Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bookparty, Cara Baru Membaca yang Mengubah Buku Jadi Ajang Diskusi
Salah satu dokumentasi pertemuan Bookparty oleh komunitas tpibookparty di Tugu Sirih, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (instagram @tpibookparty)
  • Bookparty mengubah membaca dari aktivitas personal menjadi pengalaman sosial melalui sesi baca bersama dan diskusi di taman, perpustakaan, atau kedai kopi.
  • Di tengah skor literasi membaca Indonesia pada PISA 2022 sebesar 359, bookparty menjadi ruang sukarela, terbuka, dan inklusif yang melengkapi pendidikan formal.
  • Diskusi bookparty memotivasi peserta memahami bacaan dan bertukar perspektif, tetapi komunitas perlu menjaga konsistensi, keberagaman buku, serta suasana aman untuk berpendapat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca selama ini identik dengan aktivitas yang tenang, personal, dan dilakukan secara individual. Seseorang menghabiskan waktu bersama sebuah buku untuk memperoleh pengetahuan, hiburan, atau refleksi diri. Namun, perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan pada cara masyarakat memaknai kegiatan membaca. Kini, membaca tidak lagi selalu menjadi aktivitas yang dilakukan sendirian. Kehadiran komunitas membaca atau bookparty menunjukkan bahwa membaca juga dapat menjadi pengalaman sosial yang mempertemukan berbagai gagasan, perspektif, dan pengalaman.

Fenomena Bookparty sebagai opsi baru merayakan literasi

ilustrasi baca buku bersama teman (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Fenomena bookparty semakin mudah dijumpai di berbagai kota-kota di Indonesia. Sekelompok orang berkumpul di taman, perpustakaan, atau kedai kopi untuk membaca buku secara bersama-sama, kemudian mendiskusikan isi bacaan yang telah mereka pilih. Terkadang untuk memeriahkan suasana, beberapa komunitas menggunakan semacam gimmick seperti tukaran buku bacaan, bedah buku, atau dipadukan dengan kegiatan lainnya seperti membuat bookmark dengan lukisan . Kegiatan ini tidak hanya memperlihatkan meningkatnya minat masyarakat terhadap buku, tetapi juga mencerminkan munculnya bentuk baru gerakan literasi yang tumbuh dari inisiatif komunitas.

Perubahan ini menjadi penting jika dikaitkan dengan kondisi literasi di Indonesia akhir akhir ini. Misalnya dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).  Pada tahun 2022, skor literasi membaca siswa Indonesia hanya mencapai 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara OECD sebesar 476 poin, sehingga menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik Indonesia berada di bawah rata-rata negara anggota OECD. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan literasi tidak dapat hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Dalam konteks inilah bookparty hadir sebagai ruang belajar yang bersifat sukarela, terbuka, dan inklusif.

Poin poin alasan kenapa mengikuti Bookparty

ilustrasi mahasiswa sedang belajar, baca buku (pexels.com/Yan Krukau)

Poin positif dari mengikuti kegiatan di komunitas bookparty adalah salah satunya mengubah membaca menjadi pengalaman yang lebih bermakna. Ketika seseorang mengetahui bahwa buku yang sedang dibaca akan menjadi bahan diskusi bersama, ia cenderung memiliki motivasi lebih besar untuk menyelesaikan bacaan dan memahami isinya. Diskusi yang berlangsung setelah sesi membaca juga memungkinkan setiap peserta melihat sebuah buku dari sudut pandang yang berbeda. Satu karya yang sama dapat melahirkan beragam interpretasi, sehingga proses membaca tidak berhenti pada memahami isi buku, melainkan berkembang menjadi dialog yang memperkaya wawasan.

Lebih dari sekadar kegiatan membaca bersama, bookparty juga membangun budaya saling belajar memahami dan berbagi pengalaman ketika membaca suatu buku. Setiap peserta memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi sumber pembelajaran ketika mereka bertukar pendapat secara terbuka dan saling menghargai. Dengan demikian, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca teks, tetapi juga sebagai kemampuan memahami, mengkritisi, dan mengomunikasikan gagasan kepada orang lain.

Tantangan perkembangan Bookparty di masa mendatang

ilustrasi baca buku dengan hewan peliharaan (pexels.com/www.kaboompics.com)

Meski demikian, perkembangan bookparty juga menghadapi sejumlah tantangan. Komunitas perlu menjaga konsistensi kegiatan agar tidak berhenti sebagai tren sesaat. Selain itu, pemilihan bacaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada buku-buku yang sedang populer di media sosial, tetapi juga membuka ruang bagi karya sastra, buku ilmiah, maupun tulisan yang memperkaya perspektif pembaca. Bookparty juga perlu memastikan bahwa setiap peserta merasa nyaman menyampaikan pendapat tanpa takut dihakimi, sehingga diskusi tetap inklusif dan mendorong pertukaran gagasan yang sehat.

Pada akhirnya, bookparty menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak selalu harus lahir dari lembaga pendidikan atau program pemerintah. Inisiatif masyarakat untuk menciptakan ruang membaca bersama mampu menghadirkan cara baru dalam membangun budaya literasi. Di era digital, ketika perhatian masyarakat sering terpecah oleh arus informasi yang begitu cepat, bookparty menawarkan alternatif yang mengajak orang untuk melambat, membaca secara lebih mendalam, dan berdialog dengan sesama. Dari aktivitas yang dahulu bersifat individual, membaca kini berkembang menjadi pengalaman kolektif yang memperkuat pengetahuan, membangun jejaring, dan menumbuhkan budaya berpikir kritis di tengah masyarakat.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article