Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Usia 30 Bukan Deadline Nikah, 5 Hal Ini Lebih Penting Dipersiapkan!

5 min read
Usia 30 Bukan Deadline Nikah, 5 Hal Ini Lebih Penting Dipersiapkan!
Cuplikan drama Can This Love be Translated? (Netflix.com/Can This Love be Translated?)
  • Usia 30 bukan patokan tunggal untuk menikah; kesiapan lebih terkait pemahaman diri, nilai hidup, kebutuhan emosional, serta gambaran kehidupan bersama pasangan.

  • Kemampuan mengelola emosi, menghadapi konflik secara sehat, menetapkan batasan, dan mengkomunikasikan kebutuhan diperlukan agar hubungan jangka panjang tidak dipenuhi saling menyalahkan atau menebak.

  • Kemandirian finansial dan support system di luar hubungan romantis perlu dibangun melalui perencanaan keuangan, komunikasi rencana bersama pasangan, serta menjaga relasi keluarga, teman, dan koneksi sosial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pukul delapan malam, kamu baru saja sampai di rumah setelah seharian bekerja. Sambil beristirahat di sofa, kamu membuka media sosial dan melihat teman-teman mulai mengunggah foto lamaran, pernikahan, hingga momen bersama anak mereka. Kamu ikut senang melihatnya, tetapi diam-diam muncul pertanyaan, "Kapan giliranku?" Pertanyaan serupa mungkin terdengar saat acara keluarga, ketika obrolan santai tiba-tiba berujung pada pertanyaan tentang pasangan dan rencana menikah.

Memasuki usia 30 tahun memang bisa membawa banyak pertimbangan. Ada keinginan membangun hubungan yang lebih serius, tapi ada pula karier yang ingin dikembangkan, tabungan yang perlu dikumpulkan, dan kehidupan pribadi yang masih ingin ditata. Di tengah semua itu, melihat orang lain menikah terkadang membuat perjalanan hidup sendiri terasa lebih lambat. Padahal, usia bukan satu-satunya penentu kesiapan seseorang untuk menikah. 

  1. 1. Mengenali diri sendiri dan kehidupan yang ingin dibangun

    fullsizephoto1818148.jpg
    Cuplikan drama Lovely Runner (tvn.com/Lovely Runner)

    Ada kalanya kamu begitu sibuk mencari pasangan sampai lupa bertanya kepada diri sendiri tentang kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalani. Kamu mungkin sudah memiliki kriteria pasangan, mulai dari pekerjaan, kepribadian, hingga latar belakang keluarga. Namun, apakah kamu sudah memahami kebutuhan emosional, prinsip hidup, dan hal-hal yang tidak bisa ditoleransi dalam sebuah hubungan?

    Mengenali diri sendiri membantumu memahami nilai hidup, kebutuhan emosional, serta hal-hal yang penting dalam sebuah hubungan. Kamu juga bisa mulai mengevaluasi pengalaman hubungan sebelumnya untuk mengetahui pola yang ingin dipertahankan atau diperbaiki.

    “Mengenal diri sendiri dengan baik, termasuk kerentanan yang memengaruhi ketertarikan kita, penting untuk menghindari hubungan yang berpotensi bermasalah," tulis Dan Pollets, Ph.D., psikolog klinis dalam Psychology Today.

  2. 2. Belajar mengelola emosi dan menghadapi konflik

    largephoto2169981.jpg
    Cuplikan drama Can This Love be Translated? (Netflix.com/Can This Love be Translated?)

    Ada kalanya kamu merasa kesal karena pasangan terlambat membalas pesan, membatalkan janji, atau melakukan sesuatu yang gak sesuai harapan. Dalam situasi seperti itu, kamu mungkin ingin langsung meluapkan kemarahan atau memilih diam sampai pasangan menyadari kesalahannya sendiri.

    Namun, hubungan jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk menghadapi perbedaan tanpa terus saling menyalahkan. Mengelola emosi berarti belajar mengenali perasaan, menyampaikan ketidaknyamanan dengan jelas, serta memberi ruang bagi pasangan untuk menjelaskan sudut pandangnya.

    “Tidak ada cara untuk menghindari konflik dalam sebuah hubungan, tetapi ada cara yang sehat untuk mengungkapkan perasaan yang kuat, tanpa menyalahkan atau mempermalukan pasangan sekaligus tetap menghormati sudut pandangnya," tulis Dan Pollets.

