Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Bolehkah Tidak Berdoa setelah Salat?

ilustrasi berdoa (unsplash.com/Masjid MABA)
1. Doa setelah salat memiliki hukum sunah, bukan kewajiban
ilustrasi berdoa (unsplash.com/Imad Alassiry)
Banyak orang terbiasa mengangkat tangan setiap selesai salat karena sudah menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga atau masjid. Padahal, dalam fikih mayoritas ulama menjelaskan bahwa doa setelah salat hukumnya sunah, sehingga tidak melakukannya tidak membuat salat menjadi kurang sah. Artinya, seseorang tetap dianggap telah menunaikan salat dengan sempurna meskipun langsung berdzikir atau bahkan langsung beraktivitas.
Pemahaman ini penting karena sering muncul rasa tidak enak ketika terburu-buru lalu tidak sempat berdoa setelah salam. Misalnya saat salat di kantor ketika waktu istirahat terbatas, seseorang boleh saja langsung kembali bekerja setelah membaca dzikir pendek. Yang perlu diingat, doa tetap dianjurkan karena termasuk amalan baik, tetapi tidak perlu diposisikan seolah-olah menjadi bagian wajib dari rangkaian salat.
2. Doa paling utama justru dibaca sebelum salam dalam salat
ilustrasi salat (unsplash.com/Aldrin Rachman Pradana)
Banyak orang tidak menyadari bahwa waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa sebenarnya berada di dalam salat itu sendiri. Pada posisi sujud dan sebelum salam di tahiyat akhir, seseorang justru memiliki kesempatan besar untuk menyampaikan permohonan secara langsung. Dalam berbagai riwayat, momen tersebut disebut sebagai waktu yang sangat dekat antara hamba dan Tuhan.
Karena itu, doa tidak selalu harus dilakukan setelah salam dengan mengangkat tangan. Contoh sederhana, seseorang bisa memanjatkan doa singkat saat sujud terakhir, seperti memohon kemudahan pekerjaan atau ketenangan keluarga. Kebiasaan ini sering terlewat karena banyak orang fokus pada doa setelah salat, padahal justru bagian dalam salat memiliki nilai yang lebih utama.
3. Dzikir setelah salat menjadi amalan yang lebih ditekankan
ilustrasi dzikir (unsplash.com/Indra Projects)
Setelah selesai salat, yang paling sering dicontohkan dalam hadis adalah membaca dzikir seperti tasbih, tahmid, dan takbir. Nabi Muhammad SAW dikenal rutin membaca dzikir tertentu setiap selesai salat fardu. Inilah sebabnya banyak ulama menempatkan dzikir sebagai amalan utama setelah salam.
Doa tetap boleh dilakukan setelahnya, tetapi biasanya menjadi pelengkap setelah dzikir selesai. Misalnya seseorang membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, lalu takbir 34 kali, baru kemudian berdoa. Urutan seperti ini sering dianggap lebih sesuai dengan kebiasaan yang diajarkan dalam banyak riwayat.
4. Mengangkat tangan saat berdoa setelah salat bukan keharusan
ilustrasi berdoa (unsplash.com/Masjid MABA)
Di banyak masjid, berdoa setelah salat identik dengan mengangkat kedua tangan. Padahal, tindakan mengangkat tangan dalam doa tidak selalu dilakukan setiap selesai salat oleh Nabi. Ada riwayat yang menunjukkan beliau melakukannya pada waktu tertentu, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan rutin setelah setiap salat fardu.
Karena itu, seseorang tetap boleh berdoa tanpa mengangkat tangan, bahkan cukup berdoa dalam hati. Contohnya ketika berada di tempat umum atau kondisi yang tidak memungkinkan, doa tetap sah meskipun tanpa gerakan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa yang utama terletak pada isi doa, bukan pada bentuknya.
5. Doa berjamaah setelah salat memiliki perbedaan pendapat ulama
ilustrasi berdoa (unsplash.com/Dibakar Roy)
Kebiasaan imam memimpin doa bersama setelah salat cukup umum di berbagai daerah. Sebagian ulama memperbolehkan praktik ini selama tidak diyakini sebagai kewajiban dan tidak dianggap bagian tetap dari salat. Namun ada juga pendapat yang menilai doa berjamaah sebaiknya tidak dijadikan rutinitas tetap.
Perbedaan pandangan tersebut membuat praktiknya beragam di setiap masjid. Ada yang selalu memimpin doa bersama, ada pula yang langsung berdzikir masing-masing. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menyesuaikan dengan kebiasaan tempat salatnya tanpa perlu memandang pilihan lain sebagai sesuatu yang keliru.
Pada akhirnya, doa setelah salat merupakan amalan sunah yang baik dilakukan, tetapi tidak menjadi keharusan yang menentukan sah atau tidaknya ibadah. Memahami ini membantu menjalani ibadah dengan lebih tenang tanpa rasa tertekan oleh kebiasaan yang berbeda di sekitar. Bukankah yang paling penting justru menjaga kekhusyukan dan konsistensi salat itu sendiri?
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us