Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan Bookthrifting yang Bikin Kamu Cepat Bosan Membaca
ilustrasi bookthrifting (unsplash.com/Shiromani Kant)
  • Bookthrifting menawarkan sensasi penemuan cepat, sementara membaca membutuhkan fokus lebih lama; ekspektasi cerita harus menarik sejak awal dapat mengurangi kesabaran pada buku yang berkembang perlahan.

  • Godaan membaca buku yang baru ditemukan dan membeli demi tampilan rak, membuat banyak judul terbengkalai, karena perhatian bergeser dari isi serta penyelesaian satu bacaan.

  • Menganggap buku tak tamat sebagai kegagalan atau membeli buku baru saat jenuh dapat membuat membaca terasa seperti kewajiban; jeda dan memilih membaca karena ingin dapat membantu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu bisa betah satu jam mengubek-ubek kardus buku bekas, tetapi belum tentu sanggup bertahan setengah jam membaca salah satunya. Fenomena ini cukup lucu karena kegiatannya sama-sama berhubungan dengan buku, tetapi kesenangan yang didapat ternyata berbeda.

Bookthrifting memberi kejutan terus-menerus, sedangkan membaca meminta perhatian pada satu hal untuk waktu yang lebih lama. Tanpa sadar, beberapa kebiasaan saat berburu buku justru bisa membuat bagian membaca terasa kalah menarik.

1. Setiap buku harus punya cerita menarik sejak halaman pertama

ilustrasi membaca (unsplash.com/Clay Banks)

Buku bekas sering dibeli berdasarkan kesan singkat misal judulnya unik, sinopsisnya menggelitik, atau beberapa halaman awal terasa menjanjikan. Kebiasaan menilai buku dengan cara seperti itu bisa terbawa ketika mulai membaca koleksi sendiri. Begitu cerita belum menarik setelah beberapa halaman, tangan rasanya ingin mengambil buku lain dari rak.

Padahal, banyak bacaan baru terasa nikmat setelah pembaca mengenal tokoh, gaya penulis, atau persoalan yang sedang dibangun. Novel dengan pembukaan pelan belum tentu membosankan, sama seperti cerita yang langsung seru belum tentu memuaskan sampai akhir. Terlalu sering mencari “hook” sejak halaman pertama membuatmu kehilangan kesabaran terhadap buku yang membutuhkan waktu untuk berkembang.

2. Selalu ingin membaca buku yang baru saja ditemukan

ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Nathan Aguirre)

Sensasi menemukan judul menarik bisa mengalahkan buku yang sedang berada di tangan. Buku yang baru dibeli terasa lebih menggoda karena masih menyimpan rasa penasaran, sedangkan bacaan lama sudah tidak lagi menawarkan kejutan. Akibatnya, setiap sesi berburu buku menghasilkan alasan baru untuk meninggalkan bacaan yang belum selesai.

Kebiasaan ini membuat proses membaca tidak pernah benar-benar punya garis akhir. Satu novel baru setengah jalan, lalu ada judul lain yang ingin dicoba; judul kedua belum selesai, muncul lagi buku ketiga yang terasa lebih cocok dengan suasana hati. Lama-kelamaan, masalahnya bukan kekurangan buku bagus, melainkan terlalu sering mengganti bacaan sebelum sempat masuk jauh ke dalam satu cerita.

3. Kamu lebih sibuk menyusun rak daripada mencari bacaan

ilustrasi rak buku (unsplash.com/Kamil Kalkan)

Keinginan punya rak buku dengan karakter tertentu sebenarnya wajar, apalagi kalau bookthrifting membuatmu menemukan banyak sampul lama yang cantik atau edisi yang sudah jarang beredar. Namun, pilihan mulai bergeser ketika kamu mengambil buku karena merasa buku tersebut akan membuat koleksi terlihat lebih menarik. Isi buku akhirnya menjadi pertimbangan belakangan, sementara warna sampul, ukuran, penerbit, atau kesan “bagus kalau dipajang” justru lebih dulu masuk hitungan.

Kebiasaan ini bisa membuat rak terlihat semakin sesuai selera kamu, tetapi belum tentu membuat kamu semakin ingin membaca. Ada buku yang sudah berminggu-minggu berada di sana tanpa pernah dibuka karena sejak awal kamu memang tidak terlalu penasaran dengan isinya. Lama-lama, kamu mungkin lebih hafal buku mana yang paling bagus dilihat ketimbang isi buku itu sendiri.

4. Menganggap buku yang belum selesai sebagai kegagalan

ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak semua buku harus ditamatkan hanya karena sudah dibeli. Ada novel yang ternyata tidak cocok, ada buku nonfiksi yang pembahasannya terlalu berat untuk kondisi tertentu, dan ada pula bacaan yang bagus tetapi memang tidak sedang ingin kamu lanjutkan. Memaksa semuanya selesai justru bisa membuat waktu membaca terasa seperti kewajiban.

Kebiasaan mengejar penyelesaian juga membuatmu sulit pindah buku tanpa merasa bersalah. Setiap kali mengambil judul baru, ada suara kecil yang mengingatkan pada buku sebelumnya yang belum selesai. Akhirnya, rak penuh buku, tetapi kegiatan membaca terasa seperti daftar pekerjaan yang terus menunggu dicentang.

5. Berburu buku untuk mengatasi bosan membaca

ilustrasi bookthrifting (pexels.com/Sami TÜRK)

Bagian paling ironis bisa muncul ketika rasa bosan membaca justru diatasi dengan membeli buku baru. Kamu merasa perlu mencari sesuatu yang lebih seru, lebih pendek, lebih aneh, atau lebih sesuai dengan suasana hati, lalu berharap judul berikutnya akan mengembalikan kegembiraan membaca. Untuk sementara mungkin berhasil, tetapi setelah beberapa halaman, rasa jenuh kembali muncul.

Masalahnya bisa jadi bukan karena belum menemukan buku yang tepat. Pikiran yang sedang penuh, rutinitas yang melelahkan, atau terlalu sering mengonsumsi bacaan dalam waktu singkat juga bisa membuat seseorang ingin berhenti sejenak. Berhenti mencari buku untuk sementara bukan berarti berhenti menyukai buku; terkadang minat membaca justru kembali setelah kamu tidak terus memaksanya muncul.

Bookthrifting tetap bisa menjadi hobi yang menyenangkan tanpa harus selalu menghasilkan bacaan baru. Kunjungan ke toko buku bekas boleh berakhir dengan tangan kosong, begitu pula buku di rak tidak semuanya harus segera ditamatkan. Ketika kegiatan membaca kembali dilakukan karena ingin, bukan karena merasa harus memanfaatkan setiap buku yang sudah dibeli, rasa bosan biasanya tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dilawan setiap kali membuka halaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article