  3. 3. Membangun kemandiran finansial, bukan cuma mengumpulkan uang untuk menikah

    largephoto2140308.jpg
    Cuplikan drama Pro Bono (Netflix.com/Pro Bono)

    Pernah gak kamu mengecek saldo rekening setelah gajian, lalu menyadari uang yang tersisa ternyata gak sebanyak perkiraan? Sebagian sudah dialokasikan untuk membayar kos, transportasi, cicilan, makan, hingga membantu keluarga. Belum lagi pengeluaran mendadak yang bisa muncul kapan saja. Dalam situasi seperti ini, memikirkan biaya pernikahan dan kebutuhan hidup setelahnya tentu bisa menambah tekanan.

    Riset Chunlan Guo dan rekan-rekannya berjudul 'When the Economy Breaks Down, Do Marriages Follow? Crisis Type and Family Dissolution across 83 Countries (1990–2019)' yang diterbitkan dalam jurnal Applied Research in Quality of Life pada 2026, meneliti hubungan krisis ekonomi dan angka perceraian. Peneliti menjelaskan bahwa ketidakstabilan pendapatan, ketidakamanan pekerjaan, dan tekanan finansial dapat memperburuk ketegangan dalam rumah tangga.

    Karena itu, sebelum menikah, kamu bisa mulai membangun kemandirian finansial dengan memahami kondisi keuangan sendiri. Catat pemasukan dan pengeluaran, sisihkan uang untuk tabungan, bangun dana darurat, serta pertimbangkan kemampuanmu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

  4. 4. Memahami batasan dan berani mengomunikasikan kebutuhan

    largephoto2138699.jpg
    Cuplikan drama Can This Love be Translated? (Netflix.com/Can This Love be Translated?)

    Kamu mungkin pernah mengiyakan permintaan orang lain meskipun sebenarnya sedang kelelahan. Alasannya sederhana, kamu gak enak menolak atau takut dianggap egois. Kebiasaan ini bisa terbawa ke hubungan romantis, terutama ketika kamu merasa harus selalu memenuhi keinginan pasangan agar hubungan tetap harmonis.

    "Jika kamu tidak memahami batasan diri sebelum menikah, kamu akan kesulitan mempertahankan otonomi mental dan emosional dasar setelah hidup bersama dalam satu atap," tulis April Eldemire LMFT, terapis keluarga dan pernikahan dalam tulisannya di Psychology Today.

    Belajar menetapkan batasan membantumu memahami hal-hal yang bisa diterima dan yang perlu dibicarakan bersama pasangan. Kamu juga perlu belajar menyampaikan kebutuhan secara jelas, bukan berharap pasangan selalu memahami keinginanmu tanpa diberi tahu. Dengan komunikasi yang terbuka, kedua belah pihak bisa saling memahami tanpa harus terus menebak-nebak.

  5. 5. Membangun support system di luar hubungan romantis

    fullsizephoto1820680.jpg
    Cuplikan drama Lovely Runner (tvn.com/Lovely Runner)

    Sepulang bekerja, kamu mungkin ingin menceritakan kejadian yang membuat hari terasa berat. Ada rekan kerja yang menyulitkan, pekerjaan yang menumpuk, atau keputusan yang membuatmu bingung. Namun, pasangan juga memiliki kesibukan dan persoalan yang perlu dihadapi. Dalam situasi seperti ini, keberadaan teman, saudara, atau orang terdekat yang bisa diajak berbagi cerita, dapat membantumu melewati masa sulit tanpa harus selalu bergantung pada satu orang.

    Psikoterapis Matt Wotton, MBA, dan Graham Johnston, MBA, menjelaskan bahwa hubungan romantis sebaiknya gak menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan dukungan seseorang. Mereka menekankan pentingnya menjaga persahabatan, hubungan keluarga, serta koneksi sosial di luar hubungan romantis.

    "Memiliki support system di luar hubungan romantis bukan berarti kamu kurang mencintai pasangan. Justru, kamu dan pasangan bisa tetap tumbuh sebagai individu, memiliki ruang untuk diri sendiri, sekaligus membawa pengalaman baru yang memperkaya hubungan," tulis mereka dalam ⁠Psychology Today.

    Pada akhirnya, memasuki usia 30 tahun tanpa pasangan mungkin memunculkan banyak pertanyaan, terutama ketika lingkungan sekitar seolah memiliki gambaran yang sama tentang kapan seseorang seharusnya menikah. Namun, jangan jadikan ini alasan untuk mengejar ekspektasi orang lain untuk segera menikah.

    Masa sebelum menikah bisa kamu gunakan untuk mengenali diri sendiri, menata keuangan, belajar mengelola emosi, membangun komunikasi yang sehat, dan merawat hubungan sosial. Hal-hal tersebut mungkin gak terlihat semeriah foto lamaran atau pesta pernikahan di media sosial. Namun, semuanya bisa menjadi bagian penting dari kehidupan yang sedang kamu persiapkan.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More