mudah memahami kebutuhan emosionalmu.
Kedua, bangun kembali batasan yang sehat. Jika seseorang berulang kali melanggar kepercayaanmu, kamu berhak menentukan batasan untuk melindungi diri. Bentuknya bisa berupa membatasi komunikasi, tidak lagi membagikan informasi pribadi, atau mengambil jarak dari hubungan yang merugikan. Jika terdapat ancaman atau kekerasan, utamakan keselamatan dan cari dukungan dari orang yang dapat dipercaya.
Ketiga, jangan memaksakan diri untuk langsung percaya kepada orang lain. Memulihkan kepercayaan tidak berarti kamu harus segera membuka diri kepada siapa pun. Mulailah secara bertahap dengan memperhatikan konsistensi perilaku, kejujuran, dan penghormatan terhadap batasan pribadi. Belajar mempercayai orang lain juga perlu diimbangi dengan kemampuan mengenali hubungan yang sehat.
Disakiti oleh orang yang dipercaya memang bisa mengubah cara seseorang memandang hubungan dan dunia di sekitarnya. Pengalaman tersebut bahkan dapat membuat seseorang mempertanyakan penilaiannya sendiri atau takut membuka hati kembali. Namun, pengkhianatan yang kamu alami tidak menentukan nilai dirimu dan tidak berarti semua hubungan di masa depan akan berakhir dengan cara yang sama.
Jika kamu sedang berusaha pulih dari pengalaman tersebut, tidak apa-apa untuk melangkah perlahan. Kamu berhak mengambil waktu untuk memahami perasaan, menetapkan batasan, dan mencari dukungan ketika membutuhkannya